Kamis, 20 Oktober 2016

SIRAMAN ROHANI

Suatu sore disebuah kampung, para pemuda bergotongroyong dengan penuh semangat membangun tenda dan panggung. Akan ada seorang pemuka agama yang datang memberikan siraman rohani atau bisa dibilang pencerahan untuk warga. Panggung telah rampung di garap, tenda telah berdiri, kursi-kursi sudah tertata rapi tinggal menunggu persiapan dari soundsytem yang sedang diselesaikan. Soundsytem terbaik yang ada di sekitar daerahnya yang sering menjadi tempat untuk menyewa acara-acara besar. Lampu penerangan seadanya karena bukan konser music, lebih kesebuah pencerahan rohani untuk warga.
Sore telah menjelang persiapan pun rampung dikerjakan, pemuda- pemudi dan warga desa pun telah dandan rapi berbusana religis, wangi dan bersih. Karena pemuka agama ini sangatlah terkenal sering muncul di media baik elektronik ataupun cetak, apalagi social media. Ada seorang datang dia mengaku sebagai wakil dari pemuka agama yang terkenal itu. Dia memberitahukan ke pimpinan warga tetang apa saja yang harus di persiapkan untuk menyambut kedatangan beliau. Setiap harus warga berjejer rapi biar tidak seperti orang yang berebut salaman. Bapak minta agar di jemput dengan mobil yang sudah di minta ke panitia, mobil keluaran terbaru dan cukup mewah. Bapak juga gak bisa makan makanan yang biasa dan bersama-sama warga, nanti tolong sediakan tempat untuk beliau dan tamu undangan. Serta jangan lupa nominal yang sudah di sebutkan untuk beliau disiapkan. Amplopnya nanti tolong diserahkan ke saya sebelum bapak mulai memberikan siraman rohani.
Lalu warga menyiapkan segala keperluan pemuka agama itu, mobil yang sudah disewa diminta segera menjemput. Uang sumbangan warga yang terkumpul pun segera untuk dimasukan kedalam amplop yang uangnya sempat di tukarkan ke bank agar tidak berupa recehan. Sumbangan warga kampung yang menarik iuran seikhlasnya minimal Rp 20.000, yang sudah terkumpul bersama dana rumah ibadah. Tekumpul sekitar Rp 20 jt, terdiri dari sumbangan warga, kas rumah ibadah, dan juga kas pemuda yang aktif di kegiatan ibadah. Sedang untuk keperluan lain-lainya sudah disponsori oleh salah satu produk pembuat baju-baju bernuansa religi. Yang bintang iklan nya adalah bapak pemuka agama itu juga, dan sebagian warga menyempatkan untuk membeli baju itu agar terlihat bagus di mata pak pemuka agama.
Tak berselang lama iring-iringan kendaraan datang membawa rombongan pemuka agama tersebut. Mobil mewah berada di tengah diapit oleh mobil yang lain yang di pakai oleh para murid-murid setianya dan ajudan yang tadi sempat datang lebih dahulu, disusul oleh para pejabat – pejabat daerah dan instansi. Bapak pemuka agama enggan turun sebelum warga berjejer rapi dan para pejabat sudah terlebih dahulu turun dari kendarannya. Setelah semua warga berbaris rapi dan para pejabat berdiri didepan seolah menyambut kedatangan dari bapak pemuka agama ini. Beliau keluar dari mobil mewahnya dengan tersenyum lebar berbusana sangat religis seperti gambaran orang-orang tempat dimana agama itu berasal. Memberikan salam kepada para pejabat daerah, lalu melambaikan tangan kepada seluruh warga yang telah berbaris rapi menyambutnya.
Para pejabat dan bapak pemuka agama bersama berjalan menuju ke kursi VVIP yang sudah disiapkan oleh warga. Banyak warga mengambil foto seraya meminta foto bersama namun tak di hiraukan olehnya. Dia hanya tersenyum ramah ke warga desa yang mempersiapkan perhelatan ini dan menunggu siraman rohani yang menyejukan dari nya. Asisten pribadinya pun menuju ke ketua panitia untuk mengambil amplop yang sudah dipersiapkan, dan berisi seperti yang sudah disepakati 20 jt untuk 1 jam siraman rohani.
Lalu acara pun di mulai, pertama-tama sambutan dari pejabat daerah yang memberikan salam selamat datang bagi pak pemuka agama. Dengan rasa senang dan bangga pak pemuka agama mau berkunjung memberikan siraman rohani ke warga desa. setelah selesai pidato dari pejabat daerah lalu dilanjutkan dengan hiburan bernuansa religi yang sudah di siapkan oleh warga. Ditempat duduk VVIP pejabat daerah sedikit berbincang dan menanyakan ke pemuka agama. Apa gerangan isi dari siraman rohani yang akan disampaikan, sang pemuka agama pun menjawabnya dengan tersenyum. Hal-hal kehidupan biasa yang sering terjadi di masyarakat serta beberapa pesan yang diminta oleh sponsor. Pak pejabat pun mengangguk sembari menanyakan kesediaan pemuka agamanya untuk membawa pesan-pesan politik sehingga warga tidak salah mengambil jalan politik. Itu bisa diatur, jawab pak pemuka agama sambil tertawa. Karena agama adalah kekuatan politik saya tidak ingin umat menjadi salah mengambil atau memilih nya. Tentunya saya berharap warga bisa mengambil jalan politik seperti yang saya dan bapak inginkan bukan.
Acara pun tiba saatnya pada si pemuka agama untuk tampil diatas panggung, dengan kursi yang disiapkan di tengah-tengah panggung dan mic. Dia berjalan keatas panggung dengan bangga dan tersenyum kepada setiap warga yang melihatnya. Kursi pun dia duduki dan mulai membuka pencerahan rohani, dimulai dengan doa-doa yang dia sudah hafalkan. Dan dia pakai selalu dimanapun dia memberikan pencerahan rohani. Pencerahan diawali dengan kehidupan social yang ada di masyarakat, tentang agama mengajarkan kita untuk saling bantu-membantu terhadap sesama manusia. Dia mengingatkan untuk tidak hidup bermewah-mewahan, kepada warga yang hadir. Apalagi sombong akan kemewahan dunia, pelit akan ilmu, atau tak mau membantu menolong. Dan tak lupa dia memberikan pencerahan tentang kesabaran, kesabaran adalah kunci ketaatan kepada Tuhan. Menjalan kan perintah Tuhan yang begitu banyak itu membutuhkan kesabaran dan keteguhan hati. Lalu dilanjutkan dengan bagaimana manusia harus bisa melihat sekelilingnya, mencari rejeki yang baik agar yang tumbuh didalam tubuh juga baik. Mengingatkan tentang jangan mudah berburuk sangka akan segala hal yang terjadi, mungkin itu terjadi karena kehendak Tuhan. Mengingatkan pada setiap warga tentang ciri orang munafik, yang dia jadikan contoh adalah pemimpin yang mengumbar janji-janji namun tak menepati.
Seketika itu waktu pencerahan rohani sedang berlangsung khitmat, tiba-tiba terjadi mic nya trouble dan mati. Dia bingung dan merasa malu, dia berteriak kepada soundman untuk segera memperbaikinya. Seorang soundman lalu berlari membawa batrai dan mic wairless sebagai ganti diatas panggung, seketika itu juga si pemuka agama membentak-bentak dan mau memukul si sound man. Atas dasar kepentingan umat yang haus akan pencerahan rohani bisa-bisa nya kamu anggap ini hal sepele. Mereka ini warga yang udah bayar kamu untuk berikan kualitas sound yang bagus dan itu untuk Tuhan dan umat, kamu kerja gak bener” umpat sang pemuka. Untung saja ada beberapa pejabat dan petugas keamanan yang langsung melerai diantara keduanya.
“maaf warga sekalian, saya marah karena tidak tanggung jawabnya si soundman yang membuat pencerahan rohani ini menjadi terhenti dan tersendat” begitu kata pemuka agama saat memulai kembali siraman rohaninya. Warga pun terkejut dengan sikap nya, dan mulai melihat si soundman ini adalah sumber masalah. Dia gak memperhitungkan bahwa yang diundang adalah pemuka agama yang terkenal, dan semuanya harus serba sempurna. Ya setiap alat elektronik itu tidak bisa di prediksi rusak atau tidaknya namun mestinya harus baguslah untuk acara inti. Begitu gumam salah seorang warga yang hadir disana. Melihat hal itu sang pemuka agama lalu membicarakan tentang tanggung jawab, mencotohkan sound man yang tidak bertanggung jawab terhadap kepercayaan yang di berikan warga untuk mendapat kualitas sound yang bagus.
Dengan muka yang sedikit kesal dia mengambarkan dan melukiskan orang yang tidak bertanggung jawab terhadap kepercayaan yang di berikan. Lalu dia memulai berdoa dan mengajak warga semua ikut berdoa, sambil menangis-nangis doa ia panjatkan kepada Tuhan. Berdoa sepertihalnya biasa yang dia sudah hafalkan,dan dia keluarkan disetiap saat dia mengisi pencerahan atau siraman rohani. Warga yang mendengarkan nya pun ikut menangis dan sedih mendengar kata-kata yang bergetar dan tangis dari sipemuka agama. Lalu pemuka agamanya pun menutup acara itu, panita sedikit bingung kenapa tidak tepat 1 jam. Panitia sepakat dengan si pemuka agama untuk memberikan siraman rohani selama 1 jam, ini hanya 40 menit diatas panggung. Seorang pemuda setempat mencoba menanyakan kepada asistennya (murid pemuka agama) kenapa beliau hanya 40 menit diatas panggung. Asistennya pun menjawab bahwa bapak kecewa dengan sound sytem nya jadi beliau memutuskan untuk menyudahinya. Si pemuda itu pun mengangguk, dengan perasaan yang bingung juga kesal dengan si soundmannya. Membuat pencerahan rohani tidak berlangsung selama yang direncanakan, karena ulah dan kesalahan sound mannya. Padahal si pemuda ini juga ikut memastikan bahwa sound sytem sudah sangat bagus dan sudah sesuai, lancer tidak mengalami gangguan saat di coba sebelum acara mulai.
Setelah pemuka agama turun dari panggungnya panitia pun menutup rangkaian acaranya, lalu si pemuka agama di persilahkan untuk menuju ruang makan bersama para pejabat. Warga diberikan bingkisan nasi dus yang sudah dipersiapkan oleh panitia, boleh dimakan disana ataupun di bawa pulang. Pemuka agama masuk ke ruang makan bersama pejabat – pejabat, dengan senda gurau dan bercanda terdengar tawa hingga diluar ruangan. Asisten nya menghampiri panitia untuk mempersiapkan mobil untuk yang tadi di pakai oleh pemuka agama tersebut.
Setelah selesai makan dan berbincang-bincang dengan para pejabat, pemuka agama pun bergegas keluar ruangan. Dengan tersenyum dia memandang beberapa warga yang menikmati nasi dus, serta melambaikan tangan tanda dia mau segera pulang. Dia masuk ke mobil yang telah dipersiapkan, sambil bersalaman dengan pejabat – pejabat setempat, beberapa warga yang ingin bersalaman pun tidak bisa karena terhalang oleh petugas keamanan. Lalu mluncurlah pulang rombongan pemuka agama menuju hotel tempat menginap.
Dan wargapun kembali bergotong royong untuk membereskan segala sesuatu termasuk membersihkan tempat perhelatan acara. Ketua panitia memotong 10% biaya soundsytem karena tidak sesuai saat persiapan, persiapannya bagus kenapa waktu acara bisa mati mic nya ditengah2 acara. Sehingga sipemuka agama hanya mau memberikan pencerahan dan siraman selama 40 menit. Soundman pun menerima hal itu, melihat emosi warga akan kejadian tersebut. Mungkin saja jika dia tidak terima akan hal itu akan mendapat amuk warga.

Selesai

nb :cerita ini hanya karanganan belaka, jika terjadi kesamaan cerita dan alur cerita mungkin penulis berada pada tempat acara yang sedang dilaksanakan,  terimakasih.
juga tidak menyangkut pada salah satu,dua,tiga, atau lima sekaligus..... :D:D:D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar