Rabu, 07 September 2016

Ahok-jokowi lovers and haters, yg terlena....

Berasa memang negeri infotaiment atau memang negeri yang selonya tiada tara. Tanah subur makmur lempar padi tumbuh padi, lempar jagung tumbuh jagung, lempar beton tumbuh gedung.
Saking kayanya negeri ini, lempar ahok dan jokowi tumbuh hater dan lover. Dan subur sampai kebawah-bawah, jadi obrolan dari yang angon bebek ampe yang kerjaan nya paripurnaan. Kalau jokowi mungkin karena dia menjadi pemimpin satu negara pantaslah diobrolkan seluruh negeri. Lah ahok dia dijakarta trus yg belum pernah liat monas aja bisa ngomongin, ampe kadang bisa lebih tahu. Emang ajaib perkembangan negeri ini lewat internet, bisa buat orang ngomong banyak hal.
Bisa bikin anak sd nangis sesegukan kalau walikotanya entar pindah ke ibu kota, serta bisa bikin setiap jari menghujat dan menyanjung. Setelah sekian lama ini kok jadi nya terlihat ini terbentuk yaa, mungkin hanya aku yang membacanya atau yang lain juga.
Ada tulisan menarik yang sempat tak baca di facebook, bahwa tanah sawah digusur pindah ke kota digusur. Sawah nya sepertinya ditinggalkan oleh para pemudanya karena tertarik kerja dikota, sedang tanah dikota yg dijadikan tempat tinggal memang bukan tanahnya. Trus gimana coba di daerah dipaksa jual tanah, nyampai dikota tanah yang bukan miliknya digusur.
Sedih sebenernya melihat kenyataan ini, namun berita ini sungguh memuakan karena selalu diisi kepentingan entah itu lover ataupun haters.
Masalah yang penting untuk bersama malah gak pernah ada yg demo besar-besaran baik lover ataupun haters. Gak ada galang aksi solidaritas kumpul ktp untuk menentang atau menuju tujuan bersama.
Simple nya adalah, masalah HUKUM baik korupsi ataupun yang lainnya. Berita vonis hukuman yang kemarin di hukum lebih ringan dari maling ayam aja gak ada yang bahas. Cuma dihukum 3th penjara ma denda 200 jt, lah dendanya murah bangets jualin empang aja dah cukup. Namanya koruptor tu ahli lobby2 dan transaksi dipenjara bisa acting kelakuannya baik, dapet potongan deh.
Ayolah kalau pun kalian pengen pemimpin yang jujur,  amanah, dan bekerja tu simple rumusnya. Kalau hukum nya bener ya pasti pemimpinannya bener, gak cuma bener tp banyak yang akan berfikir ulang untuk maju jadi pemimpin. Ketika hukumnya gak bener, bekas narapidana koruptor aja bisa menjadi pejabat.
Ini sekedar tulisan aja sapa tahu sedikit membuka mata, kalau mau milih pemimpin yang diidolakan ya harus dibenahi hukum nya. Hukuman mati atau dimiskinkan jika korup, mungkin akan membuat jera para pemimpin atau pejabat dan membuat orang berfikir ulang untuk menjadi pemimpin karena untuk kepentingan pribadi. Haters dan lovers baik jokowi ataupun ahok ini sepertinya ada yang menjaga untuk selalu seperti ini, biar masyarakat berifikir pemimpin menentukan segalanya. Padahal di sebuah negara HUKUM adalah pimpinan paling tinggi, presiden pun harus tunduk kepada hukum. Yang seharusnya kita coba melihatnya ada diranah hukum, udah dikasih contoh kalau yg independent aja tumbang karena hukum. Belum kampanye dan suruh ngumpulin ktp yg jumlahnya gak masuk akal. Kalau memang mau menyeleksi siapa pemimpin berikutnya, maka mari kita benahi undang- undang dan hukum kita. Jika penegak hukum kok mempermaikan hukum ya mari kita benahi juga hukum dan praturan hukum untuk penegak hukum.

Indonesia akan selalu terisi oleh para lintah dan para penghisap darah bangsa sendiri kalau tembok hukumnya cuma kain satin yg kelihatan menyala namun tipis dan mudah dirobek...

Note: foto dari goggle and screenshot...
Maklum belum sempat mothoin langsung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar