Minggu, 21 Agustus 2016

perjalaanan ke 3

Perjalanan 3

Kantor kecamatan berada di pinggir jalan, dan rumah pak camat juga Cuma di belakang kantor tersebut. Kami disambut pak camat dengan pakaian PNS nya lengkap bersama jajaran nya, saling bersalaman dan berbincang hangat. Pak camat mengijinkan kami untuk menempati salah satu gedung kosong yang baru saja selesai di bangun, berasa gedung itu untuk kami padahal katanya untuk kantor lembaga desa yang baru di bentuk. Kami menempati kantor itu bebenah mengelar tikar dan menurunkan kelengkapan kami bawa. Di depan pos tempat kami tinggal adalah sekolah, namun sayangnya tidak kebagian jatah untuk mensurvei sekolah. Tapi ada beberapa keluarga yang tinggal di sekitaran kantor kecamatan, jadi yaa gak papalah bagi-bagi jatah sama yang lain. Sekolah depan pos cukup lumayan terawat dan tertata, kusempatkan berfoto di bawah plang sekolah tersebut. Biar ada kenang-kenangan kalau sedang di sumba, dan juga ada plang nya membuatku mengingat tempat ini dengan baik.
Kami mendapat sambutan hangat dari bapak camat ngga ha, kami diundang untuk makan malam di rumahnya. Seperti biasa yang keluar petama kali adalah sirih dan pinang, lalu kucoba sekali lagi untuk kembali memakannya. Dan wow ternyata sensasinya sama namun rasanya berbeda, kata pak camat “hey toh jawa, jangan lupa kapurnya biar merah ludah nya”. Hahaha… aku jadi tahu kenapa disetiap depan rumah dan mungkin pojokan rumah ada merah-merah ternyata dari makanan ini. Selesai menikmati makan malam dan sirih pinang serta merokok ngopi bersama keluarga pak camat kami pamit. Untuk beristirahat guna besok akan kembali bekerja, mengisi form kuisioner ke penduduk dan sekolah-sekolah.
Pagi menjelang Susana ramai depan sekolahan, banyak murid berdatangan dengan mengunakan sepeda motor atau sepeda, banyak yang berjalan kaki. Kami menyewa beberapa sepeda montor dari penduduk dan kantor kecamatan, yang tentunya special modifikasi karena medan yang kami tempuh bukan lagi aspal namun jalan berbatu kapur. Aku menuju ke daerah sekitar kecamatan dulu, disamping agak jauh dari kantor kecamatan. Keluarga yang tinggal di rumah itu menyambut di depan rumah sepertinya info kedatangan kami cukup cepat menyebar. Satu keluarga menyambut kami, dengan sirih pinang kami memulai pembicaran, sekarang duet ku bersama pak Gordon,bapak tim yang paling ganteng dan kebapakan sekali. Bapak memulai pembicaran dengan tuan rumah menanyakan anggota keluarga yang lain, sambil bercanda dan berbincang hangat. Ketika aku mulai mengeluarkan rokok dan menawarkan ke tuan rumah, beberapa pemuda berdatangan seolah ingin tahu siapa yang datang. Dan ternyata mereka juga anggota keluarga, dan mengambil rokok yang sudah aku taruh juga di bale tempat aku duduk. Setelah mengisi beberapa kuisioner rokok pun habis, dan ibu pemilik rumah masuk kedalam. Katanya biar bapak sajalah yang melanjutkan bapak juga tahu (suami)kata ibu itu. Eh ternyata kenapa dia kedalam hanya untuk memasak dan menyiapkan makan siang buat kami. Memang menyenangkan kalau berduet dengan bapak ini, papa Gordon yang pandai merayu siapa pun.
Perut kami penuh dengan makananan, karena mereka merasa tersinggung jika makanan yang sudah di suguhkan tidak dimakan atau dihabiskan. Dan untung saja semua kuisioner itu terisi karena memang semua daftarnya ada disekitar kecamantan. Aku dan pak Gordon lalu pulang ke pos tempat kami tinggal, di sana ada ulfa yang sedang mengetik dan mengisi laporan. Lalu kami mengambil beberapa kuisioner lanjutan untuk melanjutkan perkerjaan. Saat ini targetnya desa sebelah yang mungkin tidak jauh dari kecamatan, namun ternyata tempatnya cukup jauh. Hanya sampai disana sudah cukup sore, namun kami hanya bisa mengisi satu kuisioner keluarga. Sekalian bertanya tentang tempat-tempat yang akan kami tuju besok yang katanya tidak jauh dari sekolah dasar yang akan kami tuju juga. Keluarga itu menunjuk bukit dibelakang rumahnya yang cukup jauh kalau kami melihatnya. Aku dan pak Gordon bertatap mata sambil bilang besok aja lagi, gak cukup waktu buat kesana. Persolaan disini dekat dan jauh memang cukup relative, bagi kami mungkin itu sungguh jauh bagi mereka sangat dekat bahkan di bilang tetangga hanya belakang rumah. Bekalang rumah yang perlu 30 menitan sampai  menit kalau jalan nya sangat buruk.
Kami memilih kembali ke pondokan pos kami yang ada di kecamatan sambil beristirahat dan menyiapkan beberapa perbekalan termasuk repe (rokok) untuk menambah keakraban waktu kami bertamu dan bertanya banyak hal. Beli rokok local aja yang tentunya juga pabriknya dari kudus, rokok dng angka 535 bungkus putih yang mungkin hanya di pasarkan di daerah itu. Karena dari laporan pandangan mata sewaktu survei, banyak bapak dan pemuda setempat merokok rokok tersebut dan harganya selisih lumayan. Maklum anak perantauan yang harus banyak berhemat demi keamanan dan kemasalahatan skirpsi di akhir episode.
Pagi menjelang waktunya bangun dan  bersiap, mandi seperlunya karena air sangatlah mahal di tempat itu, sebetulnya kami tidaklah membeli air namun ya sebagai tamu tahu diri kalau air susah di tempat itu. Bapak Gordon, Muhammad, kak rony, dan aku bersiap untuk menuju tempat itu ya bang jo tentunya bersama gadis pujaannya yang didekat-dekat saja. Karena kemarin dia menempuh perjalanan dan petualangan yang lain juga. Kami berempat berangakat menuju tempat yang kami sudah rencanakan. kita saling berboncengan karena kendaraan Cuma ada dua, sebagai anak bungsu laki-laki wajib menjaga bapak tim hehehe… maka aku berboncengan dengan pak Gordon. Jalan berliku, tebing, tanah cadas kapur dan berjalan menyusuri puncak bukit kami lalui. Hingga sempat kehilangan arah dan kepanasan sejenak berhenti untuk memakan jagung rebus yang telah di siapkan pak Gordon, kerena itulah dia disebut bapaknya anak-anak. Dia selalu menyiapkan perbekalan jikalau lapar, sebetulnya persiapan sendiri karena rombongan jadi dia menyiapkan lebih. Kan aneh dia makan sendiri sementara yang lain melongo kayak kebo di padang sabana hehehe. Bukit sekolah telah terlihat lebih dekat, kami sampai disekolah sewaktu istirahat pertama. Benar adanya jika sekolah itu tepat di bawah bukit yang kami lihat, ruang kelasnya cukup lumayan baik namun lantainya telah berlubang disana sini. Atapnya pun begitu, terakhir sekitar 5 th yang lalu baru ada yang memperbaiki temboknya dan memangun toilet untuk siswa. Yaa toilet yang di bangun pun gak berfungsi karena memang air sangat mahal disana. Sementara pak Gordon menanyai kepala sekolah aku berbincang dengan guru yang ada disana, serasa penilik sekolah aku diantar guru keliling ke kelas-kelas.

 Ada yang sedikit menganggu penglihatanku diantara kelas dan murid-murid yang ada, selain jirigen yang banyak di belakang kelas karena murid yang membawa untuk diisi air bersih. Adalah pakaian mereka yang tampak lusuh namun sepatu mereka tampak masih bagus, sebuah pemandangan yang aneh menurutku dengan medan yang aku lalui tentunya sepatu mereka akan cepat rusak. Sempat aku bertanya pada guru yang mengantarku keliling kenapa bisa begitu, karena mereka menggunakannya hanya saat berada disekolah jawab guru itu. Sepatu barang yang mahal dan langka, membelinya harus ke kota, dan ini juga kenang-kenangan dari NGO yang memperbaiki sekolah ini dan membangun penampungan air didepan sekolah ini. Mereka menjaga nya agar tetap bisa digunakan untuk sekolah, beberapa anak bahkan hanya membawa buku satu karena tas nya sayang untuk digunakan takut rusak. Benar adanya setelah bapak selesai menanyai pak kepala sekolah, kak mad dan kak rony datang. Lalu kepala sekolah memanggil muridnya untuk mengantarkan kami menuju rumahnya. Di temani seorang guru yang ditugaskan untuk menemani kami sewaktu perjalanan pulang nanti. Sekolah ini lumayan tertib karena sebagian besar gurunya adalah masyarakat setempat lulusan SMU yang menjadi guru dan berjuang demi desanya supaya mereka bisa baca tulis.
Kami segera berangkat menuju kampung sebelah tempat noel tinggal, noel adalah murid yang di tugaskan pak kelapa sekolah untuk mengantar kami menuju kampung nya. Noel anak kecil kelas 5 sd ini membawa jirigen isi air bersih yang sudah di isinya di penampungan air sekolah untuk di bawa pulang. Dan benar apa yang dikatakan guru tadi, noel melepas sepatunya menalikan satusama lain lalu dikalungkan ke lehernya supaya tidak repot membawa jirigen. Buku ditaruh disaku belakang mirip anak-anak STM/ SMU di jogja yang biar dibilang gaul dan keren. Namun noel berbaju putih dan celana merah ini bukan karena gaul atau keren, namun daripada menambah beban ketika dia harus membawa dua jirigen dan tas di pundaknya. Lebih baik dia tidak membawa tas dan cukup satu buku disaku belakangnya.
Sekolah belum usai sebenarnya waktu itu, namun noel diminta pak kepala sekolah untuk mengantar kami. Dengan bangga dia melangkah riang pulang sekolah lebih awal dengan semangat riang nya entah apa yang akan dilakukan sesampainya dirumah. Kami berenam berjalan menuju tempat noel yang tidak bisa ditembus dengan menggunakan kendaraan sepeda motor sekalipun, karena memang belum ada jalan. Jikalau pun ada harus memutar jauh melewati desa lain yang tentunya memakan waktu lebih lama. Noel dengan langkah nya yang pasti walaupun tanpa alas kaki dan juga membawa dua jirigen air bersih, langkah kakinya lebih cepat dan seolah tidak membawa beban apapun. Hahaha… kami yang dewasa sudah sangat susah payah, jangan kan untuk mendahului menyamai langkahnya saja kami tidak sanggup. Sambil menyanyikan lagu ninja hatori mencoba menyemangati diri, tanpa sungai mengalir indah kesamudera yang ada di bait lagu itu. Pemandangan padang sabana yang indah dan perbukitan cadas tanpa ada pelangi air yang  terlihat.
Setelah bersusah payah untuk menyusul noel akhirnya kami sampai didepan kampung dan noel sedang asik ngobrol dengan bapak tua yang duduk di bawah pohon semacam beringin besar. Disana kami kaget dan hampir tak percaya ada pohon besar rindang namun kenapa ada orang tua yang duduk disana menunggui. Kami mendekat dan menyapa umbu (panggilan untuk laki-laki), yang ternyata di bawah pohon besar itu terdapat kolam air kecil yang mungkin besarnya 2-3 meteran, airnya keruh yang di bawah karena untuk mencuci dan keperluan lainnya. Melihat kami kelelahan dan pastinya kehausan maka sang bapak menawarkan air untuk diminum, air bersih dan segar yang berasal dari akar pohon beringin yang tembus ke bawah. “silahkan minum dulu, sebelum masuk kampung toh jawa gak biasa jalan jauh ya” hahaha… bapak ini juga ada yang dari timor tapi juga kecapean sambil melirik kea rah pak Gordon dan bang rony. Hahaha
Lalu kami bergantian meminum air itu ada penampungan kecil, cerukan yang memang untuk menampung tetesan air dari akar itu. Dalam menggunakan air itu kepala desa sudah mengaturnya setiap keluarga di jatah beberapa kali boleh ambil air disitu, biar tidak berebut karena sumber airnya Cuma satu. Kami sangat berterimakasih ke bapak tua itu yang ternyata sedang menunggui gilirannya untuk mengambil air ditempat itu untuk keluarganya. Menunggu air penuh di cerukan penampungan lalu dikit demi sedikit dimasukan ke dalam jerigen dengan mangkuk besi kecil yang ada disana. Kami beranjak menuju kampung atau desa tepat noel tinggal yang tinggal hanya satu tanejakan dari pohon beringin besar itu. Disambut dengan rumah beratap rumbia dan beberapa kubur batu di samping rumah kami seolah orang aneh yang dilihat oleh penduduk kampung. Berkumpul dan berbondong-bondong keluar rumah berasa alien dari planet mana entah datang berkunjung.
di cerukan ini, air bersih dan akar yang meneteskan airnya
memakai mangkuk seng untuk minum
Noel mengantarkan kami ke rumah bapak kepala desa yang ternyata adalah kakeknya, kami menyapa dan disambut hangat oleh bapak kepala desa. Ramai depan rumah bapak kepala desa ini karena di penuhi warga yang ingin tahu siapa yang datang dan mau apa. Pak Gordon dan bang roni memulai perbincangan dengan mengutarakan maksud kedatangan kami. Pak guru juga menjelaskan tetang prihal kedatangan kami untuk mensurvei, lalu berbincang hangat sebentar dan kami meminta ijin untuk menanyai warga yang sudah ada dalam daftar yang kami bawa. Berfikir karena waktu kami tidak banyak maka kami berempat berpencar untuk menyelesaikan tugas kuisioner. Setelah bertanya tentang beberapa orang yang sudah ada di daftar, pak kepala desa ini meminta anaknya untuk menunjukan tempat mereka. Sebagai anak paling muda ternyata aku dapat tempat yang paling jauh diujung dan diatas bukit desa itu. Desa itu udah di bukit tempat yang kudatangi diatas bukit lagi, mau pura-pura pingsan juga tengsin sama anak-anak muda setempat yang meliahat kami.


Lalu aku bergegas kekeluarga yang diatas bukit,dari kejauhan terlihat pria paruh baya pulang bergegas kerumah dan menuju rumah itu. Mungkin sudah ada yang memberi tahu kalau rumahnya mau kedatangan tamu. Sesampai depan rumah aku disambut umbu onde kepala rumah tangga, sang ibu mendampinginya. Sirih pinang aku makan lalu aku membuka perbincangan tetang pertanyaan kuisioner, sebungkus rokok aku keluarkan. Aku tawarkan untuk membuat suasana lebih hangat dan akrab, sebuah teknik besosialisasi yang mungkin masih sangat efektif didesa-desa. Ibu onde menemani sang suami menjawab pertanyaan tiba giliran pertanyaan sang untuk sang istri, pak onde menjawab dia tidak bisa Bahasa Indonesia. Dulu sekolah jauh di kecamatan sehingga hanya anak laki-laki yang mungkin berani sekolah sampai kesana. Itupun menginap disana dan pulang seminggu sekali, sekarang sekolah sudah dekat hanya disana, anak-anak bisa sekolah. Dekat ?????? dalam hati aku bertanya mempertanyakan arti dekat sebenernya kayak apa…, aku membutuhkan 3 jam untuk berjalan kesini. Jauh dan mendaki itu di bilang dekat, tp kalau ke kecamatan di bilang jauh dan sekolah menginap yaw ajar sih. Dua orang gadis kecil datang dengan tampilan tak jauh dari noel. Berkalung sepatu dan membawa jirigen, namun salah satu membawa tas di punggungnya. Kakak beradik ini tadi juga bertemu disekolahan, tersenyum malu melihatku sedang ngobrol dengan bapaknya. Waktu cukup cepat berlalu aku memberikan bingkisan kenang-kenangan kain kecil yang memang sudah di bawakan oleh kantor. Umbu onde meminta ku untuk menunggu sebentar tapi aku tergesa mengingat waktu yang harus aku gunakan seefisien mungkin. Karena gak mungkin untuk menginap di tempat ini, kami harus berpindah tempat besok di kecamatan yang lainya. Aku berpamitan dan turun menuruni bukit batu, dan terdengar triakan umbu onde memanggil sambil berlari mendekat. Sedikit panic mendengar triakan nya dan melihatnya menenteng seekor ayam gemuk hidup. Apakah aku berbuat kesalahan atau ada omongan yang menyakitkan hati sehingga membuat umbu onde berteriak-triak memanggilku dan menengteng ayam.
Aku menunggu di bawah sambil was-was jikalau aku berbuat salah aku kan meminta maaf baik-baik dan semoga diijinkan untuk pulang. Ternyata umbu onde hanya ingin memberikan kenang-kenangan, seekor ayam untuk di bawa pulang dan di masak di basecamp. Aku berusaha menolaknya, melihat rumah gubuk beratap rumbia dan anak-anak yang manis tadi sepertinya mereka lebih berhak menikmati daging ayam yang lezat. Aku merasa hanya memberikan kenang-kenangan kain batik itupun mungkin hanya sebesar taplak meja. Namun ada saudara umbu onde datang mendekati aku dan pak onde, ini adalah pemberian yang harus di terima dan di bawa pulang. Jangan ditolak nanti umbu onde dan keluarga merasa terhina dan sedih karena pemberiannya ditolak. Dengan terpaksa aku terima ayam itu, lalu berterimakasih sekali ke umbu, dengan senyum aku memeluknya. Seakan saudara jauh yang lama tak bertemu dan di berikan bekal untuk berangkat kembali keperantauan.
Sambil menenteng ayam hidup aku kembali ke rumah pak kepala desa umbu deta, umbu deta duduk bersama pak Gordon sambil menikmati secangkir kopi depan teras rumahnya. Dan tertawa bersama semacam baru melihat toh jawa bingung bawa ayam hidup. Lalu aku ikut duduk sambil bercerita tentang bagaimana aku bisa mendapat ayam ini. Bapak deta tersenyum dan menjelaskan prihal pemberian harus diterima agar tuan rumah juga senang. Lalu kami mengobrol dan lebih tepatnya mendegarkan bapak deta bercerita. Pak kepala desa ini walaupun sudah berumur namun semangatnya masih sangat muda. Dia mempunya 11 orang istri, namun 3 orang sudah meninggal dan jumlah anak yang tak terhitung berapa. Cucu dan cicitnya tentunya lebih banyak, termasuk umbu onde yang ada di puncak bukit adalah anaknya. Rumah kepala desa ini memang terpisah dan special berada di ujung desa, sempat bertanya tentang kotak yang tergantung diatas pohon samping rumah pak kades. Umbu deta menjawab, kotak itu digunakan untuk mayat menunggu waktunya kubur batu. Mayat diikat dan di gantung didalam kotak itu lalu nanti akan mongering dan menjadi mummy. Memang terlihat menyeramkan pohon samping rumah umbu deta ini. Pohon ini mirip dengan pohon yang ada ditrunyan bali. Pohon besar seperti beringin yang menyebarkan wangi dan membuat mayat tak berbau.
Setelah beberapa lama berbincang hangat dengan pak kepala desa, kami meminta foto bersama dengan beliau untuk sebuah kenangan yang hangat dan ramah. Yang pastinya akan menjadi cerita terbaik yang harus di bagikan ke anak cucu dan juga para pemuda Indonesia. Wuuiih sokk belajar bijak…

berfoto didepan rumah, masih beratap seng mungkin sekarang sudah rumbia, 


Tapi memang benar adanya, umbu deta pun berpesan kalau bisa sampaikan ke pusat (jawa) jika Indonesia itu luas dan indah. Kami menghabiskan kopi yang menjadi suguhan dan juga sirih pinang, karena udah mulai biasa mulut dan lidahnya. Wah sudah nyirih pinang dengan nyaman, harusnya tinggal lah disini barang sehari lagi. Masih banyak cerita yang ingin beliau sampaikan, namun waktu sudah menjelang sore. Kata umbu deta, jika mau pulang harus pas masih ada matahari biar tidak bertemu ular padang yang berbisa, karena ular itu selalu keluar dimalam hari. Wah kalau kegigit ya pasti selesai, karena jauh dari tempat berobat, puskesmas aja di kecamatan, gak bisa ngarepin rumah sakit di kota keburu melayang nyawanya. Kami bergegas pulang dipandu oleh pak guru yang menemani kami, yang ternyata juga anak dari pak kepala desa. Hahaha 11 istri sah dan pastinya banyak anak, cucu, dan cicit. 
dia adalah pemimpin dan pahlawan bagi desanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar