Gerbang sekolah sudah mulai tertutup rapat, bel tanda masuk
menjadi penanda untuk petugas keamanan menutup gerbang. Pemuda tambun berjalan
santai dengan celana sobek berseragam SMU, hingga di depan gerbang sekolah yang
sudah tertutup. Lalu ia bertanya “aku bisa masuk gak, pak supri” menanyakan
kepada satpam yang menjaga gerbang. “kamu itu lho telat lagi, telat lagi, bisa
tapi harus ke BP” jawab si satpam. Pemuda tambun itu mengiyakan untuk
persyaratan itu, untuk meminta surat keterlambatan. “makasih pak, besok kalau
telat lagi tak bawa ke puskesmas… kalau gak ya gugurin hahaha…” jawab si pemuda
itu sambil tertawa. Sampai diruang BP ia mengetuk pintu, lalu masuk untuk
meminta surat ijin mengikuti pelajaran hari itu. Sang guru adalah guru BP
sekaligus guru Agama, menatap dengan sebelah mata sambil tersenyum jahat.
Beranjak dari tempat duduknya lalu mengamati penampilan
pemuda tambun nan lusuh. “kamu itu memang murid yang tak bisa diatur,
berkali-kali terlambat, dan gak pernah rapi… kalau dah lulus mau jadi apa
Preman pasar, atau mau jadi gelandangan,… “ lalu murid menjawab “ mau jadi apa
itu lihat besok aja pak” …. Membuat gurunya semakin marah dan emosi, “belum
selesai ngomong dah berani motong dan jawab kamu, kamu bilang lihat besok…
lulus aja belum tentu kamu, gak berguna memalukan sekolah dan keluarga,
penampilan gak jelas, selalu terlambat, bapak ragu kamu bisa lulus, kalaupun
lulus ya paling nilai terendah dan mentok cuci piring di warung padang…..” dan
berbagai nasehat yang tiada berjeda dikeluarkan sang guru…
“ sekarang beri alasan saya untuk memberikan mu surat, agar
kamu bisa masuk ke kelas mu….” Tanya sang guru dengan nada meremehkan. Sang murid
menjawab dengan menunduk, “sekarang saya boleh jawab nih pak…”. Sambil mengangguk
pelan dan menatap muka si murid. “ gini pak, saya cuman meminta ijin untuk
memasuki kelas dan ikut pelajaran… saya juga udah menanggung konsekunsi dari
keterlambatan saya, yaitu saya udah kehilangan pelajaran di jam awal ini,
apakah saya juga harus di hukum dengan kehilangan jam pelajaran berikutnya…
penampilan saya menentukan otak dan masa depan saya juga kah, sehingga
penampilan saya harus dihukum karena gak seragam dengan yang lain… apakah saya
juga salah sepenuhnya dan gak pantas bersekolah jika tidak seragam… padahal
saya berseragam bedanya Cuma lusuh…” jawab sang murid dengan menunduk. Sembari menulis
diselembar kertas sambil menjawab, “kamu itu ada aja jawabannya, kamu merasa
ini sekolahan bapak mu apa, seenak nya Makai seragam, gak rapi, telat, dan
banyak lagi… dan kamu merasa kamu udah nanggung konsekuensi dari gak ikut
pelajaran pertama gitu, enak banget kamu ngomongnya, tahu apa kamu akan
konsekuensi, kamu itu masih bocah ya bisa aja kamu tak suruh pulang… namanya
sekolah ya harus seragam dan rapi juga berprestasi bisa membanggakan sekolah,
orangtua dan kamu sendiri… “ jawab guru sembari menandatangi surat ijin.
Waktu terus berganti, dan masih saja si pemuda tambun
menjadi murid yang langgangan ke ruang BP untuk meminta surat. Dan dimasa akhir
sekolah dia mendapatkan juara pertama tingkat sekolah karena mendapat nilai
tertinggi dari hasil ujiannya. Saat perpisahan ia mencium tangan gurunya dan
mengucapkan terimakasih atas kesabaran serta seluruh pendidikan yang di berikan
oleh gurunya. Guru BP pun hanya senyum sambil menjabat tangan si pemuda tambun.
Waktu selang berganti si pemuda terlihat memakai pakaian
pelayan kafe oleh sang guru. Senyum itu muncul dan memandang sebelah mata lagi
seperti kata-kata yang diucapkannya menjadi nyata. Mungkin kabar itu lalu
menyebar di sekolah, keberuntungan yang membuat anak itu menjadi juara sekolah.
Hingga pada satu tahun setelah kelulusan murid tambun kembali lagi untuk
meminta cap dan tanda tangan dari kepala sekolah. Pengumuman besar terpampang
di papan sekolah, namanya tercetak tebal di terima di sebuah perguruan tinggi
negeri di kota itu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar