Jumat, 09 Desember 2016

tuangkan air panas lalu tunggu 3 menit, surgaaa.....

Kejadian akhir-akhir ini cukup membuat tertawa, sedih, ngenes, campur aduk. Banyak bersliweran postingan tetang berbagai hal yang terjadi, lucu-lucu dan menyedihkan. Hingar bingar kesuksesan timnas atau tragedy yang terjadi di aceh tidak membuat postingan itu berganti arah. Berbagai foto yang diupload dengan caption-caption lucu juga menjadi semacam hiburan di barisan timeline. Mungkin untuk beberapa orang membuat emosi atau juga bisa membuatnya melampiaskan umpatan dan kekesalan. Beberapa orang mengumpat dengan begitu ringannya dimedia tersebut, bahkan ada yang menghujat.
Padahal semua ini terjadi sudah sejak lama, Cuma terblow up (ngetrend) saat ini. Hal pada masa kecil yang sering terpikirkan saat mendapatkan pelajaran agama sekarang ini benar-benar terjadi. Ada juga guru agama yang mengajarkan dengan wishdom yang mengenal menghargai perbedaan semasa sekolah dulu. Ini adalah semacam bom waktu yang akhirnya meledak, menampilkan umat-umat agama saling memperolok dan bahkan menghujat. Pola pikir surga dengan berbagai kenikmatannya membuat orang lebih memilih untuk mengambil jalan yang singkat.
Seseorang ketika membangun tempat ibadah maka dia akan mendapatkan pahala dari sebanyak orang yang beribadah di tempat itu. Lalu orang-orang kaya berbondong-bondong membangun tempat ibadah, agar pahalanya mengalir deras dan selalu terisi sehingga dia gak kekurangan pahala. Bahkan dijanjikan istana di surga, bayangkan istana lengkap dengan perabotannya.
Ada juga dengan berperang, maka akan di janjikan surga lengkap dengan keperluannya. Sehingga berbondong-bondonglah untuk maju berperang dengan janji yang ditawarkan. Tanpa berfikir perang untuk siapa dan apa, asal bawa bendera serta logo atau lambing-lambang agama itu bela agama. Janji surga memang memabukan, hingga ungkapan janji surga menjadi sebuah kiasan.
Aku sempat berfikir bahwa orang-orang yang posting di media social itu fiktif, bahkan aku berdoa semoga ini hanya fiktif. Ada yang posting dan mengumpat, buat apa belajar untuk terbang kelangit. Di kitab suci sudah di jelaskan apa yang ada di langit dan di bumi, lalu di beri akhiran “bego lu”. Ada juga balasan sebuah comment kalau manusia itu terbatas jadi buat apa mencari tahu, dengarkan dan pahami dari yang orang yang sudah paham aja. Pernah dengar ungkapan “ilmu pengetahuan itu kekuatan, tapi orang bodoh dalam jumlah yang banyak itu jangan diremehkan”.  Jika kita pahami sebenernya yang paling berbahaya dari semua itu adalah orang yang mempunyai pengetahuan dan menggunakan orang-orang bodoh jadi kekuatanya.
Kenapa tulisan diatas sempat membahas masalah membangun tempat Ibadah dan jadi tentara pembela agama. Pernah terpikir tidak jika dana uang untuk membangun tempat ibadah itu digunakan untuk memberikan dana pendidikan, atau membangun tempat pendidikan. Sehingga setiap manusia pada agama itu bisa memperoleh pendidikan yang baik dan murah atau mungkin gratis. Membangun tempat ibadah di hati generasi penerus umat yang cerdas dan gak gampang di bodohi.
Pernah terpikirkan tidak jika berperang itu memerangi kebodohan adalah sama halnya berjuang atas nama Tuhan. Ketika mampu menciptakan hal-hal  yang berguna untuk seluruh umat dan alam semesta. Sehingga tidak menjadikan perjuangan itu seinstan mie. Mati lalu masuk surga, tapi berjuang mendidik menemukan hal yang berguna bagi umat dan juga alam semesta. Bukan kah manusia di turunkan kedunia untuk mejadi penyembahNya juga menjadi penjaga dan pemelihara dunia.
Tapi emang yang paling enak sih perang mati dan masuk surga, tapi apa iya kita berperang demi agama ?? atau demi kepentingan orang yang berpengetahuan tadi. Aah buat apa mikir yaa kan udah di janjikan masuk surga, jika udah niat itu pasti di catat nya itu. Padahal kita manusia yang di berikan akal budi oleh tuhan. Dan jika janji masuk surga nya gak kesampaian gimana ??? mau bawa Tuhan ke meja hijau kah ??
Padahal Dia yang berhak memutuskan akan mana yang ke surga dan mana yang masuk yang lainnya. Pastinya Tuhan gak akan mengingkari apa yang telah dijanjikannya, namun Tuhan maha melihat. Melihat apakah niat mu itu membela agama atau hanya menginginkan surga, atau malah surga dunia. Terkadang kita lupa kalau sudah bersemangat bergelora dengan hembusan berbagai berita, yang memotivasi kita.

Dan mungkin juga tradisi takut bertanya, sehingga kita hanya di jejali dengan berbagai pemahaman yang keliru. Sehingga jika kita bertanya akan hal yang tidak selaras dengan si guru, maka berbagai cap dan pandangan tersematkan didiri kita lewat tatapan maupun ucapan. Jangan takut bertanya dan mencari tahu, serta mencari ilmu sampai ajal menjelang.