Pelajaran Agama
Ada sebuah keluarga hidup
disebuah kampung kecil di pinggiran kota, pinggir kota yang tak terlalu ramai.
Di karuniai seorang buah hati laki-laki yang aktif sekali, bocah ini adalah
bocah yang mungkin paling cerewet diantara bocah laki-laki lainnya. Tiada henti
bertanya akan apapun yang membuatnya bingung, atau yang dia ingin ketahui.
Suatu hari dia melihat ayah dan ibu nya beribadah, lalu iya bertanya apa yang
ayah dan ibunya lakukan. Orangtuanya menjawab beribadah menyembah kepada Tuhan
nak, karena Tuhan yang menciptakan dunia dan seisinya termasuk kamu dan kami.
Lalu iya pun bertanya kembali, haruskah melakukannya serta dimana Tuhan. Tuhan
ada disana dan dihati kita nak, ini kewajiban manusia sebagai mahluk ciptaan
nya yang harus menyembahNya. Anak kecil
itu bertanya lagi, adek berarti juga harus melakukan nya nanti kalau tidak
Tuhan marah ya bunda. Iya nanti ikut sembahyang bersama ayah dan bunda yaa.
Selang beberapa tahun anak
kecil ini masuk pada sebuah sekolah religi untuk anak-anak tk. Tiap hari diajarkan
membaca kitab suci dan bernyanyi lagu-lagu religi. Pada suatu hari sang anak
bertanya pada sang guru, apa itu surga dan neraka serta kenapa harus ada. Guru
pun menjawab kalau surga itu untuk orang-orang yang baik, sedang neraka itu
untuk orang-orang yang jahat dan berdosa. Lalu sang anak bertanya lagi apa itu
dosa. Dosa itu perbuataan yang tidak disukai oleh tuhan dan dilarang Tuhan,
maka Tuhan akan menghukumnya di neraka. Maka kamu harus menjalankan apa yang
diminta Tuhan dan jangan melakukan apa yg dilarang Tuhan.
Waktu berganti saat nya si
bocah kecil ini menginjakan kaki di bangku sekolah dasar, sekolah dimana bukan
lagi sekolah religi. Sekolah negeri yang tak jauh dari tempat tinggalnya, pada
saat memasuki kelas 5 dia mencoba bertanya kembali ke guru agamanya. Ia
bertanya kenapa ada beberapa teman sekelasnya kenapa gak ikut pelajarannya. Pak
guru menjawab karena lain agamanya, maka dia ikut pelajaran agama di lain
kelas. Bocah itu bertanya lagi, kalau agamanya lain apa Tuhannya lain. Kepercayaan
kepada Tuhannya lain, mereka menyembah dengan cara yang lain juga. Bocah itu
pun belum puas dengan jawaban dari sang guru, lalu Tuhannya gimana pak, apakah
lain juga atau sama. guru menjawab kamu belajar dulu dan ikuti pelajaran bapak,
nanti kamu akan paham. Dia pun mengangguk dan terdiam memperhatikan pelajaran
dari si guru agama.
Selang beberapa tahun masuk
lah si bocah ini menginjak remaja, di masa-masa yang sangat pengen tahu dan
merasa tahu. Pada waktu pelajaran agama di kelasnya ia mulai bertanya kembali
pada guru smp nya. Karena dia merasa tidak mendapatkan jawaban pada masa sd
nya, ia bertanya tentang nasib teman nya yang berbeda agama. Si guru menjawab
ya mereka gak percaya pada agama ini, maka mereka kita sebut kafir. Wah berarti
masuk neraka dong pak, dan juga gak bakal dapat surga kalau begitu. Iya
mungkin, kalau mereka tercerahkan pasti akan masuk surge. Si bocah menjawab,
tapi mereka kan baik-baik semua bahkan sangat baik rajin menolong juga gak
nakal. Guru mulai menjawab dengan nada tegas, karena itu sudah ada dalam
ketentuan agama. Agama yang gak adil atau Tuhan yang gak adil pak guru,tanya si
bocah. Guru pun nyeletuk dengan
kata-kata yang membikin si anak diam, “wah anak komunis ini” dilanjut dengan menjawab
itu terserah Tuhan. Kamu kalau tidak suka pelajaran bapak bisa keluar dari
kelas saja, gak mungkin bapak Cuma jawab pertanyaan mu saja.
Dia terdiam lalu mengikuti
pelajaran tanpa banyak bertanya lagi, sekalipun di lain hari guru memberikan
waktu untuk bertanya ia enggan untuk mengangkat tangan dan bertanya.
Dan tiba saat dia di
masa-masa remaja beranjak dewasa, masa-masa SMA. Dia sudah melupakan dan tidak
lagi memikirkan hal-hal yang berbau agama. Namun ketika beranjak di kelas 3 SMA
di beranikan diri untuk bertanya pada sang guru. Karena guru sedang menerang
kan tentang surga dan neraka, pak bagaimana nasib orang-orang yang diluar agama
ini. Guru menjawab neraka karena mereka termasuk kafir. Walapun mereka baik dan
berbuat baik pak, saut sang murid. Guru pun menjawab iya, karena mereka telah
tahu ada agama ini yang menyampaikan kebenaran tetapi mereka tetap percaya pada
yang selain Tuhan dalam agama ini. Wah terus kalau orang-orang yang sebelum
agama ini ada gimana pak? Atau orang-orang dipedalaman yang jauh dari akses
informasi saut sang bocah. Guru menjawab dengan nada yang sedikit keras, kalau
orang sebelum agama ini ada itu hak Tuhan, kalau yang sesudah ya tetap kafir
namanya. Si bocah pun merasa aneh mendengar jawab sang guru lalu dia
mengagetkan seisi kelas , bapak ini kok kayak Tuhan menentukan yang mana masuk
surge, mana masuk neraka, kan kasihan kalau masuk neraka, salah mereka apa ?
agama saya ini juga Cuma agama keturunan yang di tularkan sama orang tua saya.
Mereka juga senasib seperti halnya saya, mungkin bapak kalau lahir di agama
yang lain pasti menganut agama itu juga.
Kamu lancang dan keluar
dari kelas saya, jawab sang guru dengan membentak sang anak. Saya pastikan
nilai mu tidak lebih dari 5 atau mungkin kurang. Kamu sok tahu dan mencoba
menganggu pelajaran agama ini, pertanyaan mu gak ada ujungnya. Mau jadi komunis
kamu hah, sana keluar untuk kamu bisa ikut lagi pelajaran agama ini, harus
membuat surat pernyataan yang di tandatangan orang tua mu dan kepala sekolah.
Si bocah pun keluar sambil bingung apa hubungan komunis dengan agama yaa ??
Di hari selanjutnya
orangtuanya pun datang ke sekolah, bersama si bocah menghadap ke kepala
sekolah. Didalam ruangan kepala sekolah memberikan wejangan kepada murid dan
orantua, bahwa harus menghormati seorang guru. Bertanya itu boleh dan bagus
namun jangan menanyakan hal-hal yang mendasar yang tidak jelas ujung nya. Begitu
kata kepala sekolah, banyak murid dan guru yang prihatin dengan sikap anak
bapak. Mungkin perlu didik agama secara lebih mendalam lagi, pelajaran agama
kan sudah ada panduan nya jadi ikutilah panduan itu karena itu jalan kebenaran.
Si bocah pun tertunduk
karena sedih hal seperti ini harus melibatkan orang tuanya, dan cap tudingan
dari para guru yang jatuh ke orang tuanya serta ke dirinya. Mungkin jika hanya
dirinya ia gak akan merasa sedih, karena mnyangkut keluarga membuatnya menjadi
sedih. Hukuman masyarakat yang menuding dengan keras dan tatapan tajam seolah
keluarga tak beragama dan tidak bermoral.
Lalu orang tua
menandatangani surat peryataan bahwa si anak tidak akan mengulangi hal itu
kembali. Guru agama pun tersenyum lebar dan merasa kemenangan akan hal yang
membuatnya malu di muka murid-muridnya. Tatapan yang seolah mengatakan akulah
sumber kebenaran dan juga mengatakan udah lah jangan sok pintar kamu. Menatap mata
muridnya yang tertunduk dan seolah memberikan motivasi, sembari berkata udah
bapak maafkan kok. Tuhan aja maha pemaaf, bapak ini hanya lah ciptaannya jadi
buat apa bapak marah dan tidak memaafkan mu.
Dalam hati si bocah “aku salah
apa hingga aku kamu maafkan, bukankah tugas mu memberi pencerahan kepada ku
tentang hal yang aku ingin tahu”, sembari mengangguk dan menatap balik tatapan
gurunya. Dan akhirnya berempat keluar dari ruang guru, orang tua berterimakasih
atas kebaikan hati dan kebijakan dari kepala sekolah dan guru. Sambil tersenyum
terlihat oleh seluruh guru yang memang kantornya berada di depan kantor kepala
sekolah. Seolah hal yang memalukan ini telah selesai dan tidak menyebar menjadi
virus bagi yang lain, atau tidak sampai keluar dari sekolah hal yang seperti
ini.
SMU pun terlewati dengan
baik oleh si bocah, beranjak menuju tempat kuliah dia bingung dengan pilihannya
apa yang sebaiknya dia pilih untuk melanjutkan study nya. Tak sengaja dia
membaca buku dari seorang pengarang terkenal, imam al gozali yang berkata
mengharamkan filsafat. Anak ini lalu tertarik untuk mengambil kuliah pada focus
study ini, ya philosopy atau filsafat. Tp kampus ini hanya ada di salah satu
perguruan tinggi ternama di kota itu, yang mungkin tidak pernah terbayangkan
untuk bisa masuk kesana. Namun akhirnya dia masuk juga ke kampus yang ia
idam-idamkan, bayangan ketika dia ada disana adalah orang-orang yang
berpandangan terbuka atau open mind. Masuk lah ia pada tahun pertama kuliah,
pada kuliah agama yang dia jalani, ia pun sempatkan bertanya kepada sang dosen.
Tentang pertanyaan yang sama sewaktu dia masih sd-smp-smu, dan di jawab dengan
sangat diplomatis standart kuliahan. Bawasan nya adalah hak Tuhan menentukan
siapa saja yang masuk ke surga ataupun ke neraka.
Dia pun kembali bertanya,
jika semacam itu berarti apapun agamanya itu agama Tuhan. Karena hak Nya lah
yang menentukan siapa aja yang bakal masuk kedalamnya, apapun agamanya. Mungkin
akan di bedakan dari tingkat kelakuan semasa mereka hidup. Jadi gak ada kaum
kafir ataupun kaum murtad dalam agama apapun, pencerahan Tuhan bisa lewat agama
apapun. Sang dosen menjawab ya tidak seperti itu, karena agama ini adalah agama
yang paling benar dan yang lain berarti tidak menyakini Tuhan yang sebenarnya. Lalu
si bocah menjawab lagi, bagaimana bisa dan mungkinkah jika orang-orang diluar
sana itu belum mengenal, mengetahui ataupun sudah memeluk agama sedari lahir. Seperti
halnya kita yang memeluk agama ini sedari kecil, dipaksa untuk memeluknya. Bahkan
dipaksa untuk menjalankan ritualnya sehari-hari dengan ketakutan akan neraka
dan mimpi tentang surge. Apakah bapak pernah berfikir jikalau agama ini salah
berapa orang yang bapak ajak ke neraka.
Kamu anak semester awal
sudah menanyakan hal yang aneh, ya inilah mahasiswa filsafat yang keblinger
mendewakan logika. Padahal segala ilmu itu bersumber dari Tuhan dzat yang Maha,
jadi jika kamu mencari hal-hal yang sekiranya meragukan mu maka kamu berada di
tengah kegelapan. Hingga di berikan pencerahan tidak mau menerima dan selalu
mempertanyakan.
Pupus lah harapan dan
mimpinya di semester pertama dikampus itu, mimpinya tentang menemukan jawaban
dari berbagai hal yang berkecamuk di kepalanya hanya di jawab dengan diplomatis
dan juga tidak memuaskan. Cap sebagai mahasiswa filsafat yang tergelapkan dan
tidak mendapat pencerahan pun terusung di pundaknya.
Kerena menanyakan sesuatu
yang tidak lazim dan cendrung membingungkan itu adalah tabu dinegeri ini,
agamanya adalah yang paling benar menurut masing-masing agama. Tentang hal-hal
yang mencoba menelisik lebih jauh pun hanya akan mendapatkan cap dan sentiment negative
dari yang mendengarkan. Atheis, komunis, adalah cap yang akan disandang oleh
orang-orang yang mencoba menanyakan dan mencari tahu. Padahal komunis apakah
ada hubungannya dengan agama dan tuhan, banyak negara komunis juga beragama dan
bertuhan. Kalau atheis masih wajar lah disandang oleh orang yang mempertanyakan
hal ini.
Mungkin memang doktrin
selama 32th membuat orang-orang enggan bertanya dan menanyakan. Mimpi-mimpi
indah surga dan ketakutan yang di ciptakan oleh neraka membuatnya terhenti
untuk bertanya bahkan mencoba mencari tahu kebenaran yang hakiki. Ketakutan dan
keindahan mimpi akan surga menumpulkan nalar, tentang kebenaran tetaplah kebenaran,
dan kejahatan tetaplah kejahatan.
Pernah si bocah ini juga
bertanya kepada seorang guru agamanya, kenapa orang-orang meminta doa kepada
para pemuka agama. Apakah mereka tidak yakin akan doanya sendiri tidak akan di
terima oleh Tuhan. Guru agamanya menjawab dengan hal yang janggal, bahwa pemuka
agama mungkin lebih dekat dengan Tuhan sehingga jika ia mendoakan maka akan
cepat terwujud. Padahal pada setiap kitab di jelaskan tentang Tuhan akan
mendengarkan setiap doa hambanya. Hak tuhan lah kapan hal itu akan terkabul kan
dan terwujud.
Ada juga pemuka agama yang
sesumbar mau menuntut Tuhan atau menggugatNya jika keinginannya gak terpenuhi. Adalagi
yang menyatakan jika hal yang salah dan merugikan orang banyak akan baik
jadinya jika keuntungan itu di pakai untuk membangun rumah Tuhan. Apakah orang-orang
seperti ini layak menyandang gelar pemuka agama ?? apakah Tuhan itu sekerdil
itu sehingga mampu di gugat oleh manusia ?? apakah tuhan serendah itu sehingga
Dia mau masuk ke rumah Nya yang didirikan dari hal yang merugikan orang banyak,
menyiksa orang banyak, serta membodohi orang banyak ? apakah Tuhan ayat Tuhan
sehina itu, hanya untuk memenuhi nafsu bejat birahi selangkangan juga haus
harta kekayaan, sehingga orang-orang yang mengaku pemuka agama ini dengan
bebasnya mengumbar ayat tuhan untuk melakukan hal-hal memuaskan nafsu mereka ??
apakah orang-orang seperti ini bukan termasuk penghina ayat-ayat Tuhan, hanya
karena mereka seagama ??
Dan ketika agama dijadikan
tameng untuk membebaskan orang berbuat kekerasan, berbuat keonaran, berbuat
semaunya mereka, atas nama agama, apakah agama ini sehina itu ?? apakah hanya
karena miskin dia tidak berhak untuk datang kerumah Tuhan ?? apakah karena
miskin maka pemuka agama selalu menjual surge dan menakuti dengan neraka ??
karena 32 th di manjakan, sehingga ingin ke surga dengan cara yang singkat, walapun
miskin maka berjuang dng maju paling depan membela pemuka agama yang dia
sendiri mungkin tak bisa menolong dirinya sendiri di hadapan Tuhan.
Karena si miskin berkhayal
jika suatu saat pemuka agama ini lah yang akan menolongnya menuju surga,
padahal dalam agama sudah di beri tahu bahwa tidak aka nada yang bisa menolong
siapapun di hadapan Tuhan kecuali si pembawa pesan dan kesayangan tuhan. Dan itu
pun Cuma dia seorang saja, bukan para pemuka agama yang mereka bela mati-matian
atas apa yang di ucapkan, demi kepentingannya.
Semoga suatu saat nanti
sekolah menjadi tempat bertanya, menjadi tempat yang benar-benar menggali ilmu.
Bukan hanya menuruti apa yang sudah ditulis dan disepakati secara kelompok
agama atau dilihat dari sisi untung rugi saja, serta kepentingan penguasa
Si bocah tadi pun menjadi
agnostic , yang mungkin di bilang trend anak muda sekarang. Tapi sebenernya
berawal dari kekecewaan yang dia alami, lihat, dan rasakan.