Sabtu, 20 Agustus 2016

Perjalanan 2

Kota dengan infrastructure yang cukup memadai untuk menjadi ibu kota kabupaten, walaupun kotanya hanya kecil. Bangunan paling besar yang aku lihat hanya kantor DPRD dan kantor bupatinya yang megah, selain itu beberapa kantor bank dan instansi pemerintahan. Nama nya juga kota kabupaten ya berbagai orang sebenernya ada disini, dari jawa,bali, sumatera, Sulawesi, dll. Waingapu juga mempunyai dermaga yang cukup besar guna mengangkut perdagangan dari mana-mana. Hal itu terlihat dari aktifitas pasarnya yang ada di waingapu, baik pasar malam ataupun pasar paginya. Mecoba menikmati makanan di sebuah lapangan depan kantor kelurahan dan sekolahan di waingapu. Ada penjual bakso yang jauh-jauh dari Surakarta kesini, ada juga penjual sate yang mungkin bisa di tebak darimana. Banyak sekali pendatang di kota ini, menjajakan dagangan yang gak hanya makanan juga pakaian dll.
Waingapu memiliki pantai yang indah juga, bersama bang jo diajak berkeliling kota waingapu, pantai pasir putih. Yang kotorannya hanya daun kelapa, kelapa, dan berbagai dedaunan dari pohon yang ada di pinggiran pantai. Tidak menemukan semacam sampah-sampah dari berbagai bungkus makanan, yang di jual di took-toko. Mungkin memang tidak pernah ada yang datang dipantai ini atau mungkin juga karena mereka penduduk di pinggiran pantai yang setiap hari melihatnya. Ada juga bangunan rumah pinggir pantai yang terbuat dari kayu dan beratap rumbia, dengan taman-taman kecil yang cantik.
Di waingapu bisa menemukan banyak hal yang menarik bagaimana dengan daerah yang lain, jika kota kabupatennya saja sangat menarik untuk dijajaki. Dua hari menjajaki kota kecil itu seakan tidak puas untuk menyelesaikannya, namun mungkin daerah lain di sumba lebih menarik untuk di jajaki. Melangkahkan kaki menuju kecamatan berikutnya yaitu warinding. Disana kecamatan yang cukup lumayan sepi namun tak jauh dari waingapu. Menarik dan indah karena mungkin sekarang terkenal dengan pemandangan bukitnya yang indah khas sabana. Sepi kencamatan ini hanya penduduk local yang tinggal beberapa masih bertani dan berburu. Ada juga sebuah pabrik air minum, air mineral yang di ambil dari mata air disekitar daerah ini. Ya mata air itu juga menjadi sumber air minum untuk kehidupan kota waingapu yang terdekat dengan daerah itu.
Kami berpencar untuk menyebar berbagai kuisoner pertanyaan menyambangi satu-persatu rumah yang ada di daerah wairinding. Daerah cadas berkapur debu kehidupan sangat jauh berbeda dengan kehidupan masyartakat waingapu. Beda kehidupan masyarakat kecamatan di kota dengan kehidupan masyarakat yang ada di kecamatan dipedalaman. Di wairingin aku mendatangi salah satu sekolah yang sepertinya menarik dan membuka mata ku, bersama bang jo aku kesekolah itu untuk menanyai guru dan kepala sekolahnya. Terlihat pagi itu di salah satu sekolah dasar sangat ramai dengan murid namun hanya terlihat salah satu guru yang berada disana. Bapak suprayitno, seorang pemuda dari jawa dengan gelar Spd di belakangnya. Guru seorang diri mengampu 6 kelas sekaligus, kelas 1,2,3 menjadi satu 4,5 jadi satu kelas, dan yang terpisah kelas 6. Disatukan biar mudah mengawasi dan memberikan pelajaran, supaya gak kerepotan dan memang Cuma ada 3 ruangan kelas hasil dari swasembada masyarakat sekitar supaya anak-anak mereka tidak terlalu jauh untuk bersekolah di dekat bali desa.  Dan kami bertanya kenapa harus terpisah, karena masyarakat yang menginginkan, jadi saya dan istri terpisah dua sekolah. Istrinya mengajar disekolah dekat dengan balai desa. Dan seharusnya ada 3 orang guru yang mengajar di sekolah cabang ini, namun hanya saya yang mengajar disini. Dua lainya pulang ke jawa liburan sudah 6 bulan gak kembali lagi kesini. Wow summer holiday aja gak selama itu, ini mah satu semester gak balik dan belum di keluarkan. Hebat yaa…. Bapak supri tersenyum.
Setelah beberapa obrolan tentang jumlah siswa dan apa aja yang ada di kelas, kami lanjut menuju sekolah yang ada di desa keburu nanti jam pelajaran berikutnya dimulai lebih baik untuk segera datang kesana untuk mengisikan data yang juga sebagai bagian dari pekerjaan ini. Sampai di depan balai desa, bang jo sebagai akamsi aktif berinisiatif untuk bertemu kepala desa. Sedang aku menuju ke sekolah yang berada tepat didepan rumah dinas kepala desa. Ternyata sekolah itu sudah hampir pulang, wah untung saja, guru-guru belum pada pulang, bertandang kesana lalu bertanya adakah kepala sekolah karena saya mau mencari data. Dan seorang guru lalu betanya “maaf mas ini dari mana ya kok mau bertemu kepala sekolah dan mencari data.” Lalu aku jawab dengan pelan dan pasti “saya dari PUSAT pak, penelitian tentang kependudukan”…. Sengaja aku pisahkan pusat nya agar sedikit terdengar bagaimana begitu, eh ternyata hal itu sangat membuat mereka panic dan sedikit bingung tengok kanan kiri sesama guru. Aku mencoba mencairkan suasana “kalau pak kepala sekolah gak ada bisa di wakilkan wakilnya, atau guru senior yang bertanggungjawab disini”… salah satu guru yang terlihat muda namun kayaknya senior  menjawab,” saya mas yang akan mencoba menjawab dan data yang di perlukan”. Ibu siti namanya ketika aku menanyakan kalau boleh tahu kemana kepala sekolah berada, dia menjawab “bapak lagi dinas pelatihan di jawa, kurang lebih 3 bulanan mas”. Wow pelatihan yang cukup lama untuk seorang kepala sekolah.
Kondisi sekolahan ya seperti itulah sederhana tak terawatt, mungkin sedikit di tembok dan beratap seng besi. Meja dan kursi seadanya, papan tulis yang biasa-biasa aja, lantai tanah dll. Dan ternyata bu siti ini adalah istri dari pak supri tadi yang ada sekolah tambahan di bawah di jalan menuju balai desa. Kondisi murid yang sebagian besar ya relative sedikit lumayan baik untuk di daerah itu. Mungkin karena masih dekat dengan kota waingapu jadi kebutuhan perlengkapan tidak terlalu sulit didapat. Mereka berjalan kaki rata-rata 3-4 km dari rumahnya menuju sekolah, dan hal yang menarik selain membawa tas, mereka tidak lupa membawa jerigen-jerigen kosong. Jerigen itu berfungsi untuk mengangkut air bersih karena tampungan air untuk desa itu paling dekat dengan balai desa.
Setelah selesai di sekolah kami melanjutkan ke rumah penduduk, dengan wajah berseri bang jo keluar dari rumah kepala desa. Lalu bilang tadi dapat kopi dan makanan disana, dan gak bagi-bagi atau berusaha mengundang ku masuk. Hahahha laper bro… kami masuk ke sebuah keluarga yang rumahnya di kelilingi tembok batu. Semacam beteng tentara yang lagi perang gitu, batu di tumpuk mengelilingi beberapa rumah yang ada didalamnya. Kami masuk lewat akses gerbang yang seolah-olah masuk kesebuah kerajaan pada jaman entah berantah. Kami disambut lolongan anjing yang keluar dari berberapa rumah, cukup ngeri juga karena anjing-anjing tersebut mengelilingi kami berdua. Terlihat ada seorang nenek duduk di depan bale-bale rumah, kami menegur dengan Bahasa Indonesia dan bermaksud meminta tolong agar anjing-anjingnya berhenti menyalak. Si nenek ini membalas dengan Bahasa daerah, dan untunglah si akamsi paham Bahasa tersebut. Lalu menjawab dan berbicara dng Bahasa localnya. Anjing-anjing tadi berlarian masuk setelah sang nenek memanggil, lalu kami mendekat rumah sang nenek berteriak kedalam rumah seperti memnaggil anaknya.
Nenek ini usianya sudah sangat tua, didalam keluarga hanya anak- anak yang paling muda yang bisa berbahasa Indonesia, dan juga yang masih bersekolah. Sedang yang berusia lanjut hanya memahami Bahasa daerah. Sebelum kami memulai pembicaraan sang nenek keluar dengan membawa tatakan kecil berisi sirih pinang, namun ada yang aneh disini bukan daun sirih yang kudapati di tempat itu namun buah sirih yang seperti cabe hijau panjang-panjang. Sepertinya ini adalah adat yang harus di lakukan untuk memulai pembicaraan, bang jo memintaku untuk mengambilnya”ambil saja buah pinang nya lalu kamu hisap di mulut, jika kamu tak suka dengan sirih dan pinang”. Dengan kata-kata itu seolah mendesak ku dan seolah aku takut untuk memakannya, aku pun mencoba buah sirih dan pinang. Terbakarlah mulut dan tenggorokan ku, berasa sebuah hal yang aneh masuk kemulut. Inih racun dalam hati aku bilang, membuat tenggorokan kereing dan terbakar. Seolah jutaan semut ada dalam mulut aku, dan menggrogoti mulutku, keluarga yang ada disana pun tertawa seolah aku anak cupu. Seorang bapak, umbu octan namanya bilang “toh jawa, tidak biasa makan sirih pinang yang lezat ini”. Hahaha lezat dari Timbuktu… sambil dimarahin paman gober apa, pikir ku.  Lalu mulailah kami berbicara tetang banyak hal dan bertanya sesuai dengan kuiesoner, aku keluarkan rokok ku lalu aku tawarkan sebagai balasan untuk sirih pinang. Maka terbukalah mereka dengan jawaban-jawaban yang kami butuhkan untuk kuisioner itu, ternyata beginilah adat Indonesia take and give. Kami menjadi seperti keluarga saling bertukar menu, satu sirih pinang dan satunya rokok. Sang nenek juga ikut ambil rokok dan merokoklah kami di depan teras sambil berbincang dan tertawa sembari mengisi kuisoner.
Amazing bukan hanya dari sebelah kota kabupaten saja sudah mendapatkan banyak hal yang membuat mata terbelalak, masih ada yang belum bisa dan tidak mengerti Bahasa Indonesia. Aku menjadi sangat bersemangat untuk menuju daerah lainnya yang lebih dalam dan mungkin lebih mengasikan dari yang hanya di sebelah kota kabupaten. Dalam waktu seminggu kami berputar dan bekeliling mengenal dan mengerjakan kuisioner yang telah ada untuk daerah kecamatan waringin dekat dengan waingapu. Rata-rata serupa dan sejenis hal yang dialaminya, lahan yang kering batuan kapur dan cadas yang ada membuat lahan pertanian nya berupa jagung dan biji-bijian.
Mungkin lain kecamatan akan sedikit berbeda dengan yang ada di dekat kota, seminggu berselang kami selesaikan pekerjaan di dekat waingapu, lalu kami menuju ke sumba tengah yang lebih jauh kedalam pulau sumba, yaitu nggaha ori angu. Kecamatan yang ada mendekati tegah pulau sumba, masih banyak pemandangan lahan kering, padang sabana disaat perjalanan di kecamatan ini. Pemandangan kehidupan masyarakatnya hamper sama, merupakan petani dan peternak. Oiya kami kesana menggunakan otto (truck yang dimodifikasi menjadi alat tranportasi), ada TOA masjid yang nyembul di atas truck itu. Sudah pasti perjalan kami teriringin music-musik dari dangdut koplo sampai lagu timor atau maluku. Indah rasanya di bawah kami terdapat ternak-ternak seperti ayam, babi, dan kambing. Pastinya terasa lah jejak putualangan, beraroma ternak dan bermusikan house music dengan sound sytem toa masjid.

Sesekali ikut bergoyang kaki serasa menendang perut babi gemuk yang ada di bawah, otto ini modifikasi yang sangat wow. Bak truck yang di belakang di berikan kayu  melintang supaya penumpang bisa duduk, sementara di bawah untuk mengangkut ternak dari si penumpang. Akhirnya perjalanan kami tiba di kecamatan itu, tempat survei kami selanjutnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar