Perjalanan 3
Kantor kecamatan berada di
pinggir jalan, dan rumah pak camat juga Cuma di belakang kantor tersebut. Kami
disambut pak camat dengan pakaian PNS nya lengkap bersama jajaran nya, saling
bersalaman dan berbincang hangat. Pak camat mengijinkan kami untuk menempati
salah satu gedung kosong yang baru saja selesai di bangun, berasa gedung itu
untuk kami padahal katanya untuk kantor lembaga desa yang baru di bentuk. Kami
menempati kantor itu bebenah mengelar tikar dan menurunkan kelengkapan kami
bawa. Di depan pos tempat kami tinggal adalah sekolah, namun sayangnya tidak
kebagian jatah untuk mensurvei sekolah. Tapi ada beberapa keluarga yang tinggal
di sekitaran kantor kecamatan, jadi yaa gak papalah bagi-bagi jatah sama yang
lain. Sekolah depan pos cukup lumayan terawat dan tertata, kusempatkan berfoto
di bawah plang sekolah tersebut. Biar ada kenang-kenangan kalau sedang di
sumba, dan juga ada plang nya membuatku mengingat tempat ini dengan baik.
Kami mendapat sambutan hangat
dari bapak camat ngga ha, kami diundang untuk makan malam di rumahnya. Seperti
biasa yang keluar petama kali adalah sirih dan pinang, lalu kucoba sekali lagi
untuk kembali memakannya. Dan wow ternyata sensasinya sama namun rasanya
berbeda, kata pak camat “hey toh jawa, jangan lupa kapurnya biar merah ludah
nya”. Hahaha… aku jadi tahu kenapa disetiap depan rumah dan mungkin pojokan
rumah ada merah-merah ternyata dari makanan ini. Selesai menikmati makan malam
dan sirih pinang serta merokok ngopi bersama keluarga pak camat kami pamit.
Untuk beristirahat guna besok akan kembali bekerja, mengisi form kuisioner ke
penduduk dan sekolah-sekolah.
Pagi menjelang Susana ramai depan
sekolahan, banyak murid berdatangan dengan mengunakan sepeda motor atau sepeda,
banyak yang berjalan kaki. Kami menyewa beberapa sepeda montor dari penduduk
dan kantor kecamatan, yang tentunya special modifikasi karena medan yang kami
tempuh bukan lagi aspal namun jalan berbatu kapur. Aku menuju ke daerah sekitar
kecamatan dulu, disamping agak jauh dari kantor kecamatan. Keluarga yang
tinggal di rumah itu menyambut di depan rumah sepertinya info kedatangan kami
cukup cepat menyebar. Satu keluarga menyambut kami, dengan sirih pinang kami
memulai pembicaran, sekarang duet ku bersama pak Gordon,bapak tim yang paling
ganteng dan kebapakan sekali. Bapak memulai pembicaran dengan tuan rumah
menanyakan anggota keluarga yang lain, sambil bercanda dan berbincang hangat.
Ketika aku mulai mengeluarkan rokok dan menawarkan ke tuan rumah, beberapa
pemuda berdatangan seolah ingin tahu siapa yang datang. Dan ternyata mereka
juga anggota keluarga, dan mengambil rokok yang sudah aku taruh juga di bale
tempat aku duduk. Setelah mengisi beberapa kuisioner rokok pun habis, dan ibu
pemilik rumah masuk kedalam. Katanya biar bapak sajalah yang melanjutkan bapak
juga tahu (suami)kata ibu itu. Eh ternyata kenapa dia kedalam hanya untuk
memasak dan menyiapkan makan siang buat kami. Memang menyenangkan kalau berduet
dengan bapak ini, papa Gordon yang pandai merayu siapa pun.
Perut kami penuh dengan
makananan, karena mereka merasa tersinggung jika makanan yang sudah di suguhkan
tidak dimakan atau dihabiskan. Dan untung saja semua kuisioner itu terisi
karena memang semua daftarnya ada disekitar kecamantan. Aku dan pak Gordon lalu
pulang ke pos tempat kami tinggal, di sana ada ulfa yang sedang mengetik dan
mengisi laporan. Lalu kami mengambil beberapa kuisioner lanjutan untuk
melanjutkan perkerjaan. Saat ini targetnya desa sebelah yang mungkin tidak jauh
dari kecamatan, namun ternyata tempatnya cukup jauh. Hanya sampai disana sudah
cukup sore, namun kami hanya bisa mengisi satu kuisioner keluarga. Sekalian
bertanya tentang tempat-tempat yang akan kami tuju besok yang katanya tidak jauh
dari sekolah dasar yang akan kami tuju juga. Keluarga itu menunjuk bukit
dibelakang rumahnya yang cukup jauh kalau kami melihatnya. Aku dan pak Gordon
bertatap mata sambil bilang besok aja lagi, gak cukup waktu buat kesana.
Persolaan disini dekat dan jauh memang cukup relative, bagi kami mungkin itu
sungguh jauh bagi mereka sangat dekat bahkan di bilang tetangga hanya belakang
rumah. Bekalang rumah yang perlu 30 menitan sampai menit kalau jalan nya sangat buruk.
Kami memilih kembali ke pondokan
pos kami yang ada di kecamatan sambil beristirahat dan menyiapkan beberapa
perbekalan termasuk repe (rokok) untuk menambah keakraban waktu kami bertamu
dan bertanya banyak hal. Beli rokok local aja yang tentunya juga pabriknya dari
kudus, rokok dng angka 535 bungkus putih yang mungkin hanya di pasarkan di
daerah itu. Karena dari laporan pandangan mata sewaktu survei, banyak bapak dan
pemuda setempat merokok rokok tersebut dan harganya selisih lumayan. Maklum
anak perantauan yang harus banyak berhemat demi keamanan dan kemasalahatan
skirpsi di akhir episode.
Pagi menjelang waktunya bangun
dan bersiap, mandi seperlunya karena air
sangatlah mahal di tempat itu, sebetulnya kami tidaklah membeli air namun ya
sebagai tamu tahu diri kalau air susah di tempat itu. Bapak Gordon, Muhammad,
kak rony, dan aku bersiap untuk menuju tempat itu ya bang jo tentunya bersama
gadis pujaannya yang didekat-dekat saja. Karena kemarin dia menempuh perjalanan
dan petualangan yang lain juga. Kami berempat berangakat menuju tempat yang
kami sudah rencanakan. kita saling berboncengan karena kendaraan Cuma ada dua,
sebagai anak bungsu laki-laki wajib menjaga bapak tim hehehe… maka aku
berboncengan dengan pak Gordon. Jalan berliku, tebing, tanah cadas kapur dan
berjalan menyusuri puncak bukit kami lalui. Hingga sempat kehilangan arah dan
kepanasan sejenak berhenti untuk memakan jagung rebus yang telah di siapkan pak
Gordon, kerena itulah dia disebut bapaknya anak-anak. Dia selalu menyiapkan
perbekalan jikalau lapar, sebetulnya persiapan sendiri karena rombongan jadi
dia menyiapkan lebih. Kan aneh dia makan sendiri sementara yang lain melongo
kayak kebo di padang sabana hehehe. Bukit sekolah telah terlihat lebih dekat,
kami sampai disekolah sewaktu istirahat pertama. Benar adanya jika sekolah itu
tepat di bawah bukit yang kami lihat, ruang kelasnya cukup lumayan baik namun
lantainya telah berlubang disana sini. Atapnya pun begitu, terakhir sekitar 5
th yang lalu baru ada yang memperbaiki temboknya dan memangun toilet untuk
siswa. Yaa toilet yang di bangun pun gak berfungsi karena memang air sangat
mahal disana. Sementara pak Gordon menanyai kepala sekolah aku berbincang
dengan guru yang ada disana, serasa penilik sekolah aku diantar guru keliling
ke kelas-kelas.

Ada yang sedikit menganggu penglihatanku
diantara kelas dan murid-murid yang ada, selain jirigen yang banyak di belakang
kelas karena murid yang membawa untuk diisi air bersih. Adalah pakaian mereka
yang tampak lusuh namun sepatu mereka tampak masih bagus, sebuah pemandangan
yang aneh menurutku dengan medan yang aku lalui tentunya sepatu mereka akan
cepat rusak. Sempat aku bertanya pada guru yang mengantarku keliling kenapa
bisa begitu, karena mereka menggunakannya hanya saat berada disekolah jawab
guru itu. Sepatu barang yang mahal dan langka, membelinya harus ke kota, dan
ini juga kenang-kenangan dari NGO yang memperbaiki sekolah ini dan membangun
penampungan air didepan sekolah ini. Mereka menjaga nya agar tetap bisa
digunakan untuk sekolah, beberapa anak bahkan hanya membawa buku satu karena
tas nya sayang untuk digunakan takut rusak. Benar adanya setelah bapak selesai
menanyai pak kepala sekolah, kak mad dan kak rony datang. Lalu kepala sekolah
memanggil muridnya untuk mengantarkan kami menuju rumahnya. Di temani seorang
guru yang ditugaskan untuk menemani kami sewaktu perjalanan pulang nanti.
Sekolah ini lumayan tertib karena sebagian besar gurunya adalah masyarakat
setempat lulusan SMU yang menjadi guru dan berjuang demi desanya supaya mereka
bisa baca tulis.
Kami segera berangkat menuju
kampung sebelah tempat noel tinggal, noel adalah murid yang di tugaskan pak
kelapa sekolah untuk mengantar kami menuju kampung nya. Noel anak kecil kelas 5
sd ini membawa jirigen isi air bersih yang sudah di isinya di penampungan air
sekolah untuk di bawa pulang. Dan benar apa yang dikatakan guru tadi, noel
melepas sepatunya menalikan satusama lain lalu dikalungkan ke lehernya supaya
tidak repot membawa jirigen. Buku ditaruh disaku belakang mirip anak-anak STM/
SMU di jogja yang biar dibilang gaul dan keren. Namun noel berbaju putih dan
celana merah ini bukan karena gaul atau keren, namun daripada menambah beban
ketika dia harus membawa dua jirigen dan tas di pundaknya. Lebih baik dia tidak
membawa tas dan cukup satu buku disaku belakangnya.
Sekolah belum usai sebenarnya
waktu itu, namun noel diminta pak kepala sekolah untuk mengantar kami. Dengan
bangga dia melangkah riang pulang sekolah lebih awal dengan semangat riang nya
entah apa yang akan dilakukan sesampainya dirumah. Kami berenam berjalan menuju
tempat noel yang tidak bisa ditembus dengan menggunakan kendaraan sepeda motor
sekalipun, karena memang belum ada jalan. Jikalau pun ada harus memutar jauh
melewati desa lain yang tentunya memakan waktu lebih lama. Noel dengan langkah
nya yang pasti walaupun tanpa alas kaki dan juga membawa dua jirigen air
bersih, langkah kakinya lebih cepat dan seolah tidak membawa beban apapun.
Hahaha… kami yang dewasa sudah sangat susah payah, jangan kan untuk mendahului
menyamai langkahnya saja kami tidak sanggup. Sambil menyanyikan lagu ninja
hatori mencoba menyemangati diri, tanpa sungai mengalir indah kesamudera yang
ada di bait lagu itu. Pemandangan padang sabana yang indah dan perbukitan cadas
tanpa ada pelangi air yang terlihat.
Setelah bersusah payah untuk
menyusul noel akhirnya kami sampai didepan kampung dan noel sedang asik ngobrol
dengan bapak tua yang duduk di bawah pohon semacam beringin besar. Disana kami
kaget dan hampir tak percaya ada pohon besar rindang namun kenapa ada orang tua
yang duduk disana menunggui. Kami mendekat dan menyapa umbu (panggilan untuk
laki-laki), yang ternyata di bawah pohon besar itu terdapat kolam air kecil
yang mungkin besarnya 2-3 meteran, airnya keruh yang di bawah karena untuk
mencuci dan keperluan lainnya. Melihat kami kelelahan dan pastinya kehausan
maka sang bapak menawarkan air untuk diminum, air bersih dan segar yang berasal
dari akar pohon beringin yang tembus ke bawah. “silahkan minum dulu, sebelum
masuk kampung toh jawa gak biasa jalan jauh ya” hahaha… bapak ini juga ada yang
dari timor tapi juga kecapean sambil melirik kea rah pak Gordon dan bang rony.
Hahaha
Lalu kami bergantian meminum air
itu ada penampungan kecil, cerukan yang memang untuk menampung tetesan air dari
akar itu. Dalam menggunakan air itu kepala desa sudah mengaturnya setiap
keluarga di jatah beberapa kali boleh ambil air disitu, biar tidak berebut
karena sumber airnya Cuma satu. Kami sangat berterimakasih ke bapak tua itu
yang ternyata sedang menunggui gilirannya untuk mengambil air ditempat itu
untuk keluarganya. Menunggu air penuh di cerukan penampungan lalu dikit demi
sedikit dimasukan ke dalam jerigen dengan mangkuk besi kecil yang ada disana.
Kami beranjak menuju kampung atau desa tepat noel tinggal yang tinggal hanya
satu tanejakan dari pohon beringin besar itu. Disambut dengan rumah beratap
rumbia dan beberapa kubur batu di samping rumah kami seolah orang aneh yang
dilihat oleh penduduk kampung. Berkumpul dan berbondong-bondong keluar rumah
berasa alien dari planet mana entah datang berkunjung.
 |
| di cerukan ini, air bersih dan akar yang meneteskan airnya |
 |
| memakai mangkuk seng untuk minum |
Noel mengantarkan kami ke rumah
bapak kepala desa yang ternyata adalah kakeknya, kami menyapa dan disambut
hangat oleh bapak kepala desa. Ramai depan rumah bapak kepala desa ini karena
di penuhi warga yang ingin tahu siapa yang datang dan mau apa. Pak Gordon dan
bang roni memulai perbincangan dengan mengutarakan maksud kedatangan kami. Pak
guru juga menjelaskan tetang prihal kedatangan kami untuk mensurvei, lalu
berbincang hangat sebentar dan kami meminta ijin untuk menanyai warga yang
sudah ada dalam daftar yang kami bawa. Berfikir karena waktu kami tidak banyak
maka kami berempat berpencar untuk menyelesaikan tugas kuisioner. Setelah
bertanya tentang beberapa orang yang sudah ada di daftar, pak kepala desa ini
meminta anaknya untuk menunjukan tempat mereka. Sebagai anak paling muda
ternyata aku dapat tempat yang paling jauh diujung dan diatas bukit desa itu.
Desa itu udah di bukit tempat yang kudatangi diatas bukit lagi, mau pura-pura
pingsan juga tengsin sama anak-anak muda setempat yang meliahat kami.
Lalu aku bergegas kekeluarga yang
diatas bukit,dari kejauhan terlihat pria paruh baya pulang bergegas kerumah dan
menuju rumah itu. Mungkin sudah ada yang memberi tahu kalau rumahnya mau
kedatangan tamu. Sesampai depan rumah aku disambut umbu onde kepala rumah
tangga, sang ibu mendampinginya. Sirih pinang aku makan lalu aku membuka
perbincangan tetang pertanyaan kuisioner, sebungkus rokok aku keluarkan. Aku
tawarkan untuk membuat suasana lebih hangat dan akrab, sebuah teknik
besosialisasi yang mungkin masih sangat efektif didesa-desa. Ibu onde menemani
sang suami menjawab pertanyaan tiba giliran pertanyaan sang untuk sang istri,
pak onde menjawab dia tidak bisa Bahasa Indonesia. Dulu sekolah jauh di
kecamatan sehingga hanya anak laki-laki yang mungkin berani sekolah sampai
kesana. Itupun menginap disana dan pulang seminggu sekali, sekarang sekolah
sudah dekat hanya disana, anak-anak bisa sekolah. Dekat ?????? dalam hati aku
bertanya mempertanyakan arti dekat sebenernya kayak apa…, aku membutuhkan 3 jam
untuk berjalan kesini. Jauh dan mendaki itu di bilang dekat, tp kalau ke
kecamatan di bilang jauh dan sekolah menginap yaw ajar sih. Dua orang gadis
kecil datang dengan tampilan tak jauh dari noel. Berkalung sepatu dan membawa
jirigen, namun salah satu membawa tas di punggungnya. Kakak beradik ini tadi
juga bertemu disekolahan, tersenyum malu melihatku sedang ngobrol dengan
bapaknya. Waktu cukup cepat berlalu aku memberikan bingkisan kenang-kenangan
kain kecil yang memang sudah di bawakan oleh kantor. Umbu onde meminta ku untuk
menunggu sebentar tapi aku tergesa mengingat waktu yang harus aku gunakan
seefisien mungkin. Karena gak mungkin untuk menginap di tempat ini, kami harus
berpindah tempat besok di kecamatan yang lainya. Aku berpamitan dan turun
menuruni bukit batu, dan terdengar triakan umbu onde memanggil sambil berlari
mendekat. Sedikit panic mendengar triakan nya dan melihatnya menenteng seekor
ayam gemuk hidup. Apakah aku berbuat kesalahan atau ada omongan yang
menyakitkan hati sehingga membuat umbu onde berteriak-triak memanggilku dan
menengteng ayam.
Aku menunggu di bawah sambil
was-was jikalau aku berbuat salah aku kan meminta maaf baik-baik dan semoga
diijinkan untuk pulang. Ternyata umbu onde hanya ingin memberikan
kenang-kenangan, seekor ayam untuk di bawa pulang dan di masak di basecamp. Aku
berusaha menolaknya, melihat rumah gubuk beratap rumbia dan anak-anak yang
manis tadi sepertinya mereka lebih berhak menikmati daging ayam yang lezat. Aku
merasa hanya memberikan kenang-kenangan kain batik itupun mungkin hanya sebesar
taplak meja. Namun ada saudara umbu onde datang mendekati aku dan pak onde, ini
adalah pemberian yang harus di terima dan di bawa pulang. Jangan ditolak nanti
umbu onde dan keluarga merasa terhina dan sedih karena pemberiannya ditolak.
Dengan terpaksa aku terima ayam itu, lalu berterimakasih sekali ke umbu, dengan
senyum aku memeluknya. Seakan saudara jauh yang lama tak bertemu dan di berikan
bekal untuk berangkat kembali keperantauan.
Sambil menenteng ayam hidup aku
kembali ke rumah pak kepala desa umbu deta, umbu deta duduk bersama pak Gordon
sambil menikmati secangkir kopi depan teras rumahnya. Dan tertawa bersama
semacam baru melihat toh jawa bingung bawa ayam hidup. Lalu aku ikut duduk
sambil bercerita tentang bagaimana aku bisa mendapat ayam ini. Bapak deta
tersenyum dan menjelaskan prihal pemberian harus diterima agar tuan rumah juga
senang. Lalu kami mengobrol dan lebih tepatnya mendegarkan bapak deta
bercerita. Pak kepala desa ini walaupun sudah berumur namun semangatnya masih
sangat muda. Dia mempunya 11 orang istri, namun 3 orang sudah meninggal dan
jumlah anak yang tak terhitung berapa. Cucu dan cicitnya tentunya lebih banyak,
termasuk umbu onde yang ada di puncak bukit adalah anaknya. Rumah kepala desa
ini memang terpisah dan special berada di ujung desa, sempat bertanya tentang
kotak yang tergantung diatas pohon samping rumah pak kades. Umbu deta menjawab,
kotak itu digunakan untuk mayat menunggu waktunya kubur batu. Mayat diikat dan
di gantung didalam kotak itu lalu nanti akan mongering dan menjadi mummy.
Memang terlihat menyeramkan pohon samping rumah umbu deta ini. Pohon ini mirip
dengan pohon yang ada ditrunyan bali. Pohon besar seperti beringin yang
menyebarkan wangi dan membuat mayat tak berbau.
Setelah beberapa lama berbincang
hangat dengan pak kepala desa, kami meminta foto bersama dengan beliau untuk
sebuah kenangan yang hangat dan ramah. Yang pastinya akan menjadi cerita
terbaik yang harus di bagikan ke anak cucu dan juga para pemuda Indonesia.
Wuuiih sokk belajar bijak…
 |
| berfoto didepan rumah, masih beratap seng mungkin sekarang sudah rumbia, |
Tapi memang benar adanya, umbu
deta pun berpesan kalau bisa sampaikan ke pusat (jawa) jika Indonesia itu luas
dan indah. Kami menghabiskan kopi yang menjadi suguhan dan juga sirih pinang,
karena udah mulai biasa mulut dan lidahnya. Wah sudah nyirih pinang dengan
nyaman, harusnya tinggal lah disini barang sehari lagi. Masih banyak cerita
yang ingin beliau sampaikan, namun waktu sudah menjelang sore. Kata umbu deta,
jika mau pulang harus pas masih ada matahari biar tidak bertemu ular padang yang
berbisa, karena ular itu selalu keluar dimalam hari. Wah kalau kegigit ya pasti
selesai, karena jauh dari tempat berobat, puskesmas aja di kecamatan, gak bisa
ngarepin rumah sakit di kota keburu melayang nyawanya. Kami bergegas pulang
dipandu oleh pak guru yang menemani kami, yang ternyata juga anak dari pak
kepala desa. Hahaha 11 istri sah dan pastinya banyak anak, cucu, dan cicit.
 |
| dia adalah pemimpin dan pahlawan bagi desanya. |