Selasa, 17 Januari 2017

Seragam dan masa depan

Gerbang sekolah sudah mulai tertutup rapat, bel tanda masuk menjadi penanda untuk petugas keamanan menutup gerbang. Pemuda tambun berjalan santai dengan celana sobek berseragam SMU, hingga di depan gerbang sekolah yang sudah tertutup. Lalu ia bertanya “aku bisa masuk gak, pak supri” menanyakan kepada satpam yang menjaga gerbang. “kamu itu lho telat lagi, telat lagi, bisa tapi harus ke BP” jawab si satpam. Pemuda tambun itu mengiyakan untuk persyaratan itu, untuk meminta surat keterlambatan. “makasih pak, besok kalau telat lagi tak bawa ke puskesmas… kalau gak ya gugurin hahaha…” jawab si pemuda itu sambil tertawa. Sampai diruang BP ia mengetuk pintu, lalu masuk untuk meminta surat ijin mengikuti pelajaran hari itu. Sang guru adalah guru BP sekaligus guru Agama, menatap dengan sebelah mata sambil tersenyum  jahat.
Beranjak dari tempat duduknya lalu mengamati penampilan pemuda tambun nan lusuh. “kamu itu memang murid yang tak bisa diatur, berkali-kali terlambat, dan gak pernah rapi… kalau dah lulus mau jadi apa Preman pasar, atau mau jadi gelandangan,… “ lalu murid menjawab “ mau jadi apa itu lihat besok aja pak” …. Membuat gurunya semakin marah dan emosi, “belum selesai ngomong dah berani motong dan jawab kamu, kamu bilang lihat besok… lulus aja belum tentu kamu, gak berguna memalukan sekolah dan keluarga, penampilan gak jelas, selalu terlambat, bapak ragu kamu bisa lulus, kalaupun lulus ya paling nilai terendah dan mentok cuci piring di warung padang…..” dan berbagai nasehat yang tiada berjeda dikeluarkan sang guru…
“ sekarang beri alasan saya untuk memberikan mu surat, agar kamu bisa masuk ke kelas mu….” Tanya sang guru dengan nada meremehkan. Sang murid menjawab dengan menunduk, “sekarang saya boleh jawab nih pak…”. Sambil mengangguk pelan dan menatap muka si murid. “ gini pak, saya cuman meminta ijin untuk memasuki kelas dan ikut pelajaran… saya juga udah menanggung konsekunsi dari keterlambatan saya, yaitu saya udah kehilangan pelajaran di jam awal ini, apakah saya juga harus di hukum dengan kehilangan jam pelajaran berikutnya… penampilan saya menentukan otak dan masa depan saya juga kah, sehingga penampilan saya harus dihukum karena gak seragam dengan yang lain… apakah saya juga salah sepenuhnya dan gak pantas bersekolah jika tidak seragam… padahal saya berseragam bedanya Cuma lusuh…” jawab sang murid dengan menunduk. Sembari menulis diselembar kertas sambil menjawab, “kamu itu ada aja jawabannya, kamu merasa ini sekolahan bapak mu apa, seenak nya Makai seragam, gak rapi, telat, dan banyak lagi… dan kamu merasa kamu udah nanggung konsekuensi dari gak ikut pelajaran pertama gitu, enak banget kamu ngomongnya, tahu apa kamu akan konsekuensi, kamu itu masih bocah ya bisa aja kamu tak suruh pulang… namanya sekolah ya harus seragam dan rapi juga berprestasi bisa membanggakan sekolah, orangtua dan kamu sendiri… “ jawab guru sembari menandatangi surat ijin.
Waktu terus berganti, dan masih saja si pemuda tambun menjadi murid yang langgangan ke ruang BP untuk meminta surat. Dan dimasa akhir sekolah dia mendapatkan juara pertama tingkat sekolah karena mendapat nilai tertinggi dari hasil ujiannya. Saat perpisahan ia mencium tangan gurunya dan mengucapkan terimakasih atas kesabaran serta seluruh pendidikan yang di berikan oleh gurunya. Guru BP pun hanya senyum sambil menjabat tangan si pemuda tambun.

Waktu selang berganti si pemuda terlihat memakai pakaian pelayan kafe oleh sang guru. Senyum itu muncul dan memandang sebelah mata lagi seperti kata-kata yang diucapkannya menjadi nyata. Mungkin kabar itu lalu menyebar di sekolah, keberuntungan yang membuat anak itu menjadi juara sekolah. Hingga pada satu tahun setelah kelulusan murid tambun kembali lagi untuk meminta cap dan tanda tangan dari kepala sekolah. Pengumuman besar terpampang di papan sekolah, namanya tercetak tebal di terima di sebuah perguruan tinggi negeri di kota itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar