Banyak pertanyaan
muncul tentang kemerdekaan. Kemerdekaan itu suka cita bisa plorotan jambe, lari
karung, lari kelereng, makan krupuk dan juga diakhiri dengan pentas kesenian
atau tirakatan kalau dijawa. Sapa tahu belanda datang lagi kan semua latihan fisik
harus disiapkan, serta berjaga malam bisa jadi belanda mungkin jepang datang
malam-malam. Baris berbaris biar mampu mengalahkan pasukannya dengan baris yang
rapi. Bercanda lho yaa... Itu sebuah ekspresi yang hadir sejak entah kapan.
Apakah sehabis proklamasi atau setelah tahun 65 an ketika ribut-ribut politik
mulai mendingin.
Tapi yang namanya kemerdekaan patut dirayakan, kebebasan dari sebuah tirani.
Kebebasan dari penjajahan, karena menurut pembukaan undang-undang dasar 45
"penjajahan diatas dunia harus dihapuskan". Namun yang tecatat
dari butir tersebut hanya penjajahan, bukan masalah sudah selesai dijajah
belanda atau jepang. Apakah kita sudah selesai dijajah, oleh siapapun termasuk
bangsa sendiri dan apakah kita masih menjadi inlander ?? (kata film perjuangan
kalau kapten belanda ngomongin negeri ini). Inlander sendiri kalau menurut
kamus KBBI adalah pribumi, atau AKAMSI
(anak kampung sini). Namun banyak yang mendefinisikan kata Inlander yang
berarti kaum terjajah, yang dalam artian kaum yang belum merdeka sama sekali.
Banyak yang masih menggangap mereka tetap mejadi tamu walaupun sudah bekerja dan tinggal lama di negeri ini. Kalau aku pikir hanya berlaku bagi wisatawan karena mereka adalah tamu yang harus di hormati karena kita menjunjung tinggi adat
ketimuran. Yang dimana tamu adalah raja dan harus di hormati agar mendapatkan
kesan yang baik, namun bukan terhadap raja yang lalim atau kejam. Juga agak
sedikit aneh ketika para tamu itu bekerja dan mencari uang disini tentunya
kedudukan menjadi setara dan bukan tamu lagi, jika berada dalam teman sejajar
posisi tak patut lah kita berlebihan menghormati kan jd setara walaupun gaji
beda jauh coy…
Walaupun teman sejajar posisinya dalam perusahaan terkadang banyak
teman sejawat yang merasa bangga menjadi salah satu teman yang menurutnya
dekat. Atau mereka yang datang dan belajar kesini sama lah kedudukannya dengan
pelajar atau mahasiswa yang lain mungkin sekala prioritasnya mereka menggunakan
Bahasa yang lain.
Kalau lingkar otak engak
segede dengkul dan dijual murah di toko online karena sering dipakai pastinya
akan mencari tahu gimana sih sifat orang inlander. Beberapa sifat inlander bisa
kita lihat difilm2 Hollywood kok, dan banyak contohnya. Semacam rambo, lihat
rakyat Vietnamnya, film snipernya america liat warga yang ketakutan ketika
tentara datang. Atau film hongkong jaman dulu yang setiap kapten polisinya dari
inggris. Padahal hongkong dah modern di film itu, dah ada hp segede bata yg
dipakai gengsternya.
Dan banyak lagi, cari sendiri ya referensi film nya. Banyak negara bekas
jajahan setiap ada orang setipe atau berbentuk seperti orang negara yang
menjajah pasti lebih di hormati. Setiap kali ngomong atau berjumpa tuh semacam
takjub dan sangat wow. Padahal mungkin si orang ini biasa2 aja atau bahkan cuek
dan luweh (masa bodo). Ada juga yang merasa risih dan gak nyaman dengan
perlakuan yang di berikan, menjadikan rasa bersalah timbul karena nenek
moyangnya telah melakukan hal yang salah. Banyak juga yang memanfaatkan
kesempatan baik itu menjadi hal yang membuatnya lebih nyaman tanpa harus
berusah payah mencari “teman”.
Sempat berbincang
dengan salah satu orang, mereka mengatakan di sini itu orang nya ramah dan
mudah berteman. Hmm... Benarkah??
Kadang sangat tidak berlaku untuk orang di negeri sendiri, dan lebih cuek dengan
orang negeri sendiri. Lihat saja pada
postingan fb bagaimana presidennya siapa presiden negara lain dikudeta ikut
sedih. Emang kalau negara itu perang berani ikut angkat senjata hahaha… orang-orang yang aneh…
Orang
berdandan mirip negara lain aja dipujanya bak superstar, orang pakai baju
daerah di bilang haram. Bangsa yang sangat berhasil di jajah adalah bangsa yang
rela dan ikhlas kehilangan jatidirinya dan memakai jatidiri bangsa lain. Hehehe...
Contoh kecil mental inlander pernah ku rasakan sewaktu bekerja di sebuah tempat
di kota. Dan bukan orang negeri ini sih tapi mentally dan otak nya masih
inlander. Sewaktu di warung makan siang bersama teman ku yang dari negara
adikuasa yang ratunya selalu didoakan rakyatnya. Duduk bersama ku sambil
menikmati kopi dan sebatang rokok, lalu datang rekan sepekerjaan juga namun
beda negara yang tiap kali geleng-geleng kepalanya kalau lagi ngomong, juga
tiba-tiba duduk bersama. Dia menyapa ku dan teman ku, untuk memulai
perbincangan. Biar akrab gitu, dengan inggrisnya yang berasa saudara tp beda
logat memulai obrolan dengan bahasa inggris casciscus... Dia mengira inggris ku
paspasan jd seolah take over obrolan kami.hahaha....
Lain hari ketika aku duduk sendiri, eh dia datang tanpa menyapa. Cuek seolah
gak kenal,namun berbeda di hari berikutnya aku bisa ketawa. Hari berikutnya aku
duduk bersama teman ku itu, lalu datang dia dan duduk bersama. Teman ku yang dari
rakyatnya ratu Elisabeth dan emang lahiran sana, ini berbicara sedikit penting.
Tentang apa yang harus dikerjakan oleh rekan ku yg satunya. Lalu rekan ini
buru-buru pergi, dan berpamitan juga pada ku. Aku bertanya sama teman,
"kenapa kamu memintanya melakukan itu bukanya kamu bisa melakukan
pekerjaan itu sendiri" tanya ku. "Ya karena dia yang memintaku
melakukan hal itu, dan itu yang ku lakukan. Aku tidak pernah menyuruhnya tapi
dia yang bersedia melakukan nya" hahaha... Jawab teman ku.
"aku pernah meminta mu juga, tapi sepertinya kamu bukan orang yg mencari
teman. Aku sebetulnya tidak suka bersama mu karena kamu tidak seramah mereka,
ya tapi aku lebih enjoy ngopi dan merokok dengan mu" dan dia tertawa....
Menurutku masih terbawa susana pemberian kemerdekaan, jd bentuk trimakasih
mungkin untuk temanku yg rakyatnya ratu itu. Ya sapa tahu sehabis perkerjaan
itu bisa diajak ketemu ratu yang memberi kemerdekaan.:D :D
Atau kasus pada sebuah
restoran disalah satu daerah wisata terkenal yang sempat viral disosmed dan
membuat restoran tersebut meminta maaf akan perlakuan yang di berikan terhadap
tamunya yang orang local.
Jadi mentality inlander
itu gak sepenuhnya pengaruh dari kurangnya pendidikan yang diajarkan, karena
rekan ku tadi Master titlenya. Hahaha… Mentality inlader emang sudah ada dalam
diri orangnya sendiri apakah bersedia dan iklhas untuk menginlanderkan diri
atau tidak.
Sedangkan tanah ini merdeka
dengan darah, keringat dan kecerdasan serta pemikiran pejuang bangsa ini. Tanpa ada pemberian dari
negara manapun, merdeka dengan sendirinya masak mentalitynya kayak orang
diberi.
Yuk bareng-bareng
tanya di hati kecil diri kita masing-masing.
Apakah kemerdekaan itu??
Apakah kita sudah merdeka dari mentality inlander ?? Apakah kita masih menjadi
inlander bangsa sendiri ??
Sekedar tulisan
merayakan kemerdekaan...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar