Selasa, 25 Oktober 2016

Semoga memang Indonesia sedang “terbentur…terbentur…terbentuk”

Negeri ini memang istimewa sekali masyarakatnya, pemerintahannya juga medianya. Baik media social, televise ataupun cetaknya. Tapi memang sangat terlihat di media social dan televise sih, bagaimana masyarakat ini berfikir dan terbentuk pola pikirnya. Sebenernya aku percaya tentang apa kata pahlawan bangsa ini “terbentur, terbentur, lalu terbentuk” Tan Malaka. Walaupun orang seperti dia belum masuk kedalam seri pahlawan Indonesia setahuku. Atau mungkin sudah yaa… hahaha aku yang gak update. sebenarnya saat ini masih dalam positive think aja sama perkembangan Indonesia.
Kita di benturkan dengan berbagai keadaan yang tejadi di social media ataupun secara rill yang terjadi dilapangan. Pro kontra yang terjadi sangat asik untuk di baca dan dilihat, namun sangat sedih sebenernya kalau dirasakan. Contohnya adalah tentang surat al-maidah ayat 51 yang booming karena di ucapkan oleh seorang ahok dan dipotong videonya oleh orang gak penting, lalu menjadi viral karena potongan video dan kekurangan pemahaman Bahasa yang baik dari berbagai kalangan. Karena penggunaan Bahasa “jangan mau dibohongi  sama orang dengan mengunakan surat al maidah ayat 51” sama “jangan mau di bohongi sama surat al maidah ayat 51” tentu beda kan maknanya ?? kalau yang lulus smp aja pasti tahu masalah ini.
Cuma pastinya ada mungkin yang gak lulus Tk atau SD pun bolos dan gak diterima di smp manapun jadi pemahamnya lain. Bisa juga karena belajar membacanya otodidak, sering dan banyak orang yang seperti ini. Berpendirian apa yang di pahaminya adalah kebenaran mutlak yang harus diperjuangkan karena berasal dari pengalaman dia belajar membaca. Belum juga ketika para orang-orang yang ngaku ustadz atau ulama tertangkap karena berbagai kasus. Maaf karena memang tampilannya seperti ustadz-ustadz dan ulama-ulama yang ada di tv, dimas kanjeng, Aa Gatot, dll. Mereka menggunakan ayat-ayat untuk menipu dan mengelabuhi korban-korbanya. Untuk memenuhi nafsu-nafsu bejat mereka dengan menggunakan untaian ayat-ayat dan suara merdu kalem, kadang marah-marah kalau ada yang gak sepaham. Gak ada yang berteriak jihad ataupun apa, untuk menumpas orang-orang seperti ini, padahal menurut yang saya baca “dajjal muncul dimana yang benar itu di bilang salah, dan yang salah itu kebenaran yang diagungkan”
Atau taktik salah satu televise nasional yang menyiarkan berulang-ulang dan setiap hari lagu mars partainya. Walaupun memang setiap televisie swasta negeri ini penuh dengan kepentingan politik, namun apa perlu mencuci otak bangsa ini dengan lagu itu? Dulu waktu kita kecil akan terngiang lagu garuda Pancasila karena itu akan muncul di televise. Nah apakah kita bisa membandingkan lagu garuda Pancasila itu selevel dengan lagu mars partai tersebut. Serta setiap televise yang penuh dengan kepentingan pemberitaannya, yang harus selaras dengan partai yang punya stasiun tv nya. Apa iya setiap masyarakat harus beli atau langganan tv kabel sehingga bisa menjauhi hal-hal seperti ini. Salah satu pemilik partai ini sadar tentang taktik orde baru, masih ingat garuda Pancasila yang selalu di putar di tv, atau laporan khusus, atau mentri penerangan yang menerangkan harga cabe. Nah anak yang lahiran tahun 2000 an ini akan mengingat lagu itu ketika mereka dewasa nanti.
Pemberitaan media online yang begitu dituntut kecepatan tinggi dan selalu update memberitakan hal yang baru. Mungkin juga mempengaruhi isi berita yang disajikanya, misal berita tentang presiden bawa payung aja ada beberapa versi pemberitaan, tetang presiden yang mandiri, presiden memayungi gubernur papua, presiden yang tak mau dilayani ajudan, presiden pencitraan dll. Cuma membahas tentang presiden membawa payung. Bukan tentang pembangkit listrik yang sudah terbangun dan memulai pembangunan tahap berikutnya, ada sih Cuma beberapa saja. Gak seheboh berita anggota dewan yang memandang tentang pencitraan ampe bikin sajak segala. Sebenernya itu benturan juga kalau kita lihat secara waras dan tidak berbau sentiment atau emosional.
Presiden yang sedang meresmikan juga bekerja mengecek semua hal yang sudah terbangun serta mengecek pembangunan selanjutnya, dipadupadankan dengan salah satu wakil rakyat yang berhasil membuat sajak untuk sang presiden. Jika dilihat nya seperti halnya 10 th dan berhasil membuat banyak album, dan 2 tahun berhasil bikin bbm 1 harga seluruh Indonesia. Disisi ini saya yakin Tuhan ada dan masih sayang dengan negeri ini dengan menunjukan kejadian ini, tinggal manusianya yang ada di negeri ini mau gak melihat dan memahami secara waras saja.
Seperti hal nya Tuhan menunjukan kepada manusia di negeri ini tetang adanya manusia-manusia yang berkedok agama untuk mengeruk keuntungan seperti yang saya sebut diatas. Berbenturan dengan para pemuka agama yang benar-benar belajar agama dan menyampaikan kebeneran agama. Juga Tuhan menunjukan bagaimana orang yang terkenal karena televise dan media serta baru kemarin belajar agama lebih dipercaya ketimbang orang-orang yang belajar agama bertahun-tahun bahkan begelar Profesor di bidang agama.
Juga Tuhan sayang bangsa ini, dimana seorang anggota lembaga majelis agama di negeri ini begitu membela seseorang yang menggunakan agama demi keuntungan pribadi semata. Juga bagaimana menolak kerasnya lembaga ini untuk di periksa dan di audit aliran dana. Sebenernya kalau jadi umat yang baik harus mendukung lembaga yang bersih, dan mendukung untuk mengaudit lembaga agama ini. Karena uang atau apapun itu untuk kepentingan umat dan mensejahterakan umat, tagline nya biasanya gitu kalau meminta sumbangan atau ngumpulin dana.
Yaa sudahlah semoga apa yang di katakana oleh Tan Malaka benar adanya, karena negeri ini lama sekali enggak terbentur. Dan semoga memang “terbentur…terbentur… terbentuk”
Dan saatnya membenturkan bubuk kopi dan air panas, serta selinting tembakau untuk dibenturkan dengan api….

Nikmat mana yang kau dustakan…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar