Kejadian akhir-akhir ini cukup membuat tertawa, sedih,
ngenes, campur aduk. Banyak bersliweran postingan tetang berbagai hal yang
terjadi, lucu-lucu dan menyedihkan. Hingar bingar kesuksesan timnas atau tragedy
yang terjadi di aceh tidak membuat postingan itu berganti arah. Berbagai foto
yang diupload dengan caption-caption lucu juga menjadi semacam hiburan di
barisan timeline. Mungkin untuk beberapa orang membuat emosi atau juga bisa
membuatnya melampiaskan umpatan dan kekesalan. Beberapa orang mengumpat dengan
begitu ringannya dimedia tersebut, bahkan ada yang menghujat.
Padahal semua ini terjadi sudah sejak lama, Cuma terblow up
(ngetrend) saat ini. Hal pada masa kecil yang sering terpikirkan saat
mendapatkan pelajaran agama sekarang ini benar-benar terjadi. Ada juga guru
agama yang mengajarkan dengan wishdom yang mengenal menghargai perbedaan semasa
sekolah dulu. Ini adalah semacam bom waktu yang akhirnya meledak, menampilkan
umat-umat agama saling memperolok dan bahkan menghujat. Pola pikir surga dengan
berbagai kenikmatannya membuat orang lebih memilih untuk mengambil jalan yang
singkat.
Seseorang ketika membangun tempat ibadah maka dia akan
mendapatkan pahala dari sebanyak orang yang beribadah di tempat itu. Lalu orang-orang
kaya berbondong-bondong membangun tempat ibadah, agar pahalanya mengalir deras
dan selalu terisi sehingga dia gak kekurangan pahala. Bahkan dijanjikan istana
di surga, bayangkan istana lengkap dengan perabotannya.
Ada juga dengan berperang, maka akan di janjikan surga
lengkap dengan keperluannya. Sehingga berbondong-bondonglah untuk maju
berperang dengan janji yang ditawarkan. Tanpa berfikir perang untuk siapa dan
apa, asal bawa bendera serta logo atau lambing-lambang agama itu bela agama. Janji
surga memang memabukan, hingga ungkapan janji surga menjadi sebuah kiasan.
Aku sempat berfikir bahwa orang-orang yang posting di media social
itu fiktif, bahkan aku berdoa semoga ini hanya fiktif. Ada yang posting dan
mengumpat, buat apa belajar untuk terbang kelangit. Di kitab suci sudah di
jelaskan apa yang ada di langit dan di bumi, lalu di beri akhiran “bego lu”. Ada
juga balasan sebuah comment kalau manusia itu terbatas jadi buat apa mencari
tahu, dengarkan dan pahami dari yang orang yang sudah paham aja. Pernah dengar
ungkapan “ilmu pengetahuan itu kekuatan, tapi orang bodoh dalam jumlah yang
banyak itu jangan diremehkan”. Jika kita
pahami sebenernya yang paling berbahaya dari semua itu adalah orang yang
mempunyai pengetahuan dan menggunakan orang-orang bodoh jadi kekuatanya.
Kenapa tulisan diatas sempat membahas masalah membangun
tempat Ibadah dan jadi tentara pembela agama. Pernah terpikir tidak jika dana
uang untuk membangun tempat ibadah itu digunakan untuk memberikan dana
pendidikan, atau membangun tempat pendidikan. Sehingga setiap manusia pada
agama itu bisa memperoleh pendidikan yang baik dan murah atau mungkin gratis. Membangun
tempat ibadah di hati generasi penerus umat yang cerdas dan gak gampang di
bodohi.
Pernah terpikirkan tidak jika berperang itu memerangi
kebodohan adalah sama halnya berjuang atas nama Tuhan. Ketika mampu menciptakan
hal-hal yang berguna untuk seluruh umat dan
alam semesta. Sehingga tidak menjadikan perjuangan itu seinstan mie. Mati lalu
masuk surga, tapi berjuang mendidik menemukan hal yang berguna bagi umat dan
juga alam semesta. Bukan kah manusia di turunkan kedunia untuk mejadi
penyembahNya juga menjadi penjaga dan pemelihara dunia.
Tapi emang yang paling enak sih perang mati dan masuk surga,
tapi apa iya kita berperang demi agama ?? atau demi kepentingan orang yang
berpengetahuan tadi. Aah buat apa mikir yaa kan udah di janjikan masuk surga,
jika udah niat itu pasti di catat nya itu. Padahal kita manusia yang di berikan
akal budi oleh tuhan. Dan jika janji masuk surga nya gak kesampaian gimana ???
mau bawa Tuhan ke meja hijau kah ??
Padahal Dia yang berhak memutuskan akan mana yang ke surga
dan mana yang masuk yang lainnya. Pastinya Tuhan gak akan mengingkari apa yang
telah dijanjikannya, namun Tuhan maha melihat. Melihat apakah niat mu itu
membela agama atau hanya menginginkan surga, atau malah surga dunia. Terkadang kita
lupa kalau sudah bersemangat bergelora dengan hembusan berbagai berita, yang
memotivasi kita.
Dan mungkin juga tradisi takut bertanya, sehingga kita hanya
di jejali dengan berbagai pemahaman yang keliru. Sehingga jika kita bertanya
akan hal yang tidak selaras dengan si guru, maka berbagai cap dan pandangan
tersematkan didiri kita lewat tatapan maupun ucapan. Jangan takut bertanya dan
mencari tahu, serta mencari ilmu sampai ajal menjelang.
