Senin, 15 Agustus 2016

Kemerdekaan dan Mentality INLANDER ???


Banyak pertanyaan muncul tentang kemerdekaan. Kemerdekaan itu suka cita bisa plorotan jambe, lari karung, lari kelereng, makan krupuk dan juga diakhiri dengan pentas kesenian atau tirakatan kalau dijawa. Sapa tahu belanda datang lagi kan semua latihan fisik harus disiapkan, serta berjaga malam bisa jadi belanda mungkin jepang datang malam-malam. Baris berbaris biar mampu mengalahkan pasukannya dengan baris yang rapi. Bercanda lho yaa... Itu sebuah ekspresi yang hadir sejak entah kapan. Apakah sehabis proklamasi atau setelah tahun 65 an ketika ribut-ribut politik mulai mendingin. 

Tapi yang namanya kemerdekaan patut dirayakan, kebebasan dari sebuah tirani. Kebebasan dari penjajahan, karena menurut pembukaan undang-undang dasar 45 "penjajahan diatas dunia harus dihapuskan".  Namun yang tecatat dari butir tersebut hanya penjajahan, bukan masalah sudah selesai dijajah belanda atau jepang. Apakah kita sudah selesai dijajah, oleh siapapun termasuk bangsa sendiri dan apakah kita masih menjadi inlander ?? (kata film perjuangan kalau kapten belanda ngomongin negeri ini). Inlander sendiri kalau menurut kamus KBBI adalah pribumi, atau AKAMSI (anak kampung sini). Namun banyak yang mendefinisikan kata Inlander yang berarti kaum terjajah, yang dalam artian kaum yang belum merdeka sama sekali.

Banyak yang masih menggangap mereka tetap mejadi tamu walaupun sudah bekerja dan tinggal lama di negeri ini. Kalau aku pikir hanya berlaku bagi wisatawan karena mereka adalah tamu yang harus di hormati karena kita menjunjung tinggi adat ketimuran. Yang dimana tamu adalah raja dan harus di hormati agar mendapatkan kesan yang baik, namun bukan terhadap raja yang lalim atau kejam. Juga agak sedikit aneh ketika para tamu itu bekerja dan mencari uang disini tentunya kedudukan menjadi setara dan bukan tamu lagi, jika berada dalam teman sejajar posisi tak patut lah kita berlebihan menghormati kan jd setara walaupun gaji beda jauh coy…
Walaupun teman sejajar posisinya dalam perusahaan terkadang banyak teman sejawat yang merasa bangga menjadi salah satu teman yang menurutnya dekat. Atau mereka yang datang dan belajar kesini sama lah kedudukannya dengan pelajar atau mahasiswa yang lain mungkin sekala prioritasnya mereka menggunakan Bahasa yang lain.
Kalau lingkar otak engak segede dengkul dan dijual murah di toko online karena sering dipakai pastinya akan mencari tahu gimana sih sifat orang inlander. Beberapa sifat inlander bisa kita lihat difilm2 Hollywood kok, dan banyak contohnya. Semacam rambo, lihat rakyat Vietnamnya, film snipernya america liat warga yang ketakutan ketika tentara datang. Atau film hongkong jaman dulu yang setiap kapten polisinya dari inggris. Padahal hongkong dah modern di film itu, dah ada hp segede bata yg dipakai gengsternya. 

Dan banyak lagi, cari sendiri ya referensi film nya. Banyak negara bekas jajahan setiap ada orang setipe atau berbentuk seperti orang negara  yang menjajah pasti lebih di hormati. Setiap kali ngomong atau berjumpa tuh semacam takjub dan sangat wow. Padahal mungkin si orang ini biasa2 aja atau bahkan cuek dan luweh (masa bodo). Ada juga yang merasa risih dan gak nyaman dengan perlakuan yang di berikan, menjadikan rasa bersalah timbul karena nenek moyangnya telah melakukan hal yang salah. Banyak juga yang memanfaatkan kesempatan baik itu menjadi hal yang membuatnya lebih nyaman tanpa harus berusah payah mencari “teman”.

Sempat berbincang dengan salah satu orang, mereka mengatakan di sini itu orang nya ramah dan mudah berteman. Hmm... Benarkah??  

Kadang sangat tidak berlaku untuk orang di negeri sendiri, dan lebih cuek dengan orang negeri sendiri. Lihat saja pada postingan fb bagaimana presidennya siapa presiden negara lain dikudeta ikut sedih. Emang kalau negara itu perang berani ikut angkat senjata hahaha… orang-orang yang aneh…

Orang berdandan mirip negara lain aja dipujanya bak superstar, orang pakai baju daerah di bilang haram. Bangsa yang sangat berhasil di jajah adalah bangsa yang rela dan ikhlas kehilangan jatidirinya dan memakai jatidiri bangsa lain. Hehehe...

Contoh kecil mental inlander pernah ku rasakan sewaktu bekerja di sebuah tempat di kota. Dan bukan orang negeri ini sih tapi mentally dan otak nya masih inlander. Sewaktu di warung makan siang bersama teman ku yang dari negara adikuasa yang ratunya selalu didoakan rakyatnya. Duduk bersama ku sambil menikmati kopi dan sebatang rokok, lalu datang rekan sepekerjaan juga namun beda negara yang tiap kali geleng-geleng kepalanya kalau lagi ngomong, juga tiba-tiba duduk bersama. Dia menyapa ku dan teman ku, untuk memulai perbincangan. Biar akrab gitu, dengan inggrisnya yang berasa saudara tp beda logat memulai obrolan dengan bahasa inggris casciscus... Dia mengira inggris ku paspasan jd seolah take over obrolan kami.hahaha.... 

Lain hari ketika aku duduk sendiri, eh dia datang tanpa menyapa. Cuek seolah gak kenal,namun berbeda di hari berikutnya aku bisa ketawa. Hari berikutnya aku duduk bersama teman ku itu, lalu datang dia dan duduk bersama. Teman ku yang dari rakyatnya ratu Elisabeth dan emang lahiran sana, ini berbicara sedikit penting. Tentang apa yang harus dikerjakan oleh rekan ku yg satunya. Lalu rekan ini buru-buru pergi, dan berpamitan juga pada ku. Aku bertanya sama teman, "kenapa kamu memintanya melakukan itu bukanya kamu bisa melakukan pekerjaan itu sendiri" tanya ku. "Ya karena dia yang memintaku melakukan hal itu, dan itu yang ku lakukan. Aku tidak pernah menyuruhnya tapi dia yang bersedia melakukan nya" hahaha... Jawab teman ku.

"aku pernah meminta mu juga, tapi sepertinya kamu bukan orang yg mencari teman. Aku sebetulnya tidak suka bersama mu karena kamu tidak seramah mereka, ya tapi aku lebih enjoy ngopi dan merokok dengan mu" dan dia tertawa.... 

Menurutku masih terbawa susana pemberian kemerdekaan, jd bentuk trimakasih mungkin untuk temanku yg rakyatnya ratu itu. Ya sapa tahu sehabis perkerjaan itu bisa diajak ketemu ratu yang memberi kemerdekaan.:D :D

Atau kasus pada sebuah restoran disalah satu daerah wisata terkenal yang sempat viral disosmed dan membuat restoran tersebut meminta maaf akan perlakuan yang di berikan terhadap tamunya yang orang local.
Jadi mentality inlander itu gak sepenuhnya pengaruh dari kurangnya pendidikan yang diajarkan, karena rekan ku tadi Master titlenya. Hahaha… Mentality inlader emang sudah ada dalam diri orangnya sendiri apakah bersedia dan iklhas untuk menginlanderkan diri atau tidak.
Sedangkan tanah ini merdeka dengan darah, keringat dan kecerdasan serta pemikiran  pejuang bangsa ini. Tanpa ada pemberian dari negara manapun, merdeka dengan sendirinya masak mentalitynya kayak orang diberi.
Yuk bareng-bareng tanya di hati kecil diri kita masing-masing.

Apakah kemerdekaan itu??  Apakah kita sudah merdeka dari mentality inlander ?? Apakah kita masih menjadi inlander bangsa sendiri ??

Sekedar tulisan merayakan kemerdekaan...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar