Sempat melihat dan share tentang poster untuk menolak pembangunan bandara didaerah yogyakarta. Sebetulnya kebijakan pembangunan itu berorientasi kemana?? Mencoba flash back ke belakang tentang "djogja ora didol" menentang pembangunan hotel dan apartment yg sedang banyak di bangun di jogja. Hal ini membuat saya sabagai anak jogja merasa mahal sekali beli tanah di jogja. Masak yo beli apartment kayak di jakarta, saya isih jawa e yg rumah itu ya lemah (tanah). Ini sih keluhan saya saja atau ya mungkin generasi muda jogja beberapa.
Tapi ketika pertimbangan membangun bandara lalu menghilangkan lahan pertanian dengan dalih membuka lapangan pekerjaan. Menurutku bagaimana nasib mereka yg diambil lapangan pekerjaannya, dan apa mereka dari pertanian lalu bisa nyupir pesawat/atau parkir pesawat?? Mungkin latihannya kayak angon bebek yaa kalau markirin pesawat. Jadi men power nya dah siap untuk dibukakan bandara sekala International.
Mungkin juga ibu-ibu petani juga sudah biasa memetik buah, ani-ani (motong padi) , jadi sudah terlatih untuk menyobek tiket pesawat. Sedang para pemudi-pemudanya yang terbiasa napeni (memilih padi) jadi sudah terlatih untuk ngasih pengarahan sebelum pesawat take off. Perhitungannya sudah sangat tepat dilihat dari men powernya untuk di alih fungsi dari tani ke Industry perhubungan. Karena sudah terbiasa angon (mengembala) jadi mempunyai pengalaman untuk menerima wisatawan baik asing, maupun dalam negeri. Komunikasinya sangat lancar dan membuat para wisatawan sangat bisa nyaman dan teratur.
Untuk yang lebih besar lagi, jogja itu untuk sekarang ini lebih toleran pada intolerance. Membuat masyarakatnya nyaman, melihat orang pakai hot pant, nenteng beer, atau jenis pakaian barat yang sedikit terbuka di bagian kaki. Juga masyarakatnya itu memegang teguh budayanya, saking dipegangnya hingga pembangunan sebegitu besar dan massive nya pemimpin nya gak tahu.
Pertanian itu lahan pekerjaan atau bukan sih??
Jika yogyakarta seperti kota wisata lainnya yg dikenal dunia? Siapa pemilik hotel dan restoran yang ada?? Siapa yang akan memiliki hunian-hunian mewah di tempat wisata?? Jika dipinggir pantainya dibangun hotel berbintang apakah masyarakat localnya masih bisa gelar tikar dan camping disana?? Dan juga ketika sumber daya manusianya belum siap, apa yang akan dilakukan Industry wisata ?? Apakah tenaga kerja terlatih dari luar, sehingga yang tak terlatih terpinggirkan ?? Atau pemerintah akan berdalih kekurangan tenaga kerja terlatih sehingga mengambil dari luar?? Membuka lapangan kerja siapa, dimana, untuk siapa ?? wisatawan ke jogja ingin tahu budaya, alam, keindahan dan keramah-tamahan masyarakatnya. Atau ingin berpesta, hura-hura, merubah budaya, dan menjadikan tempat buang penat sesukanya.
Kita yang menyesuaikan dengan wisatawan atau wisatawan yang mencoba belajar tentang kita (jogja). Aku menulis ini karena, aku sangat masih percaya jogja itu juga istimewa orang-orangnya (masyarakatnya)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar