Kota dengan infrastructure yang
cukup memadai untuk menjadi ibu kota kabupaten, walaupun kotanya hanya kecil.
Bangunan paling besar yang aku lihat hanya kantor DPRD dan kantor bupatinya
yang megah, selain itu beberapa kantor bank dan instansi pemerintahan. Nama nya
juga kota kabupaten ya berbagai orang sebenernya ada disini, dari jawa,bali,
sumatera, Sulawesi, dll. Waingapu juga mempunyai dermaga yang cukup besar guna
mengangkut perdagangan dari mana-mana. Hal itu terlihat dari aktifitas pasarnya
yang ada di waingapu, baik pasar malam ataupun pasar paginya. Mecoba menikmati
makanan di sebuah lapangan depan kantor kelurahan dan sekolahan di waingapu.
Ada penjual bakso yang jauh-jauh dari Surakarta kesini, ada juga penjual sate
yang mungkin bisa di tebak darimana. Banyak sekali pendatang di kota ini,
menjajakan dagangan yang gak hanya makanan juga pakaian dll.
Waingapu memiliki pantai yang
indah juga, bersama bang jo diajak berkeliling kota waingapu, pantai pasir
putih. Yang kotorannya hanya daun kelapa, kelapa, dan berbagai dedaunan dari
pohon yang ada di pinggiran pantai. Tidak menemukan semacam sampah-sampah dari
berbagai bungkus makanan, yang di jual di took-toko. Mungkin memang tidak
pernah ada yang datang dipantai ini atau mungkin juga karena mereka penduduk di
pinggiran pantai yang setiap hari melihatnya. Ada juga bangunan rumah pinggir
pantai yang terbuat dari kayu dan beratap rumbia, dengan taman-taman kecil yang
cantik.
Di waingapu bisa menemukan banyak
hal yang menarik bagaimana dengan daerah yang lain, jika kota kabupatennya saja
sangat menarik untuk dijajaki. Dua hari menjajaki kota kecil itu seakan tidak
puas untuk menyelesaikannya, namun mungkin daerah lain di sumba lebih menarik
untuk di jajaki. Melangkahkan kaki menuju kecamatan berikutnya yaitu warinding.
Disana kecamatan yang cukup lumayan sepi namun tak jauh dari waingapu. Menarik
dan indah karena mungkin sekarang terkenal dengan pemandangan bukitnya yang
indah khas sabana. Sepi kencamatan ini hanya penduduk local yang tinggal
beberapa masih bertani dan berburu. Ada juga sebuah pabrik air minum, air
mineral yang di ambil dari mata air disekitar daerah ini. Ya mata air itu juga
menjadi sumber air minum untuk kehidupan kota waingapu yang terdekat dengan
daerah itu.
Kami berpencar untuk menyebar
berbagai kuisoner pertanyaan menyambangi satu-persatu rumah yang ada di daerah
wairinding. Daerah cadas berkapur debu kehidupan sangat jauh berbeda dengan
kehidupan masyartakat waingapu. Beda kehidupan masyarakat kecamatan di kota
dengan kehidupan masyarakat yang ada di kecamatan dipedalaman. Di wairingin aku
mendatangi salah satu sekolah yang sepertinya menarik dan membuka mata ku,
bersama bang jo aku kesekolah itu untuk menanyai guru dan kepala sekolahnya.
Terlihat pagi itu di salah satu sekolah dasar sangat ramai dengan murid namun
hanya terlihat salah satu guru yang berada disana. Bapak suprayitno, seorang
pemuda dari jawa dengan gelar Spd di belakangnya. Guru seorang diri mengampu 6
kelas sekaligus, kelas 1,2,3 menjadi satu 4,5 jadi satu kelas, dan yang
terpisah kelas 6. Disatukan biar mudah mengawasi dan memberikan pelajaran,
supaya gak kerepotan dan memang Cuma ada 3 ruangan kelas hasil dari swasembada
masyarakat sekitar supaya anak-anak mereka tidak terlalu jauh untuk bersekolah
di dekat bali desa. Dan kami bertanya
kenapa harus terpisah, karena masyarakat yang menginginkan, jadi saya dan istri
terpisah dua sekolah. Istrinya mengajar disekolah dekat dengan balai desa. Dan
seharusnya ada 3 orang guru yang mengajar di sekolah cabang ini, namun hanya
saya yang mengajar disini. Dua lainya pulang ke jawa liburan sudah 6 bulan gak
kembali lagi kesini. Wow summer holiday aja gak selama itu, ini mah satu
semester gak balik dan belum di keluarkan. Hebat yaa…. Bapak supri tersenyum.
Setelah beberapa obrolan tentang
jumlah siswa dan apa aja yang ada di kelas, kami lanjut menuju sekolah yang ada
di desa keburu nanti jam pelajaran berikutnya dimulai lebih baik untuk segera
datang kesana untuk mengisikan data yang juga sebagai bagian dari pekerjaan
ini. Sampai di depan balai desa, bang jo sebagai akamsi aktif berinisiatif
untuk bertemu kepala desa. Sedang aku menuju ke sekolah yang berada tepat
didepan rumah dinas kepala desa. Ternyata sekolah itu sudah hampir pulang, wah
untung saja, guru-guru belum pada pulang, bertandang kesana lalu bertanya
adakah kepala sekolah karena saya mau mencari data. Dan seorang guru lalu
betanya “maaf mas ini dari mana ya kok mau bertemu kepala sekolah dan mencari
data.” Lalu aku jawab dengan pelan dan pasti “saya dari PUSAT pak, penelitian
tentang kependudukan”…. Sengaja aku pisahkan pusat nya agar sedikit terdengar
bagaimana begitu, eh ternyata hal itu sangat membuat mereka panic dan sedikit
bingung tengok kanan kiri sesama guru. Aku mencoba mencairkan suasana “kalau
pak kepala sekolah gak ada bisa di wakilkan wakilnya, atau guru senior yang
bertanggungjawab disini”… salah satu guru yang terlihat muda namun kayaknya
senior menjawab,” saya mas yang akan
mencoba menjawab dan data yang di perlukan”. Ibu siti namanya ketika aku
menanyakan kalau boleh tahu kemana kepala sekolah berada, dia menjawab “bapak
lagi dinas pelatihan di jawa, kurang lebih 3 bulanan mas”. Wow pelatihan yang
cukup lama untuk seorang kepala sekolah.
Kondisi sekolahan ya seperti
itulah sederhana tak terawatt, mungkin sedikit di tembok dan beratap seng besi.
Meja dan kursi seadanya, papan tulis yang biasa-biasa aja, lantai tanah dll.
Dan ternyata bu siti ini adalah istri dari pak supri tadi yang ada sekolah
tambahan di bawah di jalan menuju balai desa. Kondisi murid yang sebagian besar
ya relative sedikit lumayan baik untuk di daerah itu. Mungkin karena masih
dekat dengan kota waingapu jadi kebutuhan perlengkapan tidak terlalu sulit
didapat. Mereka berjalan kaki rata-rata 3-4 km dari rumahnya menuju sekolah,
dan hal yang menarik selain membawa tas, mereka tidak lupa membawa
jerigen-jerigen kosong. Jerigen itu berfungsi untuk mengangkut air bersih
karena tampungan air untuk desa itu paling dekat dengan balai desa.
Setelah selesai di sekolah kami
melanjutkan ke rumah penduduk, dengan wajah berseri bang jo keluar dari rumah
kepala desa. Lalu bilang tadi dapat kopi dan makanan disana, dan gak bagi-bagi
atau berusaha mengundang ku masuk. Hahahha laper bro… kami masuk ke sebuah
keluarga yang rumahnya di kelilingi tembok batu. Semacam beteng tentara yang
lagi perang gitu, batu di tumpuk mengelilingi beberapa rumah yang ada
didalamnya. Kami masuk lewat akses gerbang yang seolah-olah masuk kesebuah
kerajaan pada jaman entah berantah. Kami disambut lolongan anjing yang keluar
dari berberapa rumah, cukup ngeri juga karena anjing-anjing tersebut
mengelilingi kami berdua. Terlihat ada seorang nenek duduk di depan bale-bale
rumah, kami menegur dengan Bahasa Indonesia dan bermaksud meminta tolong agar
anjing-anjingnya berhenti menyalak. Si nenek ini membalas dengan Bahasa daerah,
dan untunglah si akamsi paham Bahasa tersebut. Lalu menjawab dan berbicara dng
Bahasa localnya. Anjing-anjing tadi berlarian masuk setelah sang nenek
memanggil, lalu kami mendekat rumah sang nenek berteriak kedalam rumah seperti
memnaggil anaknya.
Nenek ini usianya sudah sangat
tua, didalam keluarga hanya anak- anak yang paling muda yang bisa berbahasa
Indonesia, dan juga yang masih bersekolah. Sedang yang berusia lanjut hanya
memahami Bahasa daerah. Sebelum kami memulai pembicaraan sang nenek keluar
dengan membawa tatakan kecil berisi sirih pinang, namun ada yang aneh disini
bukan daun sirih yang kudapati di tempat itu namun buah sirih yang seperti cabe
hijau panjang-panjang. Sepertinya ini adalah adat yang harus di lakukan untuk
memulai pembicaraan, bang jo memintaku untuk mengambilnya”ambil saja buah
pinang nya lalu kamu hisap di mulut, jika kamu tak suka dengan sirih dan
pinang”. Dengan kata-kata itu seolah mendesak ku dan seolah aku takut untuk
memakannya, aku pun mencoba buah sirih dan pinang. Terbakarlah mulut dan
tenggorokan ku, berasa sebuah hal yang aneh masuk kemulut. Inih racun dalam
hati aku bilang, membuat tenggorokan kereing dan terbakar. Seolah jutaan semut
ada dalam mulut aku, dan menggrogoti mulutku, keluarga yang ada disana pun
tertawa seolah aku anak cupu. Seorang bapak, umbu octan namanya bilang “toh
jawa, tidak biasa makan sirih pinang yang lezat ini”. Hahaha lezat dari
Timbuktu… sambil dimarahin paman gober apa, pikir ku. Lalu mulailah kami berbicara tetang banyak
hal dan bertanya sesuai dengan kuiesoner, aku keluarkan rokok ku lalu aku
tawarkan sebagai balasan untuk sirih pinang. Maka terbukalah mereka dengan
jawaban-jawaban yang kami butuhkan untuk kuisioner itu, ternyata beginilah adat
Indonesia take and give. Kami menjadi seperti keluarga saling bertukar menu,
satu sirih pinang dan satunya rokok. Sang nenek juga ikut ambil rokok dan
merokoklah kami di depan teras sambil berbincang dan tertawa sembari mengisi
kuisoner.
Amazing bukan hanya dari sebelah
kota kabupaten saja sudah mendapatkan banyak hal yang membuat mata terbelalak, masih
ada yang belum bisa dan tidak mengerti Bahasa Indonesia. Aku menjadi sangat
bersemangat untuk menuju daerah lainnya yang lebih dalam dan mungkin lebih
mengasikan dari yang hanya di sebelah kota kabupaten. Dalam waktu seminggu kami
berputar dan bekeliling mengenal dan mengerjakan kuisioner yang telah ada untuk
daerah kecamatan waringin dekat dengan waingapu. Rata-rata serupa dan sejenis
hal yang dialaminya, lahan yang kering batuan kapur dan cadas yang ada membuat
lahan pertanian nya berupa jagung dan biji-bijian.
Mungkin lain kecamatan akan
sedikit berbeda dengan yang ada di dekat kota, seminggu berselang kami
selesaikan pekerjaan di dekat waingapu, lalu kami menuju ke sumba tengah yang
lebih jauh kedalam pulau sumba, yaitu nggaha ori angu. Kecamatan yang ada
mendekati tegah pulau sumba, masih banyak pemandangan lahan kering, padang
sabana disaat perjalanan di kecamatan ini. Pemandangan kehidupan masyarakatnya
hamper sama, merupakan petani dan peternak. Oiya kami kesana menggunakan otto
(truck yang dimodifikasi menjadi alat tranportasi), ada TOA masjid yang nyembul
di atas truck itu. Sudah pasti perjalan kami teriringin music-musik dari
dangdut koplo sampai lagu timor atau maluku. Indah rasanya di bawah kami
terdapat ternak-ternak seperti ayam, babi, dan kambing. Pastinya terasa lah
jejak putualangan, beraroma ternak dan bermusikan house music dengan sound
sytem toa masjid.
Sesekali ikut bergoyang kaki
serasa menendang perut babi gemuk yang ada di bawah, otto ini modifikasi yang
sangat wow. Bak truck yang di belakang di berikan kayu melintang supaya penumpang bisa duduk,
sementara di bawah untuk mengangkut ternak dari si penumpang. Akhirnya
perjalanan kami tiba di kecamatan itu, tempat survei kami selanjutnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar