Duduk di selasar rumah sambil
menikmati secangkir kopi, es kopi yang terbuat dari kopi bali. Sambil membaca
social media yang ada gadjet ukuran 5 inchi. Serasa dunia seutuhnya ada disana,
dimana kita bisa melihat berbagai sifat manusia melalui tulisan dan cuitan nya.
Teknologi yang menghubungkan manusia-manusia yang tentu saja saling mengenal,
ataupun tidak saling mengenal. Kejadian berbagai kejadian disana termuat dengan
gamblang. Ya bisa di bilang orang akan menunjukan ekspresinya lewat tulisan,
video, suara dll.
Namun akhir-akhir ini menjadi
sedikit membingungkan, melihat beberapa tulisan status dan tulisan panjang.
Mengidolakan seseorang itu hal yang lumrah, apapun profesi orang itu, baik
pekerja seni, pengusaha, politikus ataupun pemuka agama. Yang menjadi sangat
mengagetkan bagi ku ketika melihat sebuat screen shot status seseorang yang
menganggap salah satu ulama istimewa. Ulama memang sangat istimewa dengan
kemampuan nya dan ilmu yang dia punya, menjadi pelita dan penerang bagi orang-orang.
Berbagai tipe ulama sendiri juga berbeda-beda gaya bagaimana ia menerangkan dan
memberikan ilmu kepada pengikutnya.
Satu hal yang kadang susah untuk
dipahami adalah kebebasan manusia yang lain yang seharusnya setiap orang juga
hargai. Ketika salah seorang dianggap ulama pada sebagian kelompok sedang di
kelompok lain tidak. Walaupun mereka pada satu nama besar sebuah agama,
memaksakan keyakinan atau protes karena tokoh idolanya tidak dianggap ulama
oleh kelompok lain itu yang mengakibatkan gesekan. Padahal mereka berdiri pada
sebuah agama yang sama, tp hak seseorang berguru pada siapapun. Dan hak
seseorang pula menganggap golongan A itu ulama atau golongan B yang ulama.
Yang menjadikan saya menulis hal
ini, sama hal nya ketika saya merasakan ada yang salah ketika masyarakat dan
orang-orang disekitar saya memuja gus dur dengan berlebihan. Pada titik dimana
gus dur di puja masih pada batas nalar yang bisa masuk dalam logika berfikir.
Bahkan beliau itu di posisikan setara dengan wali, yang dimana masih pada
standart bahwa dia manusia biasa. Menurut saya gus dur sebagai seorang kyai
masih memberikan pelajaran dan penerangan bagi setiap pengikutnya dng ranah
yang benar. Pengikut-pengikutnya masih menganggapnya sebagai manusia biasa yang
di berikan kelebihan, yang kelebihannya itu bisa didapatkan manusia yang lain
jika memang mau belajar dan mendalami keilmuannya.
Nah di era saat ini sungguh
sangat takjub ketika ada seorang ulama yang di gambarkan oleh seorang
pengikutnya dengan gambaran berlebihan. Terlahir dari emas dan permata, bukan
dari segumpal tanah dan air mani. Sebuah gambaran yang melebihi dari Nabi
sekalipun, bahkan dalam al-quran gambaran seorang nabi isa dan Muhammad SAW
saja manusia biasa. Dalam pikiran saya pertama kali membaca hal itu adalah
sifat berlebihan yang ada dalam diri pengikutnya yang dengan sangat cintanya,
dia mengambarkan ulama idola adalah ulama yang melebihi manusia biasa. Manusia
dengan system penciptaan yang berbeda dengan manusia lainnya. Dengan sifat
Tuhan yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, tentu saja hal itu mungkin.
Namun jika kita coba memahami
lebih dalam, kecintaan kita terhadap seseorang sehingga sangat dekat melupakan
bahkan mendekati menuhankan orang tersebut itu yang menjadi keliru. Mungkin
tidak menuhankan namun menganggapnya sangat berbeda dan keistimewaan yang
melebihi Nabi-nabi yang didatang kedunia oleh Tuhan. Menurut pendapat saya ada
kesalahan dalam diri sang ulama(idolanya), yang membiarkan dan tidak mencegah
hal ini terjadi. Hal ini seharusnya menjadi tanggung jawab sang ulama untuk
memberikan pengertian dan penerangan terhadap pengikutnya. Pemujaan yang
berlebihan mengakibatkan orang menjadi hilang akal.
Kalimat yang paling sering saya
baca bahwa ulama adalah penyambung lidah nabi, setelah nabi tiada. Nah pada
konteks ini penyambung lidah nabi adalah manusia biasa juga, penerusnya dan
penyampai ajaran-ajarannya. Keistimewaan nya ada di keilmuannya yang menyejukan
dan mebangun keimanan pada Tuhan. Namun mereka tetaplah manusia biasa yang
mungkin bisa salah dan lupa, apakah sampai pada titik dimana mereka adalah
sumber kebenaran mutlak. Nah kalau dalih nya berdasarkan kitab suci dan ajaran
nabi, maka banyak tafsir didalamnya yang seharusnya menjadi kajian. Dan kajian
itu bisa bersifat banyak hal, melalui kepentingan-kepentingan juga. Kalau
kajian yang di gunakan adalah kajian yang hanya dia percaya,serta dikaji
sendiri dan dijadikan kebenaran mutlak, apakah hal ini tidak menjadikan dia
sebagai nabi berikutnya bahkan Tuhan ??
Saya adalah pencari Tuhan, yang masih
belajar setiap agama yang ada di dunia ini yang bisa menjadikan saya menjadi
manusia yang lebih baik. Saya bukan atheist yang tidak mempercayai adanya
Tuhan, saya mencari Tuhan. Dan masih mencari agama mana yang paling baik untuk
diri saya, yang membuat saya membaca dan mempelajari serta mencari tahu agama
atau ajaran yang mendekatkan saya dengan Tuhan. Dalam hal ini saya masih
membutuhkan bimbingan dan pelajaran untuk untuk mempelajarinya.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar