Pada sebuah
malam, ada pemuda berdoa bersimpuh dikamarya. Memandang tokoh pemuka agama yang
fotonya terpampang di tembok kamarnya, bak seorang superhero idolanya. Buku2
lusuh bahkan kitab suci yang bedebu tesusun rapi di atas lemarinya, mungkin
karena sekarang lebih suka mendengarkan daripada membaca atau mencari tahu. Dia
dulunya pekerja yang rajin walau hanya sebagai OB di kantor swasta, namun
panggilan jiwanya menuntutnya untuk keluar.
Janji-janji surga menuntunya kedalam keyakinannya tentang lebih pentingnya
surga dari kehidupan duniawinya. Rumah kontrakan yang sudah nunggak 2 bulan pun
itu kepentingan duniawi yang harus disingkirkan. Berbekal baju putih yang
modelnya bak baju tentara yang siap berperang di medan laga. Duduk berimpuh
memandang foto tadi dan baju putih tentara, ia berdoa dengan khusuk.
Tuhan ijinkan
aku untuk menuju medan perang mu, akan ku bela agama Mu dan diriMu di dunia
ini. Karena janji mu akan siapa yang membela agama mu maka surga tempatnya, dan
Mulia disisi Mu. Karena kata pemuka agama idola ku ini adalah waktunya untuk
berjuang demi agamaMU. Tuhan telah kurelakan melepas pekerjaan ku untuk
berjuang dijalan mu. Setiap berjuang kuteriakan nama mu dijalanan. Tidak lupa
membuat mereka yang melihat merasa kami adalah pejuang yang serius berjuang di
jalan mu. Tumbuhan ciptaan mu yang menghalangi kami pun kami singkirkan, karena
tumbuhan tidak berjuang dijalan mu malah menghalagi jalan ku. Ku kencingi
mereka karena waktu ku sangat berharga, hingga tidak ada waktu untuk kencing di
tempat yang benar.
Tuhan akan ku
bela dirimu, sehingga kamu tak perlu capek-capek turun kedunia hanya untuk
menghukum 1 orang. Oiya pemuka agama idola ku udah bilang kewakil yang ada di
parlemen, wakilin aku di pemerintahan namun apa kenal aku. Yang penting mereka setipe dengan pemuka
agama ku, yang jadi panutan dan idola ku. Lihat tuhan pakaian ku pakaian perang
yang sudah disiapkan dan di beri gratis oleh idolaku. Pakaian sudah gratis,
berjuang dijalanMu yang ditunjukan pemuka agama ku yang keturunan dari asal
agama mu, lengkap nikmat mana yang kamu dustakan. Apalagi kalau sudah menjelang
siang Tuhan, aroma nasi bungkus atau nasi ayam punya pak colonel itu bak bau
surga yang kau janjikan. Serta bantuan dari idolaku selembar untuk uang rokok
dan bensin selama aku berjuang. Betapa dia sangat berkorban untuk membela Mu
dan Agama Mu.
Lihat mobil
yang dia pakai, lihat sound sytem yang ada, dia benar benar tidak membutuhkan
duniawi. Dia ahli surga mu, dan sosok yang menjadi panutan serta idola ku.
Lihat saat dia marah-marah berapi-api seolah tiket surga dia yang pegang dan
untunglah aku berada di dalam kelompok ini. Jadi bisa kebagiian tiket surga mu
yang kamu janjikan bagi para pejuang mu. Lihat baju putihnya, perutnya, cara
dia berjalan itu laksana pejuang yang dengan penuh kesombongan dan yakin akan
kemenangan. Membuatku percaya bahwa perjuangan ini dalam posisi menang dan
surga sudah di depan mata.
Udah dulu ya
Tuhan doa ku, semoga perjuanganku membela Mu dan agamaMu menuju kemenangan. Dan
ingat yaa Tuhan, kan aku sudah berjuang nih jangan lupa tepatin janji surga Mu.
Kalau gak nanti kamu tak gugat bareng ama gugatan kebaran idolaku yang mau
menggugatmu pas calonnya gak kepilih.
Aku dah ngantuk Tuhan, perjuangan juga butuh Istirahat karena yaa kopi
masih sih tapi tanpa gula apalah daya. Semoga besok sehabis berjuang dapat
lumayan bisa beli gula dan mie instant, aroma mie instant itu aroma surga mu
juga. Seperti perjuangan ini, buka bumbunya rebus mie nya lalu setalah itu,
tiriskan aduk-aduk dan nikmati surgaaa. Dan pemuda itu pun tertidur memandangi
idolanya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar