Senin, 22 Agustus 2016

Perjalanan 4

Perjalanan 4
Kami berjalan pulang menuju sekolah bersama bapak guru yang mengantarkan kami, menikmati senja dipadang savanna. Tapi kami harus bergegas jika tidak nanti akan malam sampai di tengah jalan, takutnya ular berbisa itu memang benar adanya di padang savanna itu. Sesampai di sekolah pak kepala sekolah telah menanti di depan rumah dinasnya. Rumah dinasnya memang berada di sebelah sekolah, tadi tidak begitu memperhatikan ternyata ada ruang yang ternyata rumah dinas. Aroma kopi dan gorengan ketela tercium dari kejauhan perjalanan menikmati senja yang agak tergesa-gesa itu pun cukup membuat perut kami lapar. Kami singgah barang sebatang dua batang rokok sambil ngobrol dengan pak kepala sekolah. Tentang kehidupan disana, sekolah disana yang memang penuh perjuangan pada awalnya, dengan penerangan genset yang didapat dari LSM. Genset itu sendiri hanya digunakan ketika kepala sekolah kedatangan tamu atau lembur mengerjakan laporan untuk di kirim kekecamatan atau kabutapen. Selain itu keluarga menggunakan pelita (lentera dari minyak).
Hari mulai larut malam dan kamipun berpamitan ke pak kepala sekolah, harus segera bergegas pulang. Masih ada waktu satu hari lagi sebenarnya namun beberapa data sudah kami dapatkan, mungkin satu hari itu cukup untuk istirahat sebentar menikmati hari di kecamatan. Dalam perjalanan pulang memang gelap gulita, untung cuaca bersahabat, setidaknya ada cahaya bulan yang sedikit membantu kami selain penerangan dari kendaraan. Melintasi jalan pulang yang sepi sunyi seolah tidak ada kehidupan di tempat itu. Lalu sesampaidi jalan raya yang masih gelap terlihat beberapa obor dan senter penerangan yang jalan perlahan. Terlihat beberapa pemuda menuntun kerbau yang memanggul setidaknya 4 jirigen besar kanan-kiri. Mereka baru saja mengambil air bersih yang ada tak jauh dari kecamatan.
Sesampainya di basecamp kami segera beberes dan melakuan kegiatan seperti biasa, mengecek ulang data dan bersih-bersih bercanda sebentar lalu tidur. Pagi menjelang terdengar sedikit riuh di lapangan sekolah yang hanya beberapa meter dari tempat kami tinggal. Dan ternyata ada pasar dadakan, semacam pasar tiban kalau di jawa. Aktifitas jual beli, hiburan rakyat, dan lain-lain berada disana. Aku duduk didepan sambil menikmati secangkir kopi pagi. Suara taka sing menyapaku agak kejauhan, ternyata bapak kepala desa turun gunung untuk membeli beberapa kebutuhan dan juga menikmati Susana pasar, di kawal dengan beberapa anaknya. Aku memintanya mampir ke basecamp kami, namun dia menolak karena ada urusan yang harus dikerjakan.
Agak sedikit siang taufik salah satu anggota tim menanyakan mau diapakan ayam ini, ya kamu potong saja lah bisa buat makan siang dan malam sekalian. Dia bergegas memanggil para srikandi untuk bersiap mengolah ayam, ada tiga wanita super yang ada di basecamp dengan kemampuannya masing-masing. Akhirnya ayam putih betina besar telah terkapar tak berdaya di tangan taufik, beberkal cutter yang ada. Karena harus tajam biar tidak menyiksa hewan yang kita sembelih, hmm yaa dan berakhir di perut kita kan. Menikmati satu hari itu dengan suguhan ayam yang di olah oleh ke tiga srikandi, kelezatanya mengingatkan kami pada kampung halaman. Bapak gordon, bang jo, dan kak rony juga sangat menikmati masakan itu, walaupun mungkin lidahnya agak berbeda mengenai rasa.
Kami habiskan waktu satu hari untuk mengecek ulang data –data yang sudah ada, sekalian membantu input data. Kopi rokok dan main sepak bola sebentar bersama anak-anak sekitar di depan sekolah cukup membuat kami fresh. Menjelang malam kami beberes untuk melanjutkan perjalanan kami menuju kecamatan berikutnya. Kami menuju kecamatan tempat kecamatan selanjutnya ada di pinggir jalan, katala hamu lingu. Kota kecamatan yang dipinggir jalan dan berdekatan dengan hutan lindung membuat udara cukup lumayan dingin. Tidak seperti di kecamatan sebelumnya, namun mungkin medan yang akan di jajaki lebih menarik dan menantang.
Benar adanya masuk kebeberapa desa disana, melakukan rutinitas seperti biasa mendata penduduk dan kehidupannya. Rata-rata peternak dan petani jagung serta umbi-umbian, penduduk yang sangat ramah dan bersahaja. Kami menginap di belakang puskesmas dan memulai petualangan pada hari kedua, dimana aku harus masuk ke sekitaran hutan lindung karena ada didesa di dalam sana. Hutan aku lewati dengan sepeda motor ku. Masuk melintasi  hutan yang tidak begitu besar pada jalan itu. Lalu masuk kedalam, jalan menukik turun. Padang besar di bawah membuat tertantang berasa sedang reali paris Dakar. Yang lebih mempesona lagi adalah ketika kami Tarik gas kencang diatas kami ada burung elang yang memang dilindungi menukik tajam kedepan sepeda motor. Berjarak sekitar 10 meter didepan kami, seolah memberitahu kami “akulah penguasa disini”. Sayang sekali mahasiswa miskin ini belum berbekal DSLR atau alat rekam visual, kalau iya dah tak jual film nya ke NG atau tv.  Tapi mungkin memang harus dinikmati dengan seperti ini.
Jalannya masih berbatu kapur dan cadas menurun dan menukik, batu-batu besar putih di sepanjang jalan. Apa mungkin ada gunung berapi yang batunya putih ya, ni bebatuan asalnya dari mana pikirku, mencoba mikir hal yang lain.  Pertemuan penduduk seperti biasa mencari data di setiap desa-desa bahkan kecamatan sebelah mungkin dan satu atau dua desanya. Aku kebagian yang desa-desa menjadikan ku lebih kedalam dan berbaur dengan masyarakat, kurang nyaman dengan birokasi yang aneh-aneh. Perjalanan lancer rumah dan suasana tak beda jauh dengan kecamatan sebelumnya. Harusnya ada beberapa kecamatan lagi yang kedalam. Namun menurut tim leader yang lebih mirip cheerleader meminta untuk yang lebih mudah dulu. Setelah 3 hari kami di kecamatan ini. Kami pindah ke kecamatan yang konon katanya lumbung padinya sumba. Kecamatan lewa merupakan penghasil beras terbesar di pulau ini, wah tentu air sangat melimpah disana. Dan sudah mendekati musim hujan dimana sedikit menyeramkan katanya dengan sambaran petirnya.

Kami berpamitan dengan pak camat Kata Hamu Lingu lalu berpamitan pula dengan bu dokter cantic yang ada disana, baru ketemu setelah hari ketiga. Belum sempat mencoba cinlok sudah keburu berangkat ke tujuan berikutnya, disana juga ada pak dokter dari jawa yang baru selesai cuti kerja. Cuti menikah dan kembali mengabdi kemasyarakat di pedalaman pulau sumba. Motornya trial seri terbaru dari salah satu produsen jepan,sembari nongkrong diatasnya dia memberikan salam perpisahan. Kali ini ke lewa dengan angkutan otto namun tidak membawa ternak lagi karena penuh dengan bahan material. Hanya mampu menampung manusia saja, dengan perbekalan bukan bukan pindahan rumah. Begitulah otto (truck) multifungsi yang bisa mengangkut dan mengantar sekaligus, bahkan diatarkan sampai depan tempat tujuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar