Selasa, 23 Agustus 2016

Devide et impera era sosmed dan petarungan presiden yg tak usai (met hari internet)

Devide et impera menurut mbah goggle yang nampilin berbagai tulisan tentang hal ini, politik pecah belah yg di gunakan belanda. Bukan politik perkakas, gelas, piring, mangkok atau barang yg mudah kepecah dan kebelah. Tapi adu domba, duh tapi juga bukan acara adu domba kuat-kuatan tanduk domba juga. Intinya saling dibenturkan sehingga terjadi klompok A dan B yang pada awal nya mereka satu kelompok.
Sebenernya ini bagus lho kalau ahli sejarah bisa memaknai pristiwa yang terjadi saat ini (setelah pemilihan presiden). Dibentuk 2 kubu besar yang kayaknya sampai pemilihan presiden lagi gak bakal usai. Disekala jakarta kita punya ahok yang dibenturkan dengan risma, dan bermunculan dari kelompok yg presidennya gagal. Ada juga doa dari anggota klompok presiden gagal yang diserukan di sidang rakyat.
Dari klompok presiden terpilih membalas dengan berbagai macam hal menggunakan data dan logika. Ada juga media tv antara yg pro dan oposisi tp dah pecah lagi... Malah ada media tv yang lagu mars nya jadi pencuci otak anak-anak sekolah dan ibu-ibu Rt, yakin lebih apalan lagu itu daripada lagu kebangsaan.
Ada juga berita dari berbagai situs-situs memberitakan berita hal yang bombastic, biar membuat panic atau sekedar mendeskriditkan pihak lawan.
Share, comment, like, love, pissed off (marah), dllberibu-ribu dan bahkan saling mencaci dan memaki satu sama lain.
Gak kalah dari sisi agama, agama banyak yang menjadi ustadz tv dadakan, ustadz fb, ustadzblog, ustadz twit, atau ustadz sosmed bukan solmet ya apalagi soul mate. Dik kamu dimana.... Bertahun-tahun kyai, ulama, dll membuat kita damai dan nyaman-nyaman saja. Cuma gara-gara tampilan kearab-araban yang tampilan kedaerahan dianggap tidak berilmu. Trus mau bikin negara apalah itu, dan lebih hormat ama presidennya negara lain. Mesake tenan urip mu....
Negeri agama lah, atau apalah hanya lewat klik dan tulisan sosmed. Duh bangun bro sist, semenjak sd dikasih pelajaran tentang politik belanda berguna juga di gunakan sekarang. Dan merasa yakin kenapa memang Indonesia dulu berhasil di jajah VOC dan belanda, serta jepang. Karena kalau dulu itu kita di jajah pakai kata, jarene, katanya, menurut info, eh gosip-gosipnya.
Dari tahun-ketahun tv kita tak habis-habisnya acara gosip, itu juga gak ditutup ma KPI. Situs-situs banyak bermuculan, juga gak ketangkap ciber crime,sinetron naik haji dari haji tahun lalu ampe sekarang, atau senetron negeri seberang yang sampe seharian di tv dan ada yang episodenya ampe 4th kedepan gak habis, nah ini siapa yang menjejali mata telinga kita,  ??
Era ini adalah bukti nyata sejarah bangsa ini, tentang devide it impera belanda itu nyata mas dan mbak, teteh dan akang, bli dan mbok, uda dan uni, kakaaak..... Ahli sejarah perlu mencatatnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar