Jumat, 21 Oktober 2016

Pelajaran Agama

Pelajaran Agama
Ada sebuah keluarga hidup disebuah kampung kecil di pinggiran kota, pinggir kota yang tak terlalu ramai. Di karuniai seorang buah hati laki-laki yang aktif sekali, bocah ini adalah bocah yang mungkin paling cerewet diantara bocah laki-laki lainnya. Tiada henti bertanya akan apapun yang membuatnya bingung, atau yang dia ingin ketahui. Suatu hari dia melihat ayah dan ibu nya beribadah, lalu iya bertanya apa yang ayah dan ibunya lakukan. Orangtuanya menjawab beribadah menyembah kepada Tuhan nak, karena Tuhan yang menciptakan dunia dan seisinya termasuk kamu dan kami. Lalu iya pun bertanya kembali, haruskah melakukannya serta dimana Tuhan. Tuhan ada disana dan dihati kita nak, ini kewajiban manusia sebagai mahluk ciptaan nya yang harus menyembahNya.  Anak kecil itu bertanya lagi, adek berarti juga harus melakukan nya nanti kalau tidak Tuhan marah ya bunda. Iya nanti ikut sembahyang bersama ayah dan bunda yaa.
Selang beberapa tahun anak kecil ini masuk pada sebuah sekolah religi untuk anak-anak tk. Tiap hari diajarkan membaca kitab suci dan bernyanyi lagu-lagu religi. Pada suatu hari sang anak bertanya pada sang guru, apa itu surga dan neraka serta kenapa harus ada. Guru pun menjawab kalau surga itu untuk orang-orang yang baik, sedang neraka itu untuk orang-orang yang jahat dan berdosa. Lalu sang anak bertanya lagi apa itu dosa. Dosa itu perbuataan yang tidak disukai oleh tuhan dan dilarang Tuhan, maka Tuhan akan menghukumnya di neraka. Maka kamu harus menjalankan apa yang diminta Tuhan dan jangan melakukan apa yg dilarang Tuhan.
Waktu berganti saat nya si bocah kecil ini menginjakan kaki di bangku sekolah dasar, sekolah dimana bukan lagi sekolah religi. Sekolah negeri yang tak jauh dari tempat tinggalnya, pada saat memasuki kelas 5 dia mencoba bertanya kembali ke guru agamanya. Ia bertanya kenapa ada beberapa teman sekelasnya kenapa gak ikut pelajarannya. Pak guru menjawab karena lain agamanya, maka dia ikut pelajaran agama di lain kelas. Bocah itu bertanya lagi, kalau agamanya lain apa Tuhannya lain. Kepercayaan kepada Tuhannya lain, mereka menyembah dengan cara yang lain juga. Bocah itu pun belum puas dengan jawaban dari sang guru, lalu Tuhannya gimana pak, apakah lain juga atau sama. guru menjawab kamu belajar dulu dan ikuti pelajaran bapak, nanti kamu akan paham. Dia pun mengangguk dan terdiam memperhatikan pelajaran dari si guru agama.
Selang beberapa tahun masuk lah si bocah ini menginjak remaja, di masa-masa yang sangat pengen tahu dan merasa tahu. Pada waktu pelajaran agama di kelasnya ia mulai bertanya kembali pada guru smp nya. Karena dia merasa tidak mendapatkan jawaban pada masa sd nya, ia bertanya tentang nasib teman nya yang berbeda agama. Si guru menjawab ya mereka gak percaya pada agama ini, maka mereka kita sebut kafir. Wah berarti masuk neraka dong pak, dan juga gak bakal dapat surga kalau begitu. Iya mungkin, kalau mereka tercerahkan pasti akan masuk surge. Si bocah menjawab, tapi mereka kan baik-baik semua bahkan sangat baik rajin menolong juga gak nakal. Guru mulai menjawab dengan nada tegas, karena itu sudah ada dalam ketentuan agama. Agama yang gak adil atau Tuhan yang gak adil pak guru,tanya si bocah. Guru pun nyeletuk  dengan kata-kata yang membikin si anak diam, “wah anak komunis ini” dilanjut dengan menjawab itu terserah Tuhan. Kamu kalau tidak suka pelajaran bapak bisa keluar dari kelas saja, gak mungkin bapak Cuma jawab pertanyaan mu saja.
Dia terdiam lalu mengikuti pelajaran tanpa banyak bertanya lagi, sekalipun di lain hari guru memberikan waktu untuk bertanya ia enggan untuk mengangkat tangan dan bertanya.
Dan tiba saat dia di masa-masa remaja beranjak dewasa, masa-masa SMA. Dia sudah melupakan dan tidak lagi memikirkan hal-hal yang berbau agama. Namun ketika beranjak di kelas 3 SMA di beranikan diri untuk bertanya pada sang guru. Karena guru sedang menerang kan tentang surga dan neraka, pak bagaimana nasib orang-orang yang diluar agama ini. Guru menjawab neraka karena mereka termasuk kafir. Walapun mereka baik dan berbuat baik pak, saut sang murid. Guru pun menjawab iya, karena mereka telah tahu ada agama ini yang menyampaikan kebenaran tetapi mereka tetap percaya pada yang selain Tuhan dalam agama ini. Wah terus kalau orang-orang yang sebelum agama ini ada gimana pak? Atau orang-orang dipedalaman yang jauh dari akses informasi saut sang bocah. Guru menjawab dengan nada yang sedikit keras, kalau orang sebelum agama ini ada itu hak Tuhan, kalau yang sesudah ya tetap kafir namanya. Si bocah pun merasa aneh mendengar jawab sang guru lalu dia mengagetkan seisi kelas , bapak ini kok kayak Tuhan menentukan yang mana masuk surge, mana masuk neraka, kan kasihan kalau masuk neraka, salah mereka apa ? agama saya ini juga Cuma agama keturunan yang di tularkan sama orang tua saya. Mereka juga senasib seperti halnya saya, mungkin bapak kalau lahir di agama yang lain pasti menganut agama itu juga.
Kamu lancang dan keluar dari kelas saya, jawab sang guru dengan membentak sang anak. Saya pastikan nilai mu tidak lebih dari 5 atau mungkin kurang. Kamu sok tahu dan mencoba menganggu pelajaran agama ini, pertanyaan mu gak ada ujungnya. Mau jadi komunis kamu hah, sana keluar untuk kamu bisa ikut lagi pelajaran agama ini, harus membuat surat pernyataan yang di tandatangan orang tua mu dan kepala sekolah. Si bocah pun keluar sambil bingung apa hubungan komunis dengan agama yaa ??
Di hari selanjutnya orangtuanya pun datang ke sekolah, bersama si bocah menghadap ke kepala sekolah. Didalam ruangan kepala sekolah memberikan wejangan kepada murid dan orantua, bahwa harus menghormati seorang guru. Bertanya itu boleh dan bagus namun jangan menanyakan hal-hal yang mendasar yang tidak jelas ujung nya. Begitu kata kepala sekolah, banyak murid dan guru yang prihatin dengan sikap anak bapak. Mungkin perlu didik agama secara lebih mendalam lagi, pelajaran agama kan sudah ada panduan nya jadi ikutilah panduan itu karena itu jalan kebenaran.
Si bocah pun tertunduk karena sedih hal seperti ini harus melibatkan orang tuanya, dan cap tudingan dari para guru yang jatuh ke orang tuanya serta ke dirinya. Mungkin jika hanya dirinya ia gak akan merasa sedih, karena mnyangkut keluarga membuatnya menjadi sedih. Hukuman masyarakat yang menuding dengan keras dan tatapan tajam seolah keluarga tak beragama dan tidak bermoral.
Lalu orang tua menandatangani surat peryataan bahwa si anak tidak akan mengulangi hal itu kembali. Guru agama pun tersenyum lebar dan merasa kemenangan akan hal yang membuatnya malu di muka murid-muridnya. Tatapan yang seolah mengatakan akulah sumber kebenaran dan juga mengatakan udah lah jangan sok pintar kamu. Menatap mata muridnya yang tertunduk dan seolah memberikan motivasi, sembari berkata udah bapak maafkan kok. Tuhan aja maha pemaaf, bapak ini hanya lah ciptaannya jadi buat apa bapak marah dan tidak memaafkan mu.
Dalam hati si bocah “aku salah apa hingga aku kamu maafkan, bukankah tugas mu memberi pencerahan kepada ku tentang hal yang aku ingin tahu”, sembari mengangguk dan menatap balik tatapan gurunya. Dan akhirnya berempat keluar dari ruang guru, orang tua berterimakasih atas kebaikan hati dan kebijakan dari kepala sekolah dan guru. Sambil tersenyum terlihat oleh seluruh guru yang memang kantornya berada di depan kantor kepala sekolah. Seolah hal yang memalukan ini telah selesai dan tidak menyebar menjadi virus bagi yang lain, atau tidak sampai keluar dari sekolah hal yang seperti ini.
SMU pun terlewati dengan baik oleh si bocah, beranjak menuju tempat kuliah dia bingung dengan pilihannya apa yang sebaiknya dia pilih untuk melanjutkan study nya. Tak sengaja dia membaca buku dari seorang pengarang terkenal, imam al gozali yang berkata mengharamkan filsafat. Anak ini lalu tertarik untuk mengambil kuliah pada focus study ini, ya philosopy atau filsafat. Tp kampus ini hanya ada di salah satu perguruan tinggi ternama di kota itu, yang mungkin tidak pernah terbayangkan untuk bisa masuk kesana. Namun akhirnya dia masuk juga ke kampus yang ia idam-idamkan, bayangan ketika dia ada disana adalah orang-orang yang berpandangan terbuka atau open mind. Masuk lah ia pada tahun pertama kuliah, pada kuliah agama yang dia jalani, ia pun sempatkan bertanya kepada sang dosen. Tentang pertanyaan yang sama sewaktu dia masih sd-smp-smu, dan di jawab dengan sangat diplomatis standart kuliahan. Bawasan nya adalah hak Tuhan menentukan siapa saja yang masuk ke surga ataupun ke neraka.
Dia pun kembali bertanya, jika semacam itu berarti apapun agamanya itu agama Tuhan. Karena hak Nya lah yang menentukan siapa aja yang bakal masuk kedalamnya, apapun agamanya. Mungkin akan di bedakan dari tingkat kelakuan semasa mereka hidup. Jadi gak ada kaum kafir ataupun kaum murtad dalam agama apapun, pencerahan Tuhan bisa lewat agama apapun. Sang dosen menjawab ya tidak seperti itu, karena agama ini adalah agama yang paling benar dan yang lain berarti tidak menyakini Tuhan yang sebenarnya. Lalu si bocah menjawab lagi, bagaimana bisa dan mungkinkah jika orang-orang diluar sana itu belum mengenal, mengetahui ataupun sudah memeluk agama sedari lahir. Seperti halnya kita yang memeluk agama ini sedari kecil, dipaksa untuk memeluknya. Bahkan dipaksa untuk menjalankan ritualnya sehari-hari dengan ketakutan akan neraka dan mimpi tentang surge. Apakah bapak pernah berfikir jikalau agama ini salah berapa orang yang bapak ajak ke neraka.
Kamu anak semester awal sudah menanyakan hal yang aneh, ya inilah mahasiswa filsafat yang keblinger mendewakan logika. Padahal segala ilmu itu bersumber dari Tuhan dzat yang Maha, jadi jika kamu mencari hal-hal yang sekiranya meragukan mu maka kamu berada di tengah kegelapan. Hingga di berikan pencerahan tidak mau menerima dan selalu mempertanyakan.
Pupus lah harapan dan mimpinya di semester pertama dikampus itu, mimpinya tentang menemukan jawaban dari berbagai hal yang berkecamuk di kepalanya hanya di jawab dengan diplomatis dan juga tidak memuaskan. Cap sebagai mahasiswa filsafat yang tergelapkan dan tidak mendapat pencerahan pun terusung di pundaknya.
Kerena menanyakan sesuatu yang tidak lazim dan cendrung membingungkan itu adalah tabu dinegeri ini, agamanya adalah yang paling benar menurut masing-masing agama. Tentang hal-hal yang mencoba menelisik lebih jauh pun hanya akan mendapatkan cap dan sentiment negative dari yang mendengarkan. Atheis, komunis, adalah cap yang akan disandang oleh orang-orang yang mencoba menanyakan dan mencari tahu. Padahal komunis apakah ada hubungannya dengan agama dan tuhan, banyak negara komunis juga beragama dan bertuhan. Kalau atheis masih wajar lah disandang oleh orang yang mempertanyakan hal ini.
Mungkin memang doktrin selama 32th membuat orang-orang enggan bertanya dan menanyakan. Mimpi-mimpi indah surga dan ketakutan yang di ciptakan oleh neraka membuatnya terhenti untuk bertanya bahkan mencoba mencari tahu kebenaran yang hakiki. Ketakutan dan keindahan mimpi akan surga menumpulkan nalar, tentang kebenaran tetaplah kebenaran, dan kejahatan tetaplah kejahatan.
Pernah si bocah ini juga bertanya kepada seorang guru agamanya, kenapa orang-orang meminta doa kepada para pemuka agama. Apakah mereka tidak yakin akan doanya sendiri tidak akan di terima oleh Tuhan. Guru agamanya menjawab dengan hal yang janggal, bahwa pemuka agama mungkin lebih dekat dengan Tuhan sehingga jika ia mendoakan maka akan cepat terwujud. Padahal pada setiap kitab di jelaskan tentang Tuhan akan mendengarkan setiap doa hambanya. Hak tuhan lah kapan hal itu akan terkabul kan dan terwujud.
Ada juga pemuka agama yang sesumbar mau menuntut Tuhan atau menggugatNya jika keinginannya gak terpenuhi. Adalagi yang menyatakan jika hal yang salah dan merugikan orang banyak akan baik jadinya jika keuntungan itu di pakai untuk membangun rumah Tuhan. Apakah orang-orang seperti ini layak menyandang gelar pemuka agama ?? apakah Tuhan itu sekerdil itu sehingga mampu di gugat oleh manusia ?? apakah tuhan serendah itu sehingga Dia mau masuk ke rumah Nya yang didirikan dari hal yang merugikan orang banyak, menyiksa orang banyak, serta membodohi orang banyak ? apakah Tuhan ayat Tuhan sehina itu, hanya untuk memenuhi nafsu bejat birahi selangkangan juga haus harta kekayaan, sehingga orang-orang yang mengaku pemuka agama ini dengan bebasnya mengumbar ayat tuhan untuk melakukan hal-hal memuaskan nafsu mereka ?? apakah orang-orang seperti ini bukan termasuk penghina ayat-ayat Tuhan, hanya karena mereka seagama ??
Dan ketika agama dijadikan tameng untuk membebaskan orang berbuat kekerasan, berbuat keonaran, berbuat semaunya mereka, atas nama agama, apakah agama ini sehina itu ?? apakah hanya karena miskin dia tidak berhak untuk datang kerumah Tuhan ?? apakah karena miskin maka pemuka agama selalu menjual surge dan menakuti dengan neraka ?? karena 32 th di manjakan, sehingga ingin ke surga dengan cara yang singkat, walapun miskin maka berjuang dng maju paling depan membela pemuka agama yang dia sendiri mungkin tak bisa menolong dirinya sendiri di hadapan Tuhan.
Karena si miskin berkhayal jika suatu saat pemuka agama ini lah yang akan menolongnya menuju surga, padahal dalam agama sudah di beri tahu bahwa tidak aka nada yang bisa menolong siapapun di hadapan Tuhan kecuali si pembawa pesan dan kesayangan tuhan. Dan itu pun Cuma dia seorang saja, bukan para pemuka agama yang mereka bela mati-matian atas apa yang di ucapkan, demi kepentingannya.
Semoga suatu saat nanti sekolah menjadi tempat bertanya, menjadi tempat yang benar-benar menggali ilmu. Bukan hanya menuruti apa yang sudah ditulis dan disepakati secara kelompok agama atau dilihat dari sisi untung rugi saja, serta kepentingan penguasa
Si bocah tadi pun menjadi agnostic , yang mungkin di bilang trend anak muda sekarang. Tapi sebenernya berawal dari kekecewaan yang dia alami, lihat, dan rasakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar