Kamis, 19 Januari 2017

Manusia emas

Duduk di selasar rumah sambil menikmati secangkir kopi, es kopi yang terbuat dari kopi bali. Sambil membaca social media yang ada gadjet ukuran 5 inchi. Serasa dunia seutuhnya ada disana, dimana kita bisa melihat berbagai sifat manusia melalui tulisan dan cuitan nya. Teknologi yang menghubungkan manusia-manusia yang tentu saja saling mengenal, ataupun tidak saling mengenal. Kejadian berbagai kejadian disana termuat dengan gamblang. Ya bisa di bilang orang akan menunjukan ekspresinya lewat tulisan, video, suara dll.
Namun akhir-akhir ini menjadi sedikit membingungkan, melihat beberapa tulisan status dan tulisan panjang. Mengidolakan seseorang itu hal yang lumrah, apapun profesi orang itu, baik pekerja seni, pengusaha, politikus ataupun pemuka agama. Yang menjadi sangat mengagetkan bagi ku ketika melihat sebuat screen shot status seseorang yang menganggap salah satu ulama istimewa. Ulama memang sangat istimewa dengan kemampuan nya dan ilmu yang dia punya, menjadi pelita dan penerang bagi orang-orang. Berbagai tipe ulama sendiri juga berbeda-beda gaya bagaimana ia menerangkan dan memberikan ilmu kepada pengikutnya.
Satu hal yang kadang susah untuk dipahami adalah kebebasan manusia yang lain yang seharusnya setiap orang juga hargai. Ketika salah seorang dianggap ulama pada sebagian kelompok sedang di kelompok lain tidak. Walaupun mereka pada satu nama besar sebuah agama, memaksakan keyakinan atau protes karena tokoh idolanya tidak dianggap ulama oleh kelompok lain itu yang mengakibatkan gesekan. Padahal mereka berdiri pada sebuah agama yang sama, tp hak seseorang berguru pada siapapun. Dan hak seseorang pula menganggap golongan A itu ulama atau golongan B yang ulama.
Yang menjadikan saya menulis hal ini, sama hal nya ketika saya merasakan ada yang salah ketika masyarakat dan orang-orang disekitar saya memuja gus dur dengan berlebihan. Pada titik dimana gus dur di puja masih pada batas nalar yang bisa masuk dalam logika berfikir. Bahkan beliau itu di posisikan setara dengan wali, yang dimana masih pada standart bahwa dia manusia biasa. Menurut saya gus dur sebagai seorang kyai masih memberikan pelajaran dan penerangan bagi setiap pengikutnya dng ranah yang benar. Pengikut-pengikutnya masih menganggapnya sebagai manusia biasa yang di berikan kelebihan, yang kelebihannya itu bisa didapatkan manusia yang lain jika memang mau belajar dan mendalami keilmuannya.
Nah di era saat ini sungguh sangat takjub ketika ada seorang ulama yang di gambarkan oleh seorang pengikutnya dengan gambaran berlebihan. Terlahir dari emas dan permata, bukan dari segumpal tanah dan air mani. Sebuah gambaran yang melebihi dari Nabi sekalipun, bahkan dalam al-quran gambaran seorang nabi isa dan Muhammad SAW saja manusia biasa. Dalam pikiran saya pertama kali membaca hal itu adalah sifat berlebihan yang ada dalam diri pengikutnya yang dengan sangat cintanya, dia mengambarkan ulama idola adalah ulama yang melebihi manusia biasa. Manusia dengan system penciptaan yang berbeda dengan manusia lainnya. Dengan sifat Tuhan yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, tentu saja hal itu mungkin.
Namun jika kita coba memahami lebih dalam, kecintaan kita terhadap seseorang sehingga sangat dekat melupakan bahkan mendekati menuhankan orang tersebut itu yang menjadi keliru. Mungkin tidak menuhankan namun menganggapnya sangat berbeda dan keistimewaan yang melebihi Nabi-nabi yang didatang kedunia oleh Tuhan. Menurut pendapat saya ada kesalahan dalam diri sang ulama(idolanya), yang membiarkan dan tidak mencegah hal ini terjadi. Hal ini seharusnya menjadi tanggung jawab sang ulama untuk memberikan pengertian dan penerangan terhadap pengikutnya. Pemujaan yang berlebihan mengakibatkan orang menjadi hilang akal.
Kalimat yang paling sering saya baca bahwa ulama adalah penyambung lidah nabi, setelah nabi tiada. Nah pada konteks ini penyambung lidah nabi adalah manusia biasa juga, penerusnya dan penyampai ajaran-ajarannya. Keistimewaan nya ada di keilmuannya yang menyejukan dan mebangun keimanan pada Tuhan. Namun mereka tetaplah manusia biasa yang mungkin bisa salah dan lupa, apakah sampai pada titik dimana mereka adalah sumber kebenaran mutlak. Nah kalau dalih nya berdasarkan kitab suci dan ajaran nabi, maka banyak tafsir didalamnya yang seharusnya menjadi kajian. Dan kajian itu bisa bersifat banyak hal, melalui kepentingan-kepentingan juga. Kalau kajian yang di gunakan adalah kajian yang hanya dia percaya,serta dikaji sendiri dan dijadikan kebenaran mutlak, apakah hal ini tidak menjadikan dia sebagai nabi berikutnya bahkan Tuhan ??
Saya adalah pencari Tuhan, yang masih belajar setiap agama yang ada di dunia ini yang bisa menjadikan saya menjadi manusia yang lebih baik. Saya bukan atheist yang tidak mempercayai adanya Tuhan, saya mencari Tuhan. Dan masih mencari agama mana yang paling baik untuk diri saya, yang membuat saya membaca dan mempelajari serta mencari tahu agama atau ajaran yang mendekatkan saya dengan Tuhan. Dalam hal ini saya masih membutuhkan bimbingan dan pelajaran untuk untuk mempelajarinya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar