Suatu sore disebuah kampung, para
pemuda bergotongroyong dengan penuh semangat membangun tenda dan panggung. Akan
ada seorang pemuka agama yang datang memberikan siraman rohani atau bisa
dibilang pencerahan untuk warga. Panggung telah rampung di garap, tenda telah
berdiri, kursi-kursi sudah tertata rapi tinggal menunggu persiapan dari
soundsytem yang sedang diselesaikan. Soundsytem terbaik yang ada di sekitar
daerahnya yang sering menjadi tempat untuk menyewa acara-acara besar. Lampu
penerangan seadanya karena bukan konser music, lebih kesebuah pencerahan rohani
untuk warga.
Sore telah menjelang persiapan
pun rampung dikerjakan, pemuda- pemudi dan warga desa pun telah dandan rapi
berbusana religis, wangi dan bersih. Karena pemuka agama ini sangatlah terkenal
sering muncul di media baik elektronik ataupun cetak, apalagi social media. Ada
seorang datang dia mengaku sebagai wakil dari pemuka agama yang terkenal itu.
Dia memberitahukan ke pimpinan warga tetang apa saja yang harus di persiapkan
untuk menyambut kedatangan beliau. Setiap harus warga berjejer rapi biar tidak
seperti orang yang berebut salaman. Bapak minta agar di jemput dengan mobil
yang sudah di minta ke panitia, mobil keluaran terbaru dan cukup mewah. Bapak
juga gak bisa makan makanan yang biasa dan bersama-sama warga, nanti tolong
sediakan tempat untuk beliau dan tamu undangan. Serta jangan lupa nominal yang
sudah di sebutkan untuk beliau disiapkan. Amplopnya nanti tolong diserahkan ke
saya sebelum bapak mulai memberikan siraman rohani.
Lalu warga menyiapkan segala
keperluan pemuka agama itu, mobil yang sudah disewa diminta segera menjemput.
Uang sumbangan warga yang terkumpul pun segera untuk dimasukan kedalam amplop
yang uangnya sempat di tukarkan ke bank agar tidak berupa recehan. Sumbangan
warga kampung yang menarik iuran seikhlasnya minimal Rp 20.000, yang sudah
terkumpul bersama dana rumah ibadah. Tekumpul sekitar Rp 20 jt, terdiri dari
sumbangan warga, kas rumah ibadah, dan juga kas pemuda yang aktif di kegiatan
ibadah. Sedang untuk keperluan lain-lainya sudah disponsori oleh salah satu
produk pembuat baju-baju bernuansa religi. Yang bintang iklan nya adalah bapak
pemuka agama itu juga, dan sebagian warga menyempatkan untuk membeli baju itu
agar terlihat bagus di mata pak pemuka agama.
Tak berselang lama iring-iringan
kendaraan datang membawa rombongan pemuka agama tersebut. Mobil mewah berada di
tengah diapit oleh mobil yang lain yang di pakai oleh para murid-murid setianya
dan ajudan yang tadi sempat datang lebih dahulu, disusul oleh para pejabat –
pejabat daerah dan instansi. Bapak pemuka agama enggan turun sebelum warga
berjejer rapi dan para pejabat sudah terlebih dahulu turun dari kendarannya.
Setelah semua warga berbaris rapi dan para pejabat berdiri didepan seolah
menyambut kedatangan dari bapak pemuka agama ini. Beliau keluar dari mobil mewahnya
dengan tersenyum lebar berbusana sangat religis seperti gambaran orang-orang
tempat dimana agama itu berasal. Memberikan salam kepada para pejabat daerah, lalu
melambaikan tangan kepada seluruh warga yang telah berbaris rapi menyambutnya.
Para pejabat dan bapak pemuka
agama bersama berjalan menuju ke kursi VVIP yang sudah disiapkan oleh warga.
Banyak warga mengambil foto seraya meminta foto bersama namun tak di hiraukan
olehnya. Dia hanya tersenyum ramah ke warga desa yang mempersiapkan perhelatan
ini dan menunggu siraman rohani yang menyejukan dari nya. Asisten pribadinya
pun menuju ke ketua panitia untuk mengambil amplop yang sudah dipersiapkan, dan
berisi seperti yang sudah disepakati 20 jt untuk 1 jam siraman rohani.
Lalu acara pun di mulai,
pertama-tama sambutan dari pejabat daerah yang memberikan salam selamat datang
bagi pak pemuka agama. Dengan rasa senang dan bangga pak pemuka agama mau
berkunjung memberikan siraman rohani ke warga desa. setelah selesai pidato dari
pejabat daerah lalu dilanjutkan dengan hiburan bernuansa religi yang sudah di
siapkan oleh warga. Ditempat duduk VVIP pejabat daerah sedikit berbincang dan
menanyakan ke pemuka agama. Apa gerangan isi dari siraman rohani yang akan
disampaikan, sang pemuka agama pun menjawabnya dengan tersenyum. Hal-hal
kehidupan biasa yang sering terjadi di masyarakat serta beberapa pesan yang
diminta oleh sponsor. Pak pejabat pun mengangguk sembari menanyakan kesediaan
pemuka agamanya untuk membawa pesan-pesan politik sehingga warga tidak salah
mengambil jalan politik. Itu bisa diatur, jawab pak pemuka agama sambil
tertawa. Karena agama adalah kekuatan politik saya tidak ingin umat menjadi
salah mengambil atau memilih nya. Tentunya saya berharap warga bisa mengambil
jalan politik seperti yang saya dan bapak inginkan bukan.
Acara pun tiba saatnya pada si
pemuka agama untuk tampil diatas panggung, dengan kursi yang disiapkan di
tengah-tengah panggung dan mic. Dia berjalan keatas panggung dengan bangga dan
tersenyum kepada setiap warga yang melihatnya. Kursi pun dia duduki dan mulai
membuka pencerahan rohani, dimulai dengan doa-doa yang dia sudah hafalkan. Dan dia
pakai selalu dimanapun dia memberikan pencerahan rohani. Pencerahan diawali
dengan kehidupan social yang ada di masyarakat, tentang agama mengajarkan kita
untuk saling bantu-membantu terhadap sesama manusia. Dia mengingatkan untuk
tidak hidup bermewah-mewahan, kepada warga yang hadir. Apalagi sombong akan kemewahan
dunia, pelit akan ilmu, atau tak mau membantu menolong. Dan tak lupa dia
memberikan pencerahan tentang kesabaran, kesabaran adalah kunci ketaatan kepada
Tuhan. Menjalan kan perintah Tuhan yang begitu banyak itu membutuhkan kesabaran
dan keteguhan hati. Lalu dilanjutkan dengan bagaimana manusia harus bisa
melihat sekelilingnya, mencari rejeki yang baik agar yang tumbuh didalam tubuh
juga baik. Mengingatkan tentang jangan mudah berburuk sangka akan segala hal
yang terjadi, mungkin itu terjadi karena kehendak Tuhan. Mengingatkan pada
setiap warga tentang ciri orang munafik, yang dia jadikan contoh adalah
pemimpin yang mengumbar janji-janji namun tak menepati.
Seketika itu waktu pencerahan
rohani sedang berlangsung khitmat, tiba-tiba terjadi mic nya trouble dan mati. Dia
bingung dan merasa malu, dia berteriak kepada soundman untuk segera
memperbaikinya. Seorang soundman lalu berlari membawa batrai dan mic wairless
sebagai ganti diatas panggung, seketika itu juga si pemuka agama
membentak-bentak dan mau memukul si sound man. Atas dasar kepentingan umat yang
haus akan pencerahan rohani bisa-bisa nya kamu anggap ini hal sepele. Mereka ini
warga yang udah bayar kamu untuk berikan kualitas sound yang bagus dan itu
untuk Tuhan dan umat, kamu kerja gak bener” umpat sang pemuka. Untung saja ada beberapa
pejabat dan petugas keamanan yang langsung melerai diantara keduanya.
“maaf warga sekalian, saya marah
karena tidak tanggung jawabnya si soundman yang membuat pencerahan rohani ini
menjadi terhenti dan tersendat” begitu kata pemuka agama saat memulai kembali
siraman rohaninya. Warga pun terkejut dengan sikap nya, dan mulai melihat si
soundman ini adalah sumber masalah. Dia gak memperhitungkan bahwa yang diundang
adalah pemuka agama yang terkenal, dan semuanya harus serba sempurna. Ya setiap
alat elektronik itu tidak bisa di prediksi rusak atau tidaknya namun mestinya
harus baguslah untuk acara inti. Begitu gumam salah seorang warga yang hadir
disana. Melihat hal itu sang pemuka agama lalu membicarakan tentang tanggung
jawab, mencotohkan sound man yang tidak bertanggung jawab terhadap kepercayaan
yang di berikan warga untuk mendapat kualitas sound yang bagus.
Dengan muka yang sedikit kesal
dia mengambarkan dan melukiskan orang yang tidak bertanggung jawab terhadap
kepercayaan yang di berikan. Lalu dia memulai berdoa dan mengajak warga semua
ikut berdoa, sambil menangis-nangis doa ia panjatkan kepada Tuhan. Berdoa sepertihalnya
biasa yang dia sudah hafalkan,dan dia keluarkan disetiap saat dia mengisi
pencerahan atau siraman rohani. Warga yang mendengarkan nya pun ikut menangis
dan sedih mendengar kata-kata yang bergetar dan tangis dari sipemuka agama. Lalu
pemuka agamanya pun menutup acara itu, panita sedikit bingung kenapa tidak
tepat 1 jam. Panitia sepakat dengan si pemuka agama untuk memberikan siraman
rohani selama 1 jam, ini hanya 40 menit diatas panggung. Seorang pemuda
setempat mencoba menanyakan kepada asistennya (murid pemuka agama) kenapa
beliau hanya 40 menit diatas panggung. Asistennya pun menjawab bahwa bapak
kecewa dengan sound sytem nya jadi beliau memutuskan untuk menyudahinya. Si pemuda
itu pun mengangguk, dengan perasaan yang bingung juga kesal dengan si
soundmannya. Membuat pencerahan rohani tidak berlangsung selama yang
direncanakan, karena ulah dan kesalahan sound mannya. Padahal si pemuda ini
juga ikut memastikan bahwa sound sytem sudah sangat bagus dan sudah sesuai, lancer
tidak mengalami gangguan saat di coba sebelum acara mulai.
Setelah pemuka agama turun dari
panggungnya panitia pun menutup rangkaian acaranya, lalu si pemuka agama di
persilahkan untuk menuju ruang makan bersama para pejabat. Warga diberikan
bingkisan nasi dus yang sudah dipersiapkan oleh panitia, boleh dimakan disana
ataupun di bawa pulang. Pemuka agama masuk ke ruang makan bersama pejabat –
pejabat, dengan senda gurau dan bercanda terdengar tawa hingga diluar ruangan. Asisten
nya menghampiri panitia untuk mempersiapkan mobil untuk yang tadi di pakai oleh
pemuka agama tersebut.
Setelah selesai makan dan
berbincang-bincang dengan para pejabat, pemuka agama pun bergegas keluar
ruangan. Dengan tersenyum dia memandang beberapa warga yang menikmati nasi dus,
serta melambaikan tangan tanda dia mau segera pulang. Dia masuk ke mobil yang
telah dipersiapkan, sambil bersalaman dengan pejabat – pejabat setempat,
beberapa warga yang ingin bersalaman pun tidak bisa karena terhalang oleh
petugas keamanan. Lalu mluncurlah pulang rombongan pemuka agama menuju hotel
tempat menginap.
Dan wargapun kembali bergotong
royong untuk membereskan segala sesuatu termasuk membersihkan tempat perhelatan
acara. Ketua panitia memotong 10% biaya soundsytem karena tidak sesuai saat persiapan,
persiapannya bagus kenapa waktu acara bisa mati mic nya ditengah2 acara. Sehingga
sipemuka agama hanya mau memberikan pencerahan dan siraman selama 40 menit. Soundman
pun menerima hal itu, melihat emosi warga akan kejadian tersebut. Mungkin saja
jika dia tidak terima akan hal itu akan mendapat amuk warga.
Selesai
nb :cerita ini hanya karanganan belaka, jika terjadi kesamaan cerita dan alur cerita mungkin penulis berada pada tempat acara yang sedang dilaksanakan, terimakasih.
juga tidak menyangkut pada salah satu,dua,tiga, atau lima sekaligus..... :D:D:D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar