Kamis, 29 September 2016
Kepada Nara Rakhmatia
Kita bangsa yang pemberani
Minggu, 25 September 2016
Berebut kursi di ibu kota
Seorang ibu terdiam ketika melihat anaknya meminta ijin, karena diam si ibu sang anak mencoba mencari perhatian dng berbagai cara. Mengumpulkan teman-temannya agar dia mendapat ijin untuk duduk dikursi itu lagi. Lalu berkumpulah rame-rame teman-temannya, namun sang ibu masih terdiam. Si anak mengajak teman sepermainan nya yang bukan pilihan ibu nya, namun sang ibu tetap terdiam. Setelah itu paman, bibi, nya melihat dan memberi dukungan ke sang anak, Namun sang ibu tetap diam. Si ibu tentunya hanya diam bukan menutup mata, membuat si anak penasaran kenapa dia hanya diam. Setelah si ibu melihat semua usaha dan kerja kerasnya, serta memastikan anaknya akan di bantu dan dilindungi paman dan bibinya yg biasanya jahat. Maka sang ibu pun memberi restu kepada sang anak agar duduk kembali ke kursi goyang.... Namun dng syarat ditemani oleh teman pilihan sang ibu.
Berbeda keluarga yang lain nya, ada anak mencoba menarik perhatian ayahnya. Bahkan mengahbiskan uang jajannya hanya untuk membuat poster, video, dan lain-lain. Keinginannnya sama ingin duduk di kursi goyang, karena itu menjadi impiannya. Si anak mencoba segala hal untuk menarik perhatian sang ayah yg sibuk ini. Pada suatu hari sang ayah memanggil sang anak, lalu ia mengajaknya duduk bersama. Lalu sang ayah bertanya ke sang anak, "nak bapak ingin dia duduk di kursi goyang itu, apakah kamu akan marah?" sang anak menjawab "tapi ayah teman ku ini pernah menghina mu, waktu ayah mau duduk di kursi goyang yg besar itu". "biar lah nak, yg kutanyakan pada mu jawablah dulu" kata sang ayah. " aku tidak marah, namun ijinkan ku untuk menemaninya minimal disebelahnya.... Karena sebelum ini aku udah menengok tempat kursi itu ditaruh dan aku dah bilang ke teman-teman, aku menengok calon kursi yang akan ku duduki esok, biar muka ku gak malu ayah" jawab sang anak. "orang ini lugu nak, jika esok dia tergoyang dan jatuh, siapa tahu kamu bisa duduk di kursi itu" jawab sang ayah.
Pada keluarga yg lain terjadi hal yg lain pula, sebuah keluarga yg penuh prihatin dan rasa sayang. Ayah nya sedang berbincang pada sang ibu diteras rumah, si ibu sedang membersihkan kameranya. "sudah lama kamera ini tak digunakan ayah, adakah cara biar mama bisa hunting lagi". "Sudah lah ma, ayah sudah 2x jadi, sekarang sudah tak bisa lagi duduk di kursi goyang yg mewah itu" jawab si suami. Lalu istrinya berfikir keras sambil membersihkan lensa-lensa besar yg sering ia gunakan dulu selama 2 periode. Ditemani pembantunya yg cantik yg membawakan lap dan kipas angin kecil dibelakangnya(udara sering gerah). Si ibu tiba-tiba mempunyai ide, "bagaimana kalau anak kita duduk di kursi goyang yg sedang dulu yaah, sementara dia duduk ibu bisa hunting, nanti dia duduknya ditemani asisten kita". "kursi yang dia kejar beda bu, dia mengejar bintang dan kursi yang lebih terlihat gagah" jawab sang ayah. "cobalah ayah bertanya padanya, atau kita tanyakan berdua" jawab si istri. Lalu si istri meminta ajudannya memanggil si anak, yang rapu berseragam dan terlihat seperti suaminya pada masa muda. "malam ini ibu dan bapak mau menanyakan pada mu, gus kamu mau gak duduk disana, karena bapak dan ibu ingin sekali melihat mu duduk disana, ini permintaan ibu mu nak... Jika kamu duduk dikursi pilihan mu terlalu lama nak." tanya sang ibu. Anaknya kaget dan gak menyangka orangtuanya akan bertanya hal yg demikian. "lakukanlah ini demi ibu mu nak, lihat lah kamera ibu mu... Tak lagi bisa cekrek2 karena papa mu sudah pensiun" lalu sang anak pun dengan berat hati menjawab "baiklah bu, aku mau" setelah itu sang anak masuk kamar dan menulis surat kepada kursi berbintag. Dia mundur untuk menggapai kursi langit, yang mungkin suatu saat nanti lebih tinggi dari orang yg duduk dikursi bintang.
Sebuah kisah keluarga yang hidup di ibu kota, tentang perebutan kursi..
Rabu, 21 September 2016
Sungguh negeri yg ajaib
Seorang anak kecil berlarian di lapangan pinggir senayan memandang sebuah stadion megah. Ia berlari seolah dia akan menaklukan dunia dengan kakinya. Disamping jalan ada si penjual teh botol seusia bocah yg berlari tadi, menjajakan botol minuman kepada yang haus. Didepan berdiri megah gedung menara setasiun tv nasional, yang seolah mencakar langit tanpa kuku. Hilir mudik lalu lalang kendaraan yang ramai, terdengar sirine patwal mengawal rombongan mobil mewah hingga tiada yg menghalang. Takut jika ada yg menghalang maka rombongan terhenti sehingga mesin mobil mewah itu akan terbakar.
Ada juga vorider sepeda motor diikuti rombongan genk anak motor yang penumpangnya bukan anak-anak lagi. Mereka tidak bisa pelan jika pun pelan tak kuasa menahan berat motor. Bukan karena usia motor yang tua, kaki tua pengendara yang tak kuasa menahan beban. Faktor usia menyebabkan genk anak motor satu ini butuh pengawalan extra.
Ada juga yang sedang ngopi diwarung sebelah kedai bakso mahal samping hotel mewah, belakang gedung para wakil.
Khusuk membicarakan siapa pembunuh yang sebenarnya, dan bagaimana sianida itu masuk kedalamnya. Sruput kopi dan kepulan asap rokok menambah khusyuk perbincangan mereka tentang bagaimana nasib persidangan itu. Padahal mereka pun punya nasib bagaimana hari ini?? Seruputan kopi dan kepulan asap melupakan didepannya juga sebuah gedung sidang yang ramai, ramai membahas nasib mereka yang mewakili bukan tentang nasib yang diwakili. Tak kalah seru obrolan depan pangkalan ojek, yang membahas nasib kota ini. Satu logat sunda dan satu logat jawa dengan bahasa kota. Pernah tak mangkal hanya ingin memperpanjang ktp dikampung. Ya ini tentang nasib mereka berada dikota itu, apakah akan mendapatkan fasilitas yang sama seperti orang-orang yang lain.
Menikmati suasana pasar menuju halte busway, bersama seorang bapak-bapak yg sangat religis penampilannya. Duduk menunggu bis datang bersama teman nya, ia tiada henti menghujat dan mengkritik pemimpin kotanya. Mungkin hanya karena beda keyakinannya, hingga berbuih ia mengucapkan dalil-dalil. Hingga bus itu datang, bus buatan eropa dan terbaru dengan ukuran yang lebih lega serta nyaman dng ac didalamnya. Lalu bapak religis dan temannya masuk duduk dan meneruskan obrolan tentang hujatan.
Pada sebuah minggu...
Rabu, 07 September 2016
Ahok-jokowi lovers and haters, yg terlena....
Berasa memang negeri infotaiment atau memang negeri yang selonya tiada tara. Tanah subur makmur lempar padi tumbuh padi, lempar jagung tumbuh jagung, lempar beton tumbuh gedung.
Saking kayanya negeri ini, lempar ahok dan jokowi tumbuh hater dan lover. Dan subur sampai kebawah-bawah, jadi obrolan dari yang angon bebek ampe yang kerjaan nya paripurnaan. Kalau jokowi mungkin karena dia menjadi pemimpin satu negara pantaslah diobrolkan seluruh negeri. Lah ahok dia dijakarta trus yg belum pernah liat monas aja bisa ngomongin, ampe kadang bisa lebih tahu. Emang ajaib perkembangan negeri ini lewat internet, bisa buat orang ngomong banyak hal.
Bisa bikin anak sd nangis sesegukan kalau walikotanya entar pindah ke ibu kota, serta bisa bikin setiap jari menghujat dan menyanjung. Setelah sekian lama ini kok jadi nya terlihat ini terbentuk yaa, mungkin hanya aku yang membacanya atau yang lain juga.
Ada tulisan menarik yang sempat tak baca di facebook, bahwa tanah sawah digusur pindah ke kota digusur. Sawah nya sepertinya ditinggalkan oleh para pemudanya karena tertarik kerja dikota, sedang tanah dikota yg dijadikan tempat tinggal memang bukan tanahnya. Trus gimana coba di daerah dipaksa jual tanah, nyampai dikota tanah yang bukan miliknya digusur.
Sedih sebenernya melihat kenyataan ini, namun berita ini sungguh memuakan karena selalu diisi kepentingan entah itu lover ataupun haters.
Masalah yang penting untuk bersama malah gak pernah ada yg demo besar-besaran baik lover ataupun haters. Gak ada galang aksi solidaritas kumpul ktp untuk menentang atau menuju tujuan bersama.
Simple nya adalah, masalah HUKUM baik korupsi ataupun yang lainnya. Berita vonis hukuman yang kemarin di hukum lebih ringan dari maling ayam aja gak ada yang bahas. Cuma dihukum 3th penjara ma denda 200 jt, lah dendanya murah bangets jualin empang aja dah cukup. Namanya koruptor tu ahli lobby2 dan transaksi dipenjara bisa acting kelakuannya baik, dapet potongan deh.
Ayolah kalau pun kalian pengen pemimpin yang jujur, amanah, dan bekerja tu simple rumusnya. Kalau hukum nya bener ya pasti pemimpinannya bener, gak cuma bener tp banyak yang akan berfikir ulang untuk maju jadi pemimpin. Ketika hukumnya gak bener, bekas narapidana koruptor aja bisa menjadi pejabat.
Ini sekedar tulisan aja sapa tahu sedikit membuka mata, kalau mau milih pemimpin yang diidolakan ya harus dibenahi hukum nya. Hukuman mati atau dimiskinkan jika korup, mungkin akan membuat jera para pemimpin atau pejabat dan membuat orang berfikir ulang untuk menjadi pemimpin karena untuk kepentingan pribadi. Haters dan lovers baik jokowi ataupun ahok ini sepertinya ada yang menjaga untuk selalu seperti ini, biar masyarakat berifikir pemimpin menentukan segalanya. Padahal di sebuah negara HUKUM adalah pimpinan paling tinggi, presiden pun harus tunduk kepada hukum. Yang seharusnya kita coba melihatnya ada diranah hukum, udah dikasih contoh kalau yg independent aja tumbang karena hukum. Belum kampanye dan suruh ngumpulin ktp yg jumlahnya gak masuk akal. Kalau memang mau menyeleksi siapa pemimpin berikutnya, maka mari kita benahi undang- undang dan hukum kita. Jika penegak hukum kok mempermaikan hukum ya mari kita benahi juga hukum dan praturan hukum untuk penegak hukum.
Indonesia akan selalu terisi oleh para lintah dan para penghisap darah bangsa sendiri kalau tembok hukumnya cuma kain satin yg kelihatan menyala namun tipis dan mudah dirobek...
Note: foto dari goggle and screenshot...
Maklum belum sempat mothoin langsung

