Negeri ini
memang istimewa sekali masyarakatnya, pemerintahannya juga medianya. Baik media
social, televise ataupun cetaknya. Tapi memang sangat terlihat di media social
dan televise sih, bagaimana masyarakat ini berfikir dan terbentuk pola
pikirnya. Sebenernya aku percaya tentang apa kata pahlawan bangsa ini “terbentur,
terbentur, lalu terbentuk” Tan Malaka. Walaupun orang seperti dia belum masuk
kedalam seri pahlawan Indonesia setahuku. Atau mungkin sudah yaa… hahaha aku
yang gak update. sebenarnya saat ini masih dalam positive think aja sama
perkembangan Indonesia.
Kita di
benturkan dengan berbagai keadaan yang tejadi di social media ataupun secara
rill yang terjadi dilapangan. Pro kontra yang terjadi sangat asik untuk di baca
dan dilihat, namun sangat sedih sebenernya kalau dirasakan. Contohnya adalah tentang
surat al-maidah ayat 51 yang booming karena di ucapkan oleh seorang ahok dan
dipotong videonya oleh orang gak penting, lalu menjadi viral karena potongan
video dan kekurangan pemahaman Bahasa yang baik dari berbagai kalangan. Karena penggunaan
Bahasa “jangan mau dibohongi sama orang dengan
mengunakan surat al maidah ayat 51” sama “jangan mau di bohongi sama surat al
maidah ayat 51” tentu beda kan maknanya ?? kalau yang lulus smp aja pasti tahu
masalah ini.
Cuma pastinya
ada mungkin yang gak lulus Tk atau SD pun bolos dan gak diterima di smp manapun
jadi pemahamnya lain. Bisa juga karena belajar membacanya otodidak, sering dan
banyak orang yang seperti ini. Berpendirian apa yang di pahaminya adalah
kebenaran mutlak yang harus diperjuangkan karena berasal dari pengalaman dia
belajar membaca. Belum juga ketika para orang-orang yang ngaku ustadz atau
ulama tertangkap karena berbagai kasus. Maaf karena memang tampilannya seperti
ustadz-ustadz dan ulama-ulama yang ada di tv, dimas kanjeng, Aa Gatot, dll. Mereka
menggunakan ayat-ayat untuk menipu dan mengelabuhi korban-korbanya. Untuk memenuhi
nafsu-nafsu bejat mereka dengan menggunakan untaian ayat-ayat dan suara merdu
kalem, kadang marah-marah kalau ada yang gak sepaham. Gak ada yang berteriak
jihad ataupun apa, untuk menumpas orang-orang seperti ini, padahal menurut yang
saya baca “dajjal muncul dimana yang benar itu di bilang salah, dan yang salah
itu kebenaran yang diagungkan”
Atau taktik
salah satu televise nasional yang menyiarkan berulang-ulang dan setiap hari
lagu mars partainya. Walaupun memang setiap televisie swasta negeri ini penuh
dengan kepentingan politik, namun apa perlu mencuci otak bangsa ini dengan lagu
itu? Dulu waktu kita kecil akan terngiang lagu garuda Pancasila karena itu akan
muncul di televise. Nah apakah kita bisa membandingkan lagu garuda Pancasila itu
selevel dengan lagu mars partai tersebut. Serta setiap televise yang penuh
dengan kepentingan pemberitaannya, yang harus selaras dengan partai yang punya
stasiun tv nya. Apa iya setiap masyarakat harus beli atau langganan tv kabel
sehingga bisa menjauhi hal-hal seperti ini. Salah satu pemilik partai ini sadar
tentang taktik orde baru, masih ingat garuda Pancasila yang selalu di putar di
tv, atau laporan khusus, atau mentri penerangan yang menerangkan harga cabe. Nah
anak yang lahiran tahun 2000 an ini akan mengingat lagu itu ketika mereka
dewasa nanti.
Pemberitaan media
online yang begitu dituntut kecepatan tinggi dan selalu update memberitakan hal
yang baru. Mungkin juga mempengaruhi isi berita yang disajikanya, misal berita
tentang presiden bawa payung aja ada beberapa versi pemberitaan, tetang
presiden yang mandiri, presiden memayungi gubernur papua, presiden yang tak mau
dilayani ajudan, presiden pencitraan dll. Cuma membahas tentang presiden
membawa payung. Bukan tentang pembangkit listrik yang sudah terbangun dan
memulai pembangunan tahap berikutnya, ada sih Cuma beberapa saja. Gak seheboh
berita anggota dewan yang memandang tentang pencitraan ampe bikin sajak segala.
Sebenernya itu benturan juga kalau kita lihat secara waras dan tidak berbau sentiment
atau emosional.
Presiden yang
sedang meresmikan juga bekerja mengecek semua hal yang sudah terbangun serta
mengecek pembangunan selanjutnya, dipadupadankan dengan salah satu wakil rakyat
yang berhasil membuat sajak untuk sang presiden. Jika dilihat nya seperti
halnya 10 th dan berhasil membuat banyak album, dan 2 tahun berhasil bikin bbm
1 harga seluruh Indonesia. Disisi ini saya yakin Tuhan ada dan masih sayang
dengan negeri ini dengan menunjukan kejadian ini, tinggal manusianya yang ada
di negeri ini mau gak melihat dan memahami secara waras saja.
Seperti hal
nya Tuhan menunjukan kepada manusia di negeri ini tetang adanya manusia-manusia
yang berkedok agama untuk mengeruk keuntungan seperti yang saya sebut diatas. Berbenturan
dengan para pemuka agama yang benar-benar belajar agama dan menyampaikan
kebeneran agama. Juga Tuhan menunjukan bagaimana orang yang terkenal karena televise
dan media serta baru kemarin belajar agama lebih dipercaya ketimbang
orang-orang yang belajar agama bertahun-tahun bahkan begelar Profesor di bidang
agama.
Juga Tuhan
sayang bangsa ini, dimana seorang anggota lembaga majelis agama di negeri ini
begitu membela seseorang yang menggunakan agama demi keuntungan pribadi semata.
Juga bagaimana menolak kerasnya lembaga ini untuk di periksa dan di audit
aliran dana. Sebenernya kalau jadi umat yang baik harus mendukung lembaga yang
bersih, dan mendukung untuk mengaudit lembaga agama ini. Karena uang atau
apapun itu untuk kepentingan umat dan mensejahterakan umat, tagline nya
biasanya gitu kalau meminta sumbangan atau ngumpulin dana.
Yaa sudahlah semoga
apa yang di katakana oleh Tan Malaka benar adanya, karena negeri ini lama
sekali enggak terbentur. Dan semoga memang “terbentur…terbentur… terbentuk”
Dan saatnya
membenturkan bubuk kopi dan air panas, serta selinting tembakau untuk
dibenturkan dengan api….
Nikmat mana
yang kau dustakan…..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar