Kamis, 03 November 2016

malam jum'at 3 November....

Pada sebuah malam, ada pemuda berdoa bersimpuh dikamarya. Memandang tokoh pemuka agama yang fotonya terpampang di tembok kamarnya, bak seorang superhero idolanya. Buku2 lusuh bahkan kitab suci yang bedebu tesusun rapi di atas lemarinya, mungkin karena sekarang lebih suka mendengarkan daripada membaca atau mencari tahu. Dia dulunya pekerja yang rajin walau hanya sebagai OB di kantor swasta, namun panggilan jiwanya menuntutnya untuk keluar.  Janji-janji surga menuntunya kedalam keyakinannya tentang lebih pentingnya surga dari kehidupan duniawinya. Rumah kontrakan yang sudah nunggak 2 bulan pun itu kepentingan duniawi yang harus disingkirkan. Berbekal baju putih yang modelnya bak baju tentara yang siap berperang di medan laga. Duduk berimpuh memandang foto tadi dan baju putih tentara, ia berdoa dengan khusuk.
Tuhan ijinkan aku untuk menuju medan perang mu, akan ku bela agama Mu dan diriMu di dunia ini. Karena janji mu akan siapa yang membela agama mu maka surga tempatnya, dan Mulia disisi Mu. Karena kata pemuka agama idola ku ini adalah waktunya untuk berjuang demi agamaMU. Tuhan telah kurelakan melepas pekerjaan ku untuk berjuang dijalan mu. Setiap berjuang kuteriakan nama mu dijalanan. Tidak lupa membuat mereka yang melihat merasa kami adalah pejuang yang serius berjuang di jalan mu. Tumbuhan ciptaan mu yang menghalangi kami pun kami singkirkan, karena tumbuhan tidak berjuang dijalan mu malah menghalagi jalan ku. Ku kencingi mereka karena waktu ku sangat berharga, hingga tidak ada waktu untuk kencing di tempat yang benar.
Tuhan akan ku bela dirimu, sehingga kamu tak perlu capek-capek turun kedunia hanya untuk menghukum 1 orang. Oiya pemuka agama idola ku udah bilang kewakil yang ada di parlemen, wakilin aku di pemerintahan namun apa kenal aku.  Yang penting mereka setipe dengan pemuka agama ku, yang jadi panutan dan idola ku. Lihat tuhan pakaian ku pakaian perang yang sudah disiapkan dan di beri gratis oleh idolaku. Pakaian sudah gratis, berjuang dijalanMu yang ditunjukan pemuka agama ku yang keturunan dari asal agama mu, lengkap nikmat mana yang kamu dustakan. Apalagi kalau sudah menjelang siang Tuhan, aroma nasi bungkus atau nasi ayam punya pak colonel itu bak bau surga yang kau janjikan. Serta bantuan dari idolaku selembar untuk uang rokok dan bensin selama aku berjuang. Betapa dia sangat berkorban untuk membela Mu dan Agama Mu.
Lihat mobil yang dia pakai, lihat sound sytem yang ada, dia benar benar tidak membutuhkan duniawi. Dia ahli surga mu, dan sosok yang menjadi panutan serta idola ku. Lihat saat dia marah-marah berapi-api seolah tiket surga dia yang pegang dan untunglah aku berada di dalam kelompok ini. Jadi bisa kebagiian tiket surga mu yang kamu janjikan bagi para pejuang mu. Lihat baju putihnya, perutnya, cara dia berjalan itu laksana pejuang yang dengan penuh kesombongan dan yakin akan kemenangan. Membuatku percaya bahwa perjuangan ini dalam posisi menang dan surga sudah di depan mata.

Udah dulu ya Tuhan doa ku, semoga perjuanganku membela Mu dan agamaMu menuju kemenangan. Dan ingat yaa Tuhan, kan aku sudah berjuang nih jangan lupa tepatin janji surga Mu. Kalau gak nanti kamu tak gugat bareng ama gugatan kebaran idolaku yang mau menggugatmu pas calonnya gak kepilih.  Aku dah ngantuk Tuhan, perjuangan juga butuh Istirahat karena yaa kopi masih sih tapi tanpa gula apalah daya. Semoga besok sehabis berjuang dapat lumayan bisa beli gula dan mie instant, aroma mie instant itu aroma surga mu juga. Seperti perjuangan ini, buka bumbunya rebus mie nya lalu setalah itu, tiriskan aduk-aduk dan nikmati surgaaa.  Dan pemuda itu pun tertidur memandangi idolanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar