Melihat senyum mereka ketelitian
nya dan tatapan yang tanpa paksaan memetik daun tembakau di sawah atau yang
sedang memilah tembakau di depan rumah. Tanpa ekspresi paksaan mereka melakukan
bersama-sama orang tuanya mebantu memilih dan memanen tembakau. Ada yang
bercerita tentang tangannya yang menghitam sebabkan karena tembakau. Ada yang
bercerita tentang gak suka bau tembakau dan mual, namun tetap membantu
orangtuanya. Karena mereka sadar orang tuanya petani tembakau yang pada musim
ini lagi panen tembakau. Kalau dari system pertanian Indonesia gak selalu
menanam tembakau, apa iya tembakau di tanam di musim hujan bisa-bisa rugi
petani.
Membantu orang tua di Indonesia sudah
menjadi sebuah norma yaa mungkin di belahan dunia lain yang udah kedua atau
kesatu anak-anak membantu orangtua cukup nyapu, nyuci piring(itupun mesin) atau
nyuci baju (juga mesin) atau cukup dengan sekolah dan bermain. Sedangkan Indonesia
itu termasuk negara ke tiga (gakpapa dapet mendali perunggu), yang relative kehidupan
dan system nya belum maju dari segala bidang. Petani pun gak seperti di negara
yang 1 atau 2 yang sudah menggunakan teknologi sebagai alat
bantu pertanian.
Menggunakan isu dari buruh
anak-anak dengan judul utama tanaman tembakau itu kok sepertinya menjadi
senjata.( duh apa gak memalukan). Temen-temen ku dulu anak petani walaupun
sekarang udah ada yang menjadi guru, pengusaha dll, tapi dia sedari kecil
memang membantu orang tua. Aku juga sedari sd sudah membantu orangtua di
bengkel, walapun Cuma bantuin ngambilin kunci yang diperlukan. Membantu keluarga
itu tentunya berbeda dengan bekerja di corporate (perusahan) yang tentu saja
emak bapaknya beda. Kalau terus disambungin ke masalah tembakaunya kan di beli
perusahaan, kalau bapak nya jualnya bukan keperusahaan rokok mau jual kemana
tembakaunya ??
Dan pekerja anak-anak model
keluarga seperti ini apa ya masuk dalam kelompok seperti perusahaan besar. Padahal
mereka juga mencukupi hidup nya dari bertani,bersekolah, makan, dll. Kalau petani
Indonesia itu punya mobil, rumah mewah, tv flat screen, dll (kayak lagunya
slank) gak papalah anaknya kepengadilan nuntut HAM kebapaknya karena disuruh
nyangkul disawah. Bisa juga menuntut ibu nya karena harus memanen cabe, atau
disuruh untuk menjemur padi di teras atau jalan rumah.
Bagi anak-anak desa sawah itu
juga sebagai tempat bermain mereka yang mungkin terasa mewah untuk orang-orang
kota. Yang kalau mau mainan ke sawah harus bayar 5jt / anak, untuk study
belajar bersama alam. Yang kesawahnya harus pakai sepatu bot dan sarung tangan
kalau mainan tanah, kemewahan anak desa/anak petani itu masak ya harus hilang. Anak
petani mencari rumput diladang karena untuk memberi makan kambing atau sapinya,
sedang anak sekolah kota tinggal ambil rumput yang udah disediakan kasih deh ke
ternaknya tp bayar. Anak desa memang mewah hidupnya bermain mobil-mobilan dari
buah dan sandal yg rusak dijadikan ban. Bermain perang-perangan dengan pelepah
pisang yang dia buat sendiri, sampai disimpan dan bangga akan buatannya
sendiri.
Video ini terkesan bahwa tembakau
adalah penyebab perburuhan anak di Indonesia. Dan orang-orang Indonesia yang
mungkin benci akan rokok dan tembakau menjadi menyetujuinya. Lah kalau
anak-anak yang bekerja membantu orangtuanya di kebun sayur, sawah padi, ladang
jagung, mencari rumput, dll. Masuk kategori perburuhan atau enggak ?? sebegitu
perang nya terhadap tembakau sampai buat video yang tagline nya kayak gitu…
Dan yang memprihatikan dalam
video ini kalau menurutku bukan perburuhan anak, namun tetang dimana para
petani tidak mendapatkan pengetahuan yang baik. Pada dasarnya mungkin karena
ketidak tahuan mereka atau kurang informasi tetang pestisida. Dimana para
penyuluh dan peran para pakar pertanian seharus memberikan transfer ilmu,
bahaya pestisida untuk anak-anak. Yang memupuk dan mencampur pupuk seharusnya
dilakukan orang dewasa bukan anak-anak. Cap Perburuhan anak yang diberikan
kepada petani Indonesia ini yang membuat saya menulis hal ini. Pendidikan para
petani Indonesia tentunya tidak semaju dan semengerti para petani di negara
maju. Juga para sarjana pertanian mungkin hanya beberapa yang kembali kesawah,ladang,atau
kebun, dan membagikan pengetahuannya kepada para petani.
pestisida (pupuk kimia) tidak hanya di gunakan untuk tanaman tembakau, namun juga padi dan lainnya. Dan pada setiap hal hasil pertanian di negara ini yang melibatkan anak membantu orangtuanya disawah,ladang,kebun dll, yang menikmati hasilnya ikut menikmati hasil dari perburuhan anak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar