Selasa, 09 Agustus 2016

Jam sekolah dan jam kantor

Pada suatu pagi di sebuah sekolah dasar di pinggiran kota besar, gerbang sekolah baru saja di buka oleh penjaga.  Sedikit demi sedikit mulai ramai murid dan orang tua yang mengantar anak-anaknya berdatangan masuk sekolah. Ada juga murid-murid yang datang menggunakan bis sekolah yang disediakan oleh pemerintah kota. Guru-guru juga mulai berdatangan untuk segera masuk kantor dan menyiapkan segala keperluan mengajar. Tampak disana ada anton seorang murid kelas 5 sd datang paling pagi diantar ibu nya menggunakan mobil. Dia selalu berangkat pagi karena ibu nya harus segera berangkat kekantor juga, yang letak kantornya cukup jauh di pusat kota.
Ada dini seorang gadis cilik teman sekelas anton yang baru turun dari ojek, ojek ini seperti pamannya sendiri termasuk orang kepercayaan keluarga untuk mengantar dini ke sekolah. Karena ayah dan ibunya juga sibuk bekerja di pusat kota, sehingga tidak bisa menyempatkan waktu untuk pmengantar dini ke sekolah.
Lalu terlihat di samping gerbang sorang ibu mengendong anak umur 1 th dan bersama seorang bocah yang cukup gemuk badannya, satria namanya. Ibu nya selalu mengantar satria hingga depan gerbang sekolah, karena ibunya seorang ibu rumah tangga. Bukannya satria tidak mempunyai pembantu di keluarganya namun, lebih memilih mengantar anaknya sendiri. Sekalian pergi kepasar untuk belanja keperluan sehari-hari, dan juga rumahnya tidak jauh dari sekolah.
Terengah-engah nafas dua orang bocah berlari menuju sekolah, mereka tino dan banu. Rumah mereka tak jauh dari sekolah mereka berdua tetanggaan, sehingga mereka memilih berangkat bersama tanpa harus diantar. Kedua orang tua tino kerja dipusat kota namun, berbeda dengan banu yang ayah nya bekerja di pusat kota dan ibunya berbinis dari rumah.
Bel sekolah berdering tanda untuk segera masuk kekelas masing-masing, ramai dan keceriaan mereka dipagi hari. Ya ramai mungkin karena saling bertemu muka kembali dan dapat main disekolah bersama lagi. Bercerita tentang sepak bola semalam, atau tentang game, PR yang baru setengah di kerjakan dst. Pelajaran di mulai murid- murid sudah masuk semua kedalam kelas, seperti biasa pelajaran di mulai, berjalan dengan seperti suasana kelas biasanya. Ada yang masih ramai, karena guru kelas pada jam pertama gurunya penyabar. Ada juga yang langsung hening seketika karena jam pertama di mulai dengan guru yang killer(galaknya ampun), yaa suasana nya mirip kuburan sunyi sepi tapi banyak penghuni.
Jam pertama dan kedua sudah terlewati bel istirahat dengan nada poliponik sejak jaman sebelum reformasi masih terpasang dan nyaring menggema diseluruh sekolah. Ramai riuh anak- anak murid keluar dari kelas untuk merayakan waktu istirahat nya, ada yang langsung ke kantin, ada juga yang langsung ke teras-teras kelas untuk membuka bekal mereka dan ngobrol dengan teman-teman tentunya hal-hal yang menarik. Anton, dini, satria, tino dan banu mereka duduk diteras depan kelas, berbincang tetang banyak hal. Anton membuka kotak makan nya yang dia bawa. Sembari menawarkan makanan dengan menu pilihan ibu nya. Masing – masing anak juga membuka bekal makan nya, karena mereka biasa saling bertukar makanan.
Anton, dini, mereka porsi bekal makannya ada dua yang satu untuk makan siang nanti karena mereka akan pulang hingga jam 4 sore. Sementara satria, tino dan banu mereka berbekal sedikit Karena mereka tidak ikut les tambahan. Orang tua anton dan dini mendaftarkan les karena dirumah tidak ada orang untuk menjaga mereka. Karena orang tua sibuk bekerja di pusat kota. Tentunya Cuma ada pembantu yang menjaga rumah mereka, kalua ikut les maka mereka bersama teman-teman sebayanya dan ada guru yang selalu memperhatikan mereka. Juga waktu sekolah sampai jam 4 sore adalah waktu dimana orang tua mereka pulang dari bekerja.
Sementara satria, banu dan tino mereka tidak ikut les tambahan, karena mereka ingin bermain dirumah. Bukanya orang tua mereka gak di tawari oleh sekolah, namun orang tua mereka menyetujui permintaan anak nya yang gak pengen les tambahan. Walaupun tino kedua orang tuanya bekerja dipusat kota, namun ibu banu mau merawat tino sehabis pulang sekolah. Karena tino dan banu tetangga, yaa dengan biaya makan yang pastinya di berikan orangtua tino ke ibunya banu.
Anton sebenarnya tidak mau ikut les tambahan karena waktu bermainnya berkurang, dan merasa capek dengan rutinitas sekolah. Namun ibunya yang single parent membuatnya terpaksa mengikuti les tambahan, jika pun dia pulang tentu rumah hanya akan ada pembantu. Juga cukup jauh untuk pulang sendiri ke rumah, lebih baik dijemput ibunya yang sembari pulang dari kerja, karena ibu nya khawatir jika anton pulang sendiri.
Sementara dini memilih ikut les tambahan karena masalahnya juga seperti anton, pulang kerumah hanya bertemu pembantu. Dini tinggal di kompleks perumahan yang cukup elite sehingga rumah-rumah sering tertutup seperti gak ada anak kecil selain dia di kompleks perumahan itu. Jika dia pulang kerumah tanpa mengikuti les tambahan, mungkin hanya akan bermain dengan boneka atau mainannya yang ada dirumah ditemani seorang pembantu.
Ini hanya sebuah ilustrasi gambaran kecil yang ada di sekolah, 4 orang anak-anak negeri yang belajar mencari ilmu di sekolah dng problematika nya masing-masing. Sebetulnya apakah yang terbaik bagi mereka ???
Siapa yang seharusnya mengalah, orang tua atau anak ?? atau kebijakan sekolah memberikan alternative pilihan, seperti sekolah diatas? Dan mungkin ada juga anak- anak selain keempat anak diatas yang di paksa orangtuanya untuk ikut les tambahan karena tidak puas dengan hasil / nilai yang mereka peroleh di sekolah??
Dan mungkin juga sebagian orangtua menganggap anak adalah hal yang patut di banggakan, yang patut mengharumkan nama orangtua, yang harus mendapat nilai bagus, harus juara kelas, harus bisa A-B-C-D-E-F, karena orangtuanya bisa A-B-C-D-E harus lebih dari orangtuanya. 



Mungkin juga pejabat negeri ini ingin siswa-siswanya berprestasi, serta terbiasa dengan jam kantor sehingga tidak kaget atau menjadi pekerja yg gagap dng jam kantor.😁😁😁

Dan pastinya semua orang tua anak-anak tersebut sangat menyayangi buah hatinya, berusaha memberikan yang terbaik bagi mereka. Ada yang dari sudut pandang orangtua dan ada yang dari sudut pandang anak.
Karena di sekolah hingga sore itu mungkin baik untuk beberapa anak, karena ada masalah di dalam kehidupan si anak, mungkin juga tidak baik untuk si anak, karena waktu bersama orangtua, bermain dirumah, bersosialisasi di rumah akan berkurang.
Memang kita harus memandang dari berbagai sisi sudut pandang. Karena seperti halnya iklan di televise tentang stop kekerasan terhadap anak. Setiap orang dewasa yang ada di taman mengaku sebagai orangtua si gadis kecil ini. Harusnya kita juga menempatkan sudut pandang kita pada posisi orangtua si anak yang menghabiskan waktunya seharian di sekolah. Dengan problematika yang dihadapi si orangtua dan si anak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar