Mahasiswa baru pun beradatangan
di kampus yang katanya biru, namun agak sedikit mendung pada seorang pemuda
yang tengah mengerjakan skripsinya di kost. Kost yang tidak jauh dari tempatnya
belajar mengejar ilmu untuk meraih title sarjana. Berbekal kopi dan rokok
eceran yang di hutang dari warung burjo depan kost, biasa kantongnya mepet.
Kering kerontangnya kantong bukan karena musim yang panas tapi emang aliran
dana udah di bendung. Semacam bendungan buat pengairan gitu, tapi bendungan itu
dialihkan ke adiknya. Karena mungkin ortu udah empet juga lihat ni anak 7 th
gak lulus-lulus, udah ngalahin rekor sekolah dasar aja.
Pemuda ini putar otak bagaimana
caranya agar dapet duit yang cukup lumayan buat biaya skripsi. Hitung-hitung
sebelum regulasi DO di berlakukan di kampus untuk mahasiswa abadi, dalih nya
bersih-bersih kampus. Mungkin biar kampus terlihat seperti stock baru terus
macam di supermarket gede yang barangnya selalu update. Memang berasa terlalu
lama di kampus saatnya menentukan pilihan untuk mencari uang supaya bisa
ngeprint skripsian dan juga bayar utang. Berajalan dia ke kampus untuk cari
informasi adakah kerjaan yang bisa di kerjaakan buat memenuhi itu semua.
Salah satu seniornya memberikan
saran untuk ikut ke penelitian yang dilakukan oleh salah satu lembaga kampus.
Bagai angina segar yang bersembus dari blower ruangan yang kita berada di luar
ruangan pas dng blower itu wuss… segera lah dia mendaftar demi masa depan yang
cemerlang. Tepat di pagi harinya dia ambil cucian kaos dan pinjam kemeja teman
sekosan. Kemeja nya masih di laundry belum ada duit buat ambil. Berjalan dia
menuju salah satu gedung pusat penelitian itu. Beberapa test harus dia jalani,
selain test tertulis ataupun test wawancara.
Akhirnya dia di terima untuk ikut
bekerja di penelitian itu, masa karantinanya berada di sebuah hotel berbintang
yang mungkin seumur hidup belum pernah dia tidur di hotel yang semewah itu.
Berlimpah ruah makanan yang ada Kasur yang empuk, tv yang chanelnya ampe
bingung mau milih yang mana. Dan ada kolam renang juga. Berasa tinggal di
istana yang apa apa sudah tersedia, gak kayak di kost an yang Kasur nya harga
100 rb an yang dalam tempo sebulan busanya dah rata ma lantai. Setiap kegiatan
di hotel di ikuti, karena penelitan ini butuh pengetahuan biar gak gagap
dilapangan. Apalagi kalua daerahnya nun jauh disana, maka dia pun berharap jika
bisa dapet daerah yang biasa-biasa aja. Namun setelah pelatihan tersebut di
bagilah kelompok untuk daerah mana yang akan di dapat. Dan hasilnya ia
mendapatkan kelompok ke daerah timur tp paling selatan dinegeri ini. Sumba
daerah yang cukup asing di telinga dan mungkin lebih terkenal sumbawa karena
susu kuda liar nya dan seni pasola. Pemuda ini awalnya berfikir kalua sumba
adalah sumbawa, maka akan banyak yah tempat wisata dan tentunya tak kesulitan
mencari akses modernitas. Semisal pulsa, rokok, atau tempat nongkrong semacam
kafe dan sebagainya di kota kabupatennya. Senang hatinya mendengar hal itu,
namun segera redup karena di jelaskan oleh teman sekelompoknya bahwa sumba
bukanlah sumbawa.
Setelah pelatihan yang menelan
beberapa hari waktu itu selesai maka, setiap peserta pulang ketempat
masing-masing. Pemuda ini kembali kekost yang sudah seminggu lamanya dia
tinggalkan, merapikan barang bawaan dan segera memilih barang-barang yang harus
di bawa. Berbekal uang hasil dari pelatihan seminggu dia melunasi hutang di aak
burjo dan mengambil laundryan supaya bisa di bawa ke perantauan. Maklum belum
pernah keluar jawa barang sekali setelah hidup 25 th di jawa, bayangan tentang
luar jawa pun berkeliling dengan asiknya di kepala. Tetang keindahan, serem,
dan semua kekurangan nya yang ada. Waktu seminggu sebelum keberangkatan dia
mencari tahu apa itu sumba, dan menemukan beberapa foto keindahan daerah itu.
Menjadi sedikit bersemangat karena bermacam-macam tempat yang indah ada disana,
bayanganya adalah keasikan bekerja sambil berlibur. Sepertinya juga akan mudah
menemukan akses modernitas.
Tiba saat hari keberangkatan,
berbekal tas ransel kuning yang dipinjam dari seorang sahabat, dan juga tas
yang di berikan lembaga penelitian akhir nya ia berangkat bersama tim ke
bandara. Ternyata disana penerbanganya gak langsung mendarat ke daerah yang di
tuju. Merupakan pengalaman pertama juga pergi menggunakan pesawat, degup jantung
mirip dangdut koplo pun bedegup saat pesawat terbang. Sampai lah ke bandara
pertama juanda, berganti pesawat dan menunggu 6 jam merupakan hal yang bisa
disebut membosankan. Lalu tiduran diemperan bandara sambil berbincang atau
sekedar sms an dengan keluarga. Berasa kayak mudik lebaran, dengan bawaan yang
banyak dan tidur-tiduran di emperan bandara dan kursi ruang tunggu. Akhirnya
waktu yang di nanti pesawat yang di tunggu telah tiba, dengan perasaan senang
karena cukup lama menunggu akhirnya berangkat juga. Kali ini menuju kupang ibu
kota province daerah timur Indonesia. Sesampai di kupang disambut bapak banoet,
yang juga pimpinan kelompok, bersama bang rony yang sudah berada di kupang
juga. Di sambut dengan hangat keluarga pak banoet beserta keluarga kami menginap
disana.
Sapaan hangat dan kopi panas pun
sudah ada di rumah, pemuda yang semangat kalua geratisan ini pun tak
menyia-yiakan hehehe… maklum jiwa masih mahasiswa walau semester entah. Pagi
nya berangkat lagi untuk menuju sumba, daerah yang sudah ditentukan. Kami
berangkat ke bandara menggunakan angkot yang sound system nya ngalah-ngalahin
sound bioskop atau konser-konser music lah, masuk didalam nya itu berasa di
bawa ke tempat dugem. Maklum berangkat pagi dan belum ada matahari jadi berasa
pulang dari dugem.
Sesampai di bandara kita langsung
berangkat karena penerbangan pagi dan ternyata penerbangan ke sumba hanya
seminggu sekali, duh kalua balik berarti nunggu ada pesawat nih. Setelah sadar
akan hal itu pemuda ini pun membayangkan bagaimana keadaan daerah itu. Yang mungkin sepi dan jauh dari
hiruk pikuk kota besar atau setidaknya seperti kupang lah. Berangkatlah pemuda
ini terbang bersama rombongan, saat di pesawat terlihat keindahan alam
Indonesia. Tak lupa sang pilot juga memberitahukan kalua saat ini berada di
atas gunung yang indah yang diatasnya terdapat danau kalimutu, yang tergambar
disalah satu nominal uang. Indahnyaa… berasa pengen turun dan mendarat disana.
Saat landing di sebuah bandara dan ternyata ke flores dulu yang tadi dipesawat
terlihat indah lautnya berwarna hijau, biru bening dan pasirnya yang putih.
Hanya transit 1 jam lalu pemuda dan rombongan kembali ke pesawat untuk
melanjutkan perjalanan. Sampailah dia di sumba, sewaktu pesawat mau landing di
bandara pun terlihat sekawanan sapi yang berada di pinggir bandara. Dan juga
tanah lapang dan besar sekali di tumbuhi savanna. Waaah aku di Africa ini bukan
Indonesia, kata sipemuda ke teman nya. Mereka pun tertawa, ini masih ada di
peta Indonesia kok coba lihat peta” jawab temannya. Si pemuda pun tertegun
melihat ukuran bandara yang besar namun gedung kedatangan nya yang seukuran
polsek didaerah jogja.
Terlihat juga beberapa turis
asing namun dalam jumlah sangat sedikit yang turun didaerah ini. Mereka mungkin
adalah turis-turis yang berjiwa petualang yang menjauh dari kebisingan. Suasana
depan bandara seperti terminal angkot di bogor. Banyak angkot-angkot kecil
berjejer menawarkan angkutannya kepada tamu-tamu yang datang. Tidak beda dengan
kupang angkot disini juga berisi sound system yang cukup bombastis. Kami di
jemput kakak Jo, pemuda akamsi (anak kampung sini) premlok istilah trend nya
(preman local) hehehe yang baik hati dan hatinya penuh cinta dan puisi-puisi
cinta. Karena sering menggoda salah satu anggota tim dengan puisi-puisi cintanya.
bersambung...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar