Minggu, 04 September 2016

kampanye anti rokok dengan video"perburuhan anak pada kehidupan petani tembakau"

Melihat senyum mereka ketelitian nya dan tatapan yang tanpa paksaan memetik daun tembakau di sawah atau yang sedang memilah tembakau di depan rumah. Tanpa ekspresi paksaan mereka melakukan bersama-sama orang tuanya mebantu memilih dan memanen tembakau. Ada yang bercerita tentang tangannya yang menghitam sebabkan karena tembakau. Ada yang bercerita tentang gak suka bau tembakau dan mual, namun tetap membantu orangtuanya. Karena mereka sadar orang tuanya petani tembakau yang pada musim ini lagi panen tembakau. Kalau dari system pertanian Indonesia gak selalu menanam tembakau, apa iya tembakau di tanam di musim hujan bisa-bisa rugi petani.
Membantu orang tua di Indonesia sudah menjadi sebuah norma yaa mungkin di belahan dunia lain yang udah kedua atau kesatu anak-anak membantu orangtua cukup nyapu, nyuci piring(itupun mesin) atau nyuci baju (juga mesin) atau cukup dengan sekolah dan bermain. Sedangkan Indonesia itu termasuk negara ke tiga (gakpapa dapet mendali perunggu), yang relative kehidupan dan system nya belum maju dari segala bidang. Petani pun gak seperti di negara yang  1 atau 2 yang  sudah menggunakan teknologi sebagai alat bantu pertanian.
Menggunakan isu dari buruh anak-anak dengan judul utama tanaman tembakau itu kok sepertinya menjadi senjata.( duh apa gak memalukan). Temen-temen ku dulu anak petani walaupun sekarang udah ada yang menjadi guru, pengusaha dll, tapi dia sedari kecil memang membantu orang tua. Aku juga sedari sd sudah membantu orangtua di bengkel, walapun Cuma bantuin ngambilin kunci yang diperlukan. Membantu keluarga itu tentunya berbeda dengan bekerja di corporate (perusahan) yang tentu saja emak bapaknya beda. Kalau terus disambungin ke masalah tembakaunya kan di beli perusahaan, kalau bapak nya jualnya bukan keperusahaan rokok mau jual kemana tembakaunya ??
Dan pekerja anak-anak model keluarga seperti ini apa ya masuk dalam kelompok seperti perusahaan besar. Padahal mereka juga mencukupi hidup nya dari bertani,bersekolah, makan, dll. Kalau petani Indonesia itu punya mobil, rumah mewah, tv flat screen, dll (kayak lagunya slank) gak papalah anaknya kepengadilan nuntut HAM kebapaknya karena disuruh nyangkul disawah. Bisa juga menuntut ibu nya karena harus memanen cabe, atau disuruh untuk menjemur padi di teras atau jalan rumah.
Bagi anak-anak desa sawah itu juga sebagai tempat bermain mereka yang mungkin terasa mewah untuk orang-orang kota. Yang kalau mau mainan ke sawah harus bayar 5jt / anak, untuk study belajar bersama alam. Yang kesawahnya harus pakai sepatu bot dan sarung tangan kalau mainan tanah, kemewahan anak desa/anak petani itu masak ya harus hilang. Anak petani mencari rumput diladang karena untuk memberi makan kambing atau sapinya, sedang anak sekolah kota tinggal ambil rumput yang udah disediakan kasih deh ke ternaknya tp bayar. Anak desa memang mewah hidupnya bermain mobil-mobilan dari buah dan sandal yg rusak dijadikan ban. Bermain perang-perangan dengan pelepah pisang yang dia buat sendiri, sampai disimpan dan bangga akan buatannya sendiri.
Video ini terkesan bahwa tembakau adalah penyebab perburuhan anak di Indonesia. Dan orang-orang Indonesia yang mungkin benci akan rokok dan tembakau menjadi menyetujuinya. Lah kalau anak-anak yang bekerja membantu orangtuanya di kebun sayur, sawah padi, ladang jagung, mencari rumput, dll. Masuk kategori perburuhan atau enggak ?? sebegitu perang nya terhadap tembakau sampai buat video yang tagline nya kayak gitu…

Dan yang memprihatikan dalam video ini kalau menurutku bukan perburuhan anak, namun tetang dimana para petani tidak mendapatkan pengetahuan yang baik. Pada dasarnya mungkin karena ketidak tahuan mereka atau kurang informasi tetang pestisida. Dimana para penyuluh dan peran para pakar pertanian seharus memberikan transfer ilmu, bahaya pestisida untuk anak-anak. Yang memupuk dan mencampur pupuk seharusnya dilakukan orang dewasa bukan anak-anak. Cap Perburuhan anak yang diberikan kepada petani Indonesia ini yang membuat saya menulis hal ini. Pendidikan para petani Indonesia tentunya tidak semaju dan semengerti para petani di negara maju. Juga para sarjana pertanian mungkin hanya beberapa yang kembali kesawah,ladang,atau kebun, dan membagikan pengetahuannya kepada para petani. 
pestisida (pupuk kimia) tidak hanya di gunakan untuk tanaman tembakau, namun juga padi dan lainnya. Dan pada setiap hal hasil pertanian di negara ini yang melibatkan anak membantu orangtuanya disawah,ladang,kebun dll, yang menikmati hasilnya ikut menikmati hasil dari perburuhan anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar