Perjalanan 4
Kami berjalan pulang menuju
sekolah bersama bapak guru yang mengantarkan kami, menikmati senja dipadang
savanna. Tapi kami harus bergegas jika tidak nanti akan malam sampai di tengah
jalan, takutnya ular berbisa itu memang benar adanya di padang savanna itu.
Sesampai di sekolah pak kepala sekolah telah menanti di depan rumah dinasnya.
Rumah dinasnya memang berada di sebelah sekolah, tadi tidak begitu
memperhatikan ternyata ada ruang yang ternyata rumah dinas. Aroma kopi dan
gorengan ketela tercium dari kejauhan perjalanan menikmati senja yang agak
tergesa-gesa itu pun cukup membuat perut kami lapar. Kami singgah barang
sebatang dua batang rokok sambil ngobrol dengan pak kepala sekolah. Tentang
kehidupan disana, sekolah disana yang memang penuh perjuangan pada awalnya,
dengan penerangan genset yang didapat dari LSM. Genset itu sendiri hanya
digunakan ketika kepala sekolah kedatangan tamu atau lembur mengerjakan laporan
untuk di kirim kekecamatan atau kabutapen. Selain itu keluarga menggunakan
pelita (lentera dari minyak).
Hari mulai larut malam dan
kamipun berpamitan ke pak kepala sekolah, harus segera bergegas pulang. Masih
ada waktu satu hari lagi sebenarnya namun beberapa data sudah kami dapatkan,
mungkin satu hari itu cukup untuk istirahat sebentar menikmati hari di
kecamatan. Dalam perjalanan pulang memang gelap gulita, untung cuaca
bersahabat, setidaknya ada cahaya bulan yang sedikit membantu kami selain
penerangan dari kendaraan. Melintasi jalan pulang yang sepi sunyi seolah tidak
ada kehidupan di tempat itu. Lalu sesampaidi jalan raya yang masih gelap
terlihat beberapa obor dan senter penerangan yang jalan perlahan. Terlihat
beberapa pemuda menuntun kerbau yang memanggul setidaknya 4 jirigen besar
kanan-kiri. Mereka baru saja mengambil air bersih yang ada tak jauh dari
kecamatan.
Sesampainya di basecamp kami
segera beberes dan melakuan kegiatan seperti biasa, mengecek ulang data dan
bersih-bersih bercanda sebentar lalu tidur. Pagi menjelang terdengar sedikit
riuh di lapangan sekolah yang hanya beberapa meter dari tempat kami tinggal.
Dan ternyata ada pasar dadakan, semacam pasar tiban kalau di jawa. Aktifitas
jual beli, hiburan rakyat, dan lain-lain berada disana. Aku duduk didepan
sambil menikmati secangkir kopi pagi. Suara taka sing menyapaku agak kejauhan,
ternyata bapak kepala desa turun gunung untuk membeli beberapa kebutuhan dan
juga menikmati Susana pasar, di kawal dengan beberapa anaknya. Aku memintanya
mampir ke basecamp kami, namun dia menolak karena ada urusan yang harus
dikerjakan.
Agak sedikit siang taufik salah
satu anggota tim menanyakan mau diapakan ayam ini, ya kamu potong saja lah bisa
buat makan siang dan malam sekalian. Dia bergegas memanggil para srikandi untuk
bersiap mengolah ayam, ada tiga wanita super yang ada di basecamp dengan
kemampuannya masing-masing. Akhirnya ayam putih betina besar telah terkapar tak
berdaya di tangan taufik, beberkal cutter yang ada. Karena harus tajam biar
tidak menyiksa hewan yang kita sembelih, hmm yaa dan berakhir di perut kita
kan. Menikmati satu hari itu dengan suguhan ayam yang di olah oleh ke tiga
srikandi, kelezatanya mengingatkan kami pada kampung halaman. Bapak gordon,
bang jo, dan kak rony juga sangat menikmati masakan itu, walaupun mungkin
lidahnya agak berbeda mengenai rasa.
Kami habiskan waktu satu hari
untuk mengecek ulang data –data yang sudah ada, sekalian membantu input data.
Kopi rokok dan main sepak bola sebentar bersama anak-anak sekitar di depan
sekolah cukup membuat kami fresh. Menjelang malam kami beberes untuk
melanjutkan perjalanan kami menuju kecamatan berikutnya. Kami menuju kecamatan
tempat kecamatan selanjutnya ada di pinggir jalan, katala hamu lingu. Kota
kecamatan yang dipinggir jalan dan berdekatan dengan hutan lindung membuat
udara cukup lumayan dingin. Tidak seperti di kecamatan sebelumnya, namun
mungkin medan yang akan di jajaki lebih menarik dan menantang.
Benar adanya masuk kebeberapa
desa disana, melakukan rutinitas seperti biasa mendata penduduk dan
kehidupannya. Rata-rata peternak dan petani jagung serta umbi-umbian, penduduk
yang sangat ramah dan bersahaja. Kami menginap di belakang puskesmas dan
memulai petualangan pada hari kedua, dimana aku harus masuk ke sekitaran hutan
lindung karena ada didesa di dalam sana. Hutan aku lewati dengan sepeda motor
ku. Masuk melintasi hutan yang tidak
begitu besar pada jalan itu. Lalu masuk kedalam, jalan menukik turun. Padang
besar di bawah membuat tertantang berasa sedang reali paris Dakar. Yang lebih
mempesona lagi adalah ketika kami Tarik gas kencang diatas kami ada burung
elang yang memang dilindungi menukik tajam kedepan sepeda motor. Berjarak
sekitar 10 meter didepan kami, seolah memberitahu kami “akulah penguasa
disini”. Sayang sekali mahasiswa miskin ini belum berbekal DSLR atau alat rekam
visual, kalau iya dah tak jual film nya ke NG atau tv. Tapi mungkin memang harus dinikmati dengan
seperti ini.
Jalannya masih berbatu kapur dan
cadas menurun dan menukik, batu-batu besar putih di sepanjang jalan. Apa
mungkin ada gunung berapi yang batunya putih ya, ni bebatuan asalnya dari mana
pikirku, mencoba mikir hal yang lain.
Pertemuan penduduk seperti biasa mencari data di setiap desa-desa bahkan
kecamatan sebelah mungkin dan satu atau dua desanya. Aku kebagian yang
desa-desa menjadikan ku lebih kedalam dan berbaur dengan masyarakat, kurang
nyaman dengan birokasi yang aneh-aneh. Perjalanan lancer rumah dan suasana tak
beda jauh dengan kecamatan sebelumnya. Harusnya ada beberapa kecamatan lagi
yang kedalam. Namun menurut tim leader yang lebih mirip cheerleader meminta
untuk yang lebih mudah dulu. Setelah 3 hari kami di kecamatan ini. Kami pindah
ke kecamatan yang konon katanya lumbung padinya sumba. Kecamatan lewa merupakan
penghasil beras terbesar di pulau ini, wah tentu air sangat melimpah disana.
Dan sudah mendekati musim hujan dimana sedikit menyeramkan katanya dengan
sambaran petirnya.
Kami berpamitan dengan pak camat
Kata Hamu Lingu lalu berpamitan pula dengan bu dokter cantic yang ada disana,
baru ketemu setelah hari ketiga. Belum sempat mencoba cinlok sudah keburu
berangkat ke tujuan berikutnya, disana juga ada pak dokter dari jawa yang baru
selesai cuti kerja. Cuti menikah dan kembali mengabdi kemasyarakat di pedalaman
pulau sumba. Motornya trial seri terbaru dari salah satu produsen jepan,sembari
nongkrong diatasnya dia memberikan salam perpisahan. Kali ini ke lewa dengan
angkutan otto namun tidak membawa ternak lagi karena penuh dengan bahan
material. Hanya mampu menampung manusia saja, dengan perbekalan bukan bukan
pindahan rumah. Begitulah otto (truck) multifungsi yang bisa mengangkut dan mengantar
sekaligus, bahkan diatarkan sampai depan tempat tujuan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar