Pada suatu
pagi di sebuah sekolah dasar di pinggiran kota besar, gerbang sekolah baru saja
di buka oleh penjaga. Sedikit demi
sedikit mulai ramai murid dan orang tua yang mengantar anak-anaknya berdatangan
masuk sekolah. Ada juga murid-murid yang datang menggunakan bis sekolah yang
disediakan oleh pemerintah kota. Guru-guru juga mulai berdatangan untuk segera
masuk kantor dan menyiapkan segala keperluan mengajar. Tampak disana ada anton
seorang murid kelas 5 sd datang paling pagi diantar ibu nya menggunakan mobil. Dia
selalu berangkat pagi karena ibu nya harus segera berangkat kekantor juga, yang
letak kantornya cukup jauh di pusat kota.
Ada dini
seorang gadis cilik teman sekelas anton yang baru turun dari ojek, ojek ini
seperti pamannya sendiri termasuk orang kepercayaan keluarga untuk mengantar
dini ke sekolah. Karena ayah dan ibunya juga sibuk bekerja di pusat kota,
sehingga tidak bisa menyempatkan waktu untuk pmengantar dini ke sekolah.
Lalu terlihat
di samping gerbang sorang ibu mengendong anak umur 1 th dan bersama seorang
bocah yang cukup gemuk badannya, satria namanya. Ibu nya selalu mengantar
satria hingga depan gerbang sekolah, karena ibunya seorang ibu rumah tangga. Bukannya
satria tidak mempunyai pembantu di keluarganya namun, lebih memilih mengantar
anaknya sendiri. Sekalian pergi kepasar untuk belanja keperluan sehari-hari,
dan juga rumahnya tidak jauh dari sekolah.
Terengah-engah
nafas dua orang bocah berlari menuju sekolah, mereka tino dan banu. Rumah mereka
tak jauh dari sekolah mereka berdua tetanggaan, sehingga mereka memilih
berangkat bersama tanpa harus diantar. Kedua orang tua tino kerja dipusat kota
namun, berbeda dengan banu yang ayah nya bekerja di pusat kota dan ibunya
berbinis dari rumah.
Bel sekolah berdering
tanda untuk segera masuk kekelas masing-masing, ramai dan keceriaan mereka dipagi
hari. Ya ramai mungkin karena saling bertemu muka kembali dan dapat main
disekolah bersama lagi. Bercerita tentang sepak bola semalam, atau tentang
game, PR yang baru setengah di kerjakan dst. Pelajaran di mulai murid- murid
sudah masuk semua kedalam kelas, seperti biasa pelajaran di mulai, berjalan
dengan seperti suasana kelas biasanya. Ada yang masih ramai, karena guru kelas
pada jam pertama gurunya penyabar. Ada juga yang langsung hening seketika
karena jam pertama di mulai dengan guru yang killer(galaknya ampun), yaa
suasana nya mirip kuburan sunyi sepi tapi banyak penghuni.
Jam pertama
dan kedua sudah terlewati bel istirahat dengan nada poliponik sejak jaman
sebelum reformasi masih terpasang dan nyaring menggema diseluruh sekolah. Ramai
riuh anak- anak murid keluar dari kelas untuk merayakan waktu istirahat nya,
ada yang langsung ke kantin, ada juga yang langsung ke teras-teras kelas untuk
membuka bekal mereka dan ngobrol dengan teman-teman tentunya hal-hal yang
menarik. Anton, dini, satria, tino dan banu mereka duduk diteras depan kelas,
berbincang tetang banyak hal. Anton membuka kotak makan nya yang dia bawa. Sembari
menawarkan makanan dengan menu pilihan ibu nya. Masing – masing anak juga
membuka bekal makan nya, karena mereka biasa saling bertukar makanan.
Anton, dini,
mereka porsi bekal makannya ada dua yang satu untuk makan siang nanti karena
mereka akan pulang hingga jam 4 sore. Sementara satria, tino dan banu mereka
berbekal sedikit Karena mereka tidak ikut les tambahan. Orang tua anton dan
dini mendaftarkan les karena dirumah tidak ada orang untuk menjaga mereka. Karena
orang tua sibuk bekerja di pusat kota. Tentunya Cuma ada pembantu yang menjaga
rumah mereka, kalua ikut les maka mereka bersama teman-teman sebayanya dan ada
guru yang selalu memperhatikan mereka. Juga waktu sekolah sampai jam 4 sore
adalah waktu dimana orang tua mereka pulang dari bekerja.
Sementara satria,
banu dan tino mereka tidak ikut les tambahan, karena mereka ingin bermain
dirumah. Bukanya orang tua mereka gak di tawari oleh sekolah, namun orang tua
mereka menyetujui permintaan anak nya yang gak pengen les tambahan. Walaupun tino
kedua orang tuanya bekerja dipusat kota, namun ibu banu mau merawat tino
sehabis pulang sekolah. Karena tino dan banu tetangga, yaa dengan biaya makan
yang pastinya di berikan orangtua tino ke ibunya banu.
Anton sebenarnya
tidak mau ikut les tambahan karena waktu bermainnya berkurang, dan merasa capek
dengan rutinitas sekolah. Namun ibunya yang single parent membuatnya terpaksa
mengikuti les tambahan, jika pun dia pulang tentu rumah hanya akan ada pembantu.
Juga cukup jauh untuk pulang sendiri ke rumah, lebih baik dijemput ibunya yang
sembari pulang dari kerja, karena ibu nya khawatir jika anton pulang sendiri.
Sementara dini
memilih ikut les tambahan karena masalahnya juga seperti anton, pulang kerumah
hanya bertemu pembantu. Dini tinggal di kompleks perumahan yang cukup elite
sehingga rumah-rumah sering tertutup seperti gak ada anak kecil selain dia di
kompleks perumahan itu. Jika dia pulang kerumah tanpa mengikuti les tambahan,
mungkin hanya akan bermain dengan boneka atau mainannya yang ada dirumah
ditemani seorang pembantu.
Ini hanya
sebuah ilustrasi gambaran kecil yang ada di sekolah, 4 orang anak-anak negeri
yang belajar mencari ilmu di sekolah dng problematika nya masing-masing. Sebetulnya
apakah yang terbaik bagi mereka ???
Siapa yang
seharusnya mengalah, orang tua atau anak ?? atau kebijakan sekolah memberikan alternative
pilihan, seperti sekolah diatas? Dan mungkin ada juga anak- anak selain keempat
anak diatas yang di paksa orangtuanya untuk ikut les tambahan karena tidak puas
dengan hasil / nilai yang mereka peroleh di sekolah??
Dan mungkin
juga sebagian orangtua menganggap anak adalah hal yang patut di banggakan, yang
patut mengharumkan nama orangtua, yang harus mendapat nilai bagus, harus juara
kelas, harus bisa A-B-C-D-E-F, karena orangtuanya bisa A-B-C-D-E harus lebih
dari orangtuanya.
Mungkin juga pejabat negeri ini ingin siswa-siswanya berprestasi, serta terbiasa dengan jam kantor sehingga tidak kaget atau menjadi pekerja yg gagap dng jam kantor.😁😁😁
Mungkin juga pejabat negeri ini ingin siswa-siswanya berprestasi, serta terbiasa dengan jam kantor sehingga tidak kaget atau menjadi pekerja yg gagap dng jam kantor.😁😁😁
Dan pastinya
semua orang tua anak-anak tersebut sangat menyayangi buah hatinya, berusaha
memberikan yang terbaik bagi mereka. Ada yang dari sudut pandang orangtua dan
ada yang dari sudut pandang anak.
Karena di
sekolah hingga sore itu mungkin baik untuk beberapa anak, karena ada masalah di
dalam kehidupan si anak, mungkin juga tidak baik untuk si anak, karena waktu
bersama orangtua, bermain dirumah, bersosialisasi di rumah akan berkurang.
Memang kita
harus memandang dari berbagai sisi sudut pandang. Karena seperti halnya iklan
di televise tentang stop kekerasan terhadap anak. Setiap orang dewasa yang ada
di taman mengaku sebagai orangtua si gadis kecil ini. Harusnya kita juga
menempatkan sudut pandang kita pada posisi orangtua si anak yang menghabiskan
waktunya seharian di sekolah. Dengan problematika yang dihadapi si orangtua dan
si anak.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar