Minggu, 25 September 2016

Berebut kursi di ibu kota

Seorang ibu terdiam ketika melihat anaknya meminta ijin, karena diam si ibu sang anak mencoba mencari perhatian dng berbagai cara. Mengumpulkan teman-temannya agar dia mendapat ijin untuk duduk dikursi itu lagi. Lalu berkumpulah rame-rame teman-temannya, namun sang ibu masih terdiam. Si anak mengajak teman sepermainan nya yang bukan pilihan ibu nya, namun sang ibu tetap terdiam. Setelah itu paman, bibi, nya melihat dan memberi dukungan ke sang anak, Namun sang ibu tetap diam. Si ibu tentunya hanya diam bukan menutup mata, membuat si anak penasaran kenapa dia hanya diam. Setelah si ibu melihat semua usaha dan kerja kerasnya, serta memastikan anaknya akan di bantu dan dilindungi paman dan bibinya yg biasanya jahat. Maka sang ibu pun memberi restu kepada sang anak agar duduk kembali ke kursi goyang.... Namun dng syarat ditemani oleh teman pilihan sang ibu.

Berbeda keluarga yang lain nya, ada anak mencoba menarik perhatian ayahnya. Bahkan mengahbiskan uang jajannya hanya untuk membuat poster, video, dan lain-lain. Keinginannnya sama ingin duduk di kursi goyang, karena itu menjadi impiannya. Si anak mencoba segala hal untuk menarik perhatian sang ayah yg sibuk ini. Pada suatu hari sang ayah memanggil sang anak, lalu ia mengajaknya duduk bersama. Lalu sang ayah bertanya ke sang anak, "nak bapak ingin dia duduk di kursi goyang itu, apakah kamu akan marah?" sang anak menjawab "tapi ayah teman ku ini pernah menghina mu, waktu ayah mau duduk di kursi goyang yg besar itu". "biar lah nak, yg kutanyakan pada mu jawablah dulu" kata sang ayah. " aku tidak marah, namun ijinkan ku untuk menemaninya minimal disebelahnya.... Karena sebelum ini aku udah menengok tempat kursi itu ditaruh dan aku dah bilang ke teman-teman, aku menengok calon kursi yang akan ku duduki esok, biar muka ku gak malu ayah" jawab sang anak. "orang ini lugu nak, jika esok dia tergoyang dan jatuh, siapa tahu kamu bisa duduk di kursi itu" jawab sang ayah.

Pada keluarga yg lain terjadi hal yg lain pula, sebuah keluarga yg penuh prihatin dan rasa sayang. Ayah nya sedang berbincang pada sang ibu diteras rumah, si ibu sedang membersihkan kameranya. "sudah lama kamera ini tak digunakan ayah, adakah cara biar mama bisa hunting lagi". "Sudah lah ma, ayah sudah 2x jadi, sekarang sudah tak bisa lagi duduk di kursi goyang yg mewah itu" jawab si suami. Lalu istrinya berfikir keras sambil membersihkan lensa-lensa besar yg sering ia gunakan dulu selama 2 periode. Ditemani pembantunya yg cantik yg membawakan lap dan kipas angin kecil dibelakangnya(udara sering gerah). Si ibu tiba-tiba mempunyai ide, "bagaimana kalau anak kita duduk di kursi goyang yg sedang dulu yaah, sementara dia duduk ibu bisa hunting, nanti dia duduknya ditemani asisten kita". "kursi yang dia kejar beda bu, dia mengejar bintang dan kursi yang lebih terlihat gagah" jawab sang ayah. "cobalah ayah bertanya padanya, atau kita tanyakan berdua" jawab si istri. Lalu si istri meminta ajudannya memanggil si anak, yang rapu berseragam dan terlihat seperti suaminya pada masa muda. "malam ini ibu dan bapak mau menanyakan pada mu, gus kamu mau gak duduk disana, karena bapak dan ibu ingin sekali melihat mu duduk disana, ini permintaan ibu mu nak... Jika kamu duduk dikursi pilihan mu terlalu lama nak." tanya sang ibu. Anaknya kaget dan gak menyangka orangtuanya akan bertanya hal yg demikian. "lakukanlah ini demi ibu mu nak, lihat lah kamera ibu mu... Tak lagi bisa cekrek2 karena papa mu sudah pensiun" lalu sang anak pun dengan berat hati menjawab "baiklah bu, aku mau" setelah itu sang anak masuk kamar dan menulis surat kepada kursi berbintag. Dia mundur untuk menggapai kursi langit, yang mungkin suatu saat nanti lebih tinggi dari orang yg duduk dikursi bintang.

Sebuah kisah keluarga yang hidup di ibu kota, tentang perebutan kursi..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar